Hari ini, dua puluh enam tahun, Maluku Utara berdiri di antara gelombang seperti perahu tua yang dicat ulang setiap musim angin timur.
Bendera pelangi berkibar di kantor-kantor, suara gaduh menyiarkan janji, sementara di bawah sana, tanah lembab, hutan menjerit tanpa bahasa.

Kata laporan resmi, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara melesat tinggi, 32,09%, angka yang disanjung dalam rapat dan spanduk pembangunan. Angka yang menari di kertas laporan, tapi tak menumbuhkan padi di ladang-ladang kering, tak menyejukkan napas nelayan yang kembali dengan jala kosong, tak mengembalikan pohon-pohon yang ditebang untuk nikel. Angka pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi ketimpangan masih menganga lebar.

Di meja pejabat, ekonomi tumbuh.
Tapi di tubuh rakyat, luka ikut bertambah.
Air sungai menguning seperti emas palsu, anak-anak mandi di dalamnya, sementara perusahaan berbicara tentang “keberlanjutan”
dengan lidah beracun dan laporan tahunan berwarna hijau lumut.

Baca Juga:Bukan Rumah

Dua puluh enam tahun bukan waktu singkat, ia cukup lama untuk mengingat bagaimana rempah pernah jadi bahasa dunia, bagaimana laut menyimpan rahasia leluhur, dan bagaimana semua itu kini dijual dalam kontrak investasi yang ditandatangani tanpa doa, tanpa restu, tanpa malu.

Di ujung Selat Capalulu dan Pulau Morotai suara azan masih naik ke langit, tapi di Halmahera, tanah nan suci berubah jadi tambang.
Gunung-gunung dipangkas seperti rambut tahanan, dan sungai-sungai tak lagi mengalir, hanya meneteskan duka.
Burung bidadari tak lagi menari, ia terbang jauh, membawa kabar buruk : “Tanahmu, tanah kita, telah digadai, lautmu, laut kita, dijual, dan masa depanmu, masa depan kita, ditukar dengan target pertumbuhan.”

Tiga puluh dua koma nol sembilan persen, angka yang berkilau di laporan pusat, namun di pasar rakyat Maluku Utara, harga ikan naik, harga beras naik, harga hidup naik. Sedang yang turun hanyalah harapan, dan pohon-pohon tua yang tumbang dengan suara lirih
seperti doa yang tak sampai, tak mengakar.

Dua puluh enam tahun Maluku Utara, usia yang seharusnya matang, tapi kita masih mencari arti dari “sejahtera.”
Jalan-jalan dibuka ke tambang, bukan ke sekolah atau rumah sakit.
Orang kampung dipindahkan, hanya karena tanahnya mengandung nikel.
Mereka bilang, ini kemajuan, tapi mengapa terasa seperti pengusiran yang diulang- ulang?

O, Maluku Utara, engkau berdiri di peta seperti mutiara, tapi di dekatmu, laut mulai berbau asam, ikan-ikan mati di tepian, dan deru nikel menutup langit dengan debu abu-abu.

Siapa yang menghitung angka 32,09% itu?
Apakah ia tahu suara ibu-ibu yang kehilangan sumur?
Apakah ia tahu keringat petani yang tak bisa lagi menanam karena tanahnya berubah jadi lumpur merah tambang?
Pertumbuhan, katanya, padahal yang tumbuh hanya bangunan, sementara nurani perlahan mengering di bawah panas investasi.

Dua puluh enam tahun Maluku Utara, kita masih belajar membedakan antara “pembangunan” dan “perampasan.” Antara “pertumbuhan” dan “penghancuran.” Antara “kemajuan” dan “ketiadaan.”

Di alun-alun, lagu daerah dinyanyikan dengan nyaring, anak-anak menari dengan senyum polos,
tak tahu bahwa tanah tempat mereka berpijak perlahan digali, diangkut, dijual, hingga tak tersisa jejak langkah sejarah.

Tapi jangan padam, Maluku Utara.
Masih ada yang mencintaimu dengan cara sederhana, yang menanam kembali pohon di halaman rumah,
yang menolak menjual tanah warisan, yang masih percaya bahwa kemakmuran sejati bukan datang dari tambang, melainkan dari laut yang jernih, tanah yang subur, dan manusia yang tak serakah.

Dua puluh enam tahun Maluku Utara, semoga di tahun depan nanti, engkau dapat belajar dari luka-lukamu sendiri : bahwa kemajuan tak harus menghancurkan, bahwa pembangunan sejati tak butuh angka tinggi, cukup dengan hati yang tak berkhianat pada bumi yang kita pijak.[]

(Ternate, 12 Oktober 2025
Pukul 24.00 WIT)