MOROTAI-PM.com, Proyek pembangunan gedung serbaguna SD Inpres Unggulan di Desa Sangowo Kabupaten Pulau Morotai Maluku Utara (Malut), yang dikerjakan oleh PT.Sirara Agung Jaya dengan menggunakan dana pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020 senila Rp 2 miliar dipersoalkan oleh warga. Pasalnya, pembangunan proyek itu tidak menggunakan fondasi melainkan hanya menggunakan sejenis slof.

“Yang ada itu cor besi di taruh diatas tanah, kalau fondasi itu biasanya tanahnya di gali, yang proyek Rp 2 miliar itu tidak digali malah diatas tanah.”kata salah satu warga Sangowo kepada Poskomalut.com, Minggu (3/1/2021)

Apalagi, pembangunan gedungnya itu dibangun diatas rawa yang sudah barang tentu sangat rentan dengan bencana alam.

“Ini harus dijelaskan juga oleh pihak terkait, karena gedung serbaguna itu dibangun diatas tanah.”pintanya

Kadis Pendidikan Pulau Morotai, F Revi Dara, ketika dikonfirmasi via handphone mengaku, proyek itu tidak bermasalah pasalnya pembangunannya sudah sesuai gambar.

“Justru karena daerah rawa makanya musti pondasi telapak dan dia pake galian baru cor langsung deng pembesian, itu menggunakan pondasi telapak. Dorang pe pemahaman pondasi ni kan pondasi cakar ayam yang seperti pondasi pada umumnya.”jelasnya

Revi, mengutip pernyataan dari Ami, salah satu PPK dari dinas perikanan yang mengawasi proyek tersebut. Dalam penjelasan Revi dengan mengutip pernyataan PPK pada proyek itu, bahwa proyek itu menggunakan besi baja sehingga harus menggunakan telapak bukan fondasi cakar ayam.

“Saya juga kurang paham soal konstruksi bangunannya, karena itu PPK bisa jelaskan dan dia kirim di henpond dan saya teruskan, menurut PPK Ini karena bangunan menggunakan besi baja jadi harus pake pondasi telapak tidak bole pake pondasi cakar ayam. Jadi kalian (wartawan) silahkan hubungi PPTK, karena secara teknis bangunannya itu ada di PPTK.”pungkasnya(Ota/red)