Cinta membawa jiwa untuk mengenal siapa yang di kehendaki untuk mencintai dan dicintai, namun kadang cinta membawa sebuah tantangan untuk menyiksa batin. Sebab cinta melahirkan rindu tanpa batas, tanpa arah, dan tanpa rencana. Rindu adalah puncak dari kecintaan yang hakiki.

Cinta bukan kata, tapi cinta adalah hati. Kenangan ini kan kutumpah dalam genangan tintah untuk menjadi sebuah kata pengantar, satu perenggan, dalam satu bab. Lalu ku lukisseestetik marmer. Tapi, ruang untuk pulang masih bertahan di pelabuhan yang  sedang ia berlabu. Aku menulis karena aku rindu.

Hari ini, harapan itu berkelana bersama rindu yang membawajiwa ke dalam ruang hampa, menumbuhkan cinta tanpa sebuah harapan yang pasti. Sebab kasih dirinduinya telah pergi, tidak hilang, hanya saja dia masih berada di tempat biasa. Aku rindu kasih, rindu suaramu, rindu candaanmu. Hadirmu ibarat laut tanpa suara, yang membawa bisikan dalam diam.

Rindu menutup gerbang khilafku, sehingga tanpa sadar kerap menjadi bunga ketika lebah membutuhkan madu. Hatiku ku menjadi istana perbudakan dalam cinta, ikhlasku  dimanfaatkan tanpa balasan. Gerbang surgaku pergi tanpa kata, sesekali fikirku mengatakan, aku adalah “fakir kasih”. Nama-Mu nyaring bersama rindu dalam fikiranku, lalu pergi meninggal harapan. Sekarang hanya bisa berbisik dengan do’a melalui jalur langit, tidak takut, tapi tak mengulangi hal yang sama. Sebab cinta dibalas dengan luka itu sakit, dan janji di balas dengan pengkhianatan.

Cintaku tumbuh melalui sebuah pandangan dan senyuman manis oleh seorang gadis, Safira namanya. Selama perjalanan KKS, saya sering merenung bukan karena cinta tapi soal hidup dan perjalanan panjang. Renungan itu kerap terjeda oleh kehadiran teman-teman untuk berkumpul, sepiku hilang berganti dengan sinaran mentari ketika ia berada di sampingku lalu menatap dengan senyuman manja. Entah ia mencintaiku atau sekedar mencari perlindungan untuk mengisi ruang sepinya. Di tempat itu (KKS) hatiku mulai mencintai gadis itu, melalui sebuah pesan ku nyatakan  cinta kepadanya, namun ia menolak dengan secara halus, harapan mulai memudar tapi tak menyerah.

Suatu hari, sahabatku menyusun rencana untuk meperkenalkan saya dengan seorang gadis agar lebih dekat ke hubungan percintaan. Kabar itu di dengar oleh-Nya, lalu dalam sebuah pesan WhatsApp ia mengatakan “ngana laki-laki tera jelas (kamu lelaki nggak jelas), ia lanjut: katanya ngana bilang ngana peperasaan tara bisa move on dari kita ( perasaanmu nggak bisa move on untuk kita)”. Karena hal itu, saya mencari waktu agar bisa menjelaskan semuanya, ketika bersama saya menjelaskan secara sturuktur agar ia paham, di sepanjang kataku ia hanya tersenyum sambil menapat diriku. Namun semua itu hanyalah persinggahan ketika hati membutuh ketenangan sementara.

Saya tak berkata, ketika ia menyapa dengan kasih. Hati tak gemetar namun suaranya mengembalikan kenangan sewaktu bersama. Tuhan, fikiranku mulai kacau entah kenapa tiba-tiba rindu menyapa keheningan ruang sepiku, jiwa gemetar seakan ada yang mengetuk tanpa menyapa. Saya tenang, bukan karena pengecut tapi sengaja diam, agar pikiran lebih tenang dan tak kembali mengingat kenangan perih itu.

Sakit, ketika membuka hati kepada seorang pecinta palsu, saya mengingat pesan para sufistik cinta, saya meminjam sekedar pengingat bahwa tanpa cinta manusia gagal menempuh perjalanan moral.

Menurut Buya Hamka (1939), “cinta itu bukan melemahkan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa, tapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan. Tapi Buya Hamka juga melanjutkan, hati-hati dengan cinta. Karena cinta dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu”.  

Pesan Buya Hamka sangat jelas, ketika cinta disambut para pecinta palsu maka seseorang menjadi pelayan baginya.

Saya hanya mengucapkan terimaksih sudah hadir dalam hidupku, kau adalah waktu, hadirmu membawa cerita dan cinta, walau tak sesuai harapan, namun ini menjadi satu kesanpenting. Bahwa berharap itu adalah sebuah penyakit sangat berbisa.

Saya mengingat satu pesan katanya, “kita saling menjaga hati” kalimat itu sering menjadi bahasa paling indah dalam fikiranku, “jangan cuek, jangan menjauh, aku nyaman sama kamu” ujarnya kembali dalam satu pesan WhatsApp. Di sebuah pulau, harapan itu tumbuh bersama kenangan, tanpa tantangan, tapi kata itu penuh dengan ilusi.

Di pulau itu (pulau imam) janji dan harapan terucap oleh dua insan, tanpa rintangan yang membatasi kata. Tapi semua ituhanyalah bahasa sunyi dan janji dibalik harapan.

Mentariku pergi tanpa meninggalkan jejak cahayanya, malam kembali menjadi bahasa paling indah ketika sunyi menyapa. Harapan memudar bersama rindu, aku bingung apa sebenarnya salahku, aku disiruh menjauh tak menolak, namun ia sendiri kembali memberi harapan bahwa “jangan pergi”.

Aku jatuh bukan karena berharap, tapi janji, effort, yang kadang menundukan hati dan pandanganku.

Sebab: aku bukan Musa, yang ingin menatap indah kesih di balik hizabnya, aku bukan Yusuf, yang mampu menundukkan kaum wanita dengan parasnya, aku bukan Maulana Jalaluddin Rumi, yang mampu menundukkan dunia dengan syairnya. Aku hanyalah pengembala yang kadang jatuh karena pandangan kaum hawa. Seperti di katakan seoramg penyair islam Ibnu Arabi, “yang terkejam itu mata wanita, jika ia melihat kepadamu dengan tatapan matanya, kamu akan kehilangan segalanya”.

Syair tersebut, mengingatkan kepada kisahku, kerap gagal dalam pandangannya. Senyum serta tatapannya, acapkali bahasanya membawa harapan dalam diam.

Aku pernah berada di posisi bersaing dengan teman sendiri, diriku menjauh tak mendekat. Sampai salah seorang sahabatku pernah mengatakan “aku bodoh” karena tak peka. Ternyata pertarungan sesungguhnya tak berada diantara kami, “tapi orang yang berkhianat dalam cinta”.

Mungkin kesalahanku adalah keinginan untuk memiliki, bukan memberi. Seperti yang di ceritakan Joni dan Revy dalam buku Kalam Cinta dari Tuhan (2007:72-73). Cinta itu karunia Tuhan yang paling tinggi, kita harus bersyukur harus memilikinya. Cinta itu bukan kata. Cinta adalah hati. Terwujud dengan memberi bukan keinginan untuk memiliki. Memberi yang baik kepada kehidupan khususnya kepada orang yang nyata bagian dari hidup kita.

Sampai sini aku paham dan berusaha untuk ikhlas. Aku memcintainya tapi ia menginginka harapan. Lantas apa yang harus kusampaikan kepada cinta? Biarlah aku bersimpuh melalui ilusi naluriku, biarlah ku bawa rindu ini pergi bersama luka dan cerita di qalbuku, “aku rindu, tapi aku takut”.

Mungkin dunia terlalu kejam bagi seorang priamenginginkan cinta, itu yang disebut “amorfati”. Sekarang hanya sunyi dan ilusi, tentang sebuah nama yang membeku dalam harapanku. Aku tak membenci tapi menjauh dari kebohongan pernah ada. Aku meminjam sebuah syair dari seorang penyair Maulana Jalaludin Rumi, bukan untuk mempercantik tulisan ini tapi untuk mengingat bahwa cinta itu selalu ada, bahwasanya “ mengapa aku harus membenci duri sedangkan ia adalah bagian dari setangkai mawar yang kucintai”, (Rumi (1258-1273). Mahmoud Darwish(1941–2008), menyebut dalam syairnya, “kulatih hati dengan cinta. Agar mampu menampung mawar beserta durinya, kita harus sadar,. Bahwa dalam hal mencintai harus berani menanggung suka dan dukanya”.

Kedua syair tersebut menyadarkan bahwa aku sendiri gagal, aku rapu dalam cinta. Aku cinta dan rindu, tapi kadang kata terjeda oleh waktu yang mengajariku tentang teruslah berjalan. Diriku goblok mengenal rabies, yang mengaku kasih tapi berisik dalam mistik.

Sekarang hanya diam dan menatap kembali masa depan lebih baik, bukan ketenangan, sebab semakin mencari ketenangan maka semakin besar cobaan.

Aku hanya meminta kebebasan Tuhan, agar aku tau bagaimana melihat salah dan benar. Dan berikan aku rindu, agar aku tau bagaimana menerima dan berserah. Kadang, sang kekasih pun di uji tanpa meminta.