poskomalut.com
baner header

Kita bukan Badaud ? (Buat Camerad Samurai)

Ardiansyah Fauji
Oleh : Ardiansyah Fauji (Jubir AMAN jilid 2)

Ketika tulisan sang Camerad tiba, bertepatan dengan datangnya buku terbaru Yuval Harari ‘Money’, buku yang sudah saya pesan 2 bulan lebih baru bisa diambil sore itu di Sofifi, alasan sederhana mengapa berburu buku Harari, kualitas Harari memang terbaik dan selalu membuat terkesan dalam setiap tulisan-tulisannya.

Jadi ketika berhadapan dengan karya Harari, saya selalu merasa menjadi seolah-olah seperti seorang ‘badaud’. Pada tahun 1858, di Paris terjadi perubahan yang signifikan, las grands magasins tampak berdiri kokoh dan bercahaya disepanjang bulevar, pembangunan kota berkembang pesat, orang-orang ramai tampak takjub menyaksikan itu semua, Victor Feurnel menyebut mereka yang takjub melihat tokoh-tokoh besar tersebut sebagai badaud (penonton), dalam bahasa Perancis disebut ‘gawker’ yang artinya pengamat namun dengan konotasi idle, atau seseorang yang memiliki kepribadian mudah tertipu, kebodohan sederhana dan ketidaktahuan menganga. Badaud adalag seorang tipe urban perkotaan pada abad 18 dan abad 19 yang saya yakini jika hidup hingga abad milenium ketiga pasti tak akan menyukai karya-karya Harari.

Alasan lain para badaud tak akan menyukai Harari, ditengah kegemerlapan Perancis hari ini, pernah ada sebuah kisah kelam masa lalu yang dibuka kembali lewat money. Jelang abad 18, terjadi sebuah prahara finansial spektakuler yang kemudian menggerogoti kekuasaan raja Louis XV dan memicu revolusi.

Krisis keuangan yang parah ini memaksa raja Louis XVI yang naik tahta setelah kematian ayahnya, membuka sidang Estates General, hampir satu abad lebih tak pernah ada sidang dalam parlemen Perancis sampai peristiwa ‘Mississippi Bubble’ menerpa. Fantasi urban borjuis Perancis menemukan jalan termudah untuk kaya raya menemui tragedi. Mereka menjual segala harta bendanya, mengambil pinjaman besar, lalu mulai membeli saham Mississippi. Euforia melanda jalan-jalan di Paris, bagaimana tidak? Saham Mississippi dari harga 500 livre mampu menembus ambang 10.000 livre, angka yang begitu fantastik. Tapi kesadaran datang terlalu pagi, kepanikan mewabah, sebagian spekulan mengambil jalan realistis, harga saham tak wajar ini akan segera anjlok, tak akan bertahan lama, lalu mulai menjual ketika harga sedang dipuncak, saat pasokan saham yang dijual naik, harganya pun turun. Para investor lekas-lekas keluar begitu melihat longsor sedang terjadi didepan mata. Adalah John Low pengawas umum keuangan yang mengambil resiko, jabatannya ketika itu setara dengan menteri keuangan hari ini. Bank sentral Perancis membeli seluruh saham Mississippi, tapi perlahan balon gas keuangan Perancis mulai kehabisan api, sihir finansial dengan mengotorisasi percetakan banyak uang pun tak sanggup menyelamatkan situasi, dititik nadir saham Mississippi anjlok dari harga 10.000 livre kembali ke harga 1000 livre, hingga kemudian menuju maut, benar-benar dari ada kembali ke tiada.

Bank sentral dan keuangan kerajaan Perancis memiliki saham dalam jumlah yang sangat besar, sayangnya tak bernilai dan tak punya uang. Para investor kecil, para borjuis kagetan kehilangan segala-galanya, lalu memilih jalan paling sunyi menumpas mimpi kaya raya mereka, bunuh diri. Kerumuan badaud mengheningkan cipta lalu menangis sesenggukan.

Harari juga mengisahkan kembali kejatuhan Napoleon atas rival abadi dari versi yang paling hitam. Perancis yang besar dan kuat angkatan militernya, kaya pengalaman, disegani. Napoleon seringkali meledek Inggris sebagai sebuah negara penjaga tokoh. Namun akhirnya para penjaga tokoh itu mengalahkan Napoleon, lalu membangun imperium mereka menjadi yang terbesar dari yang pernah ada di dunia.

“Siapa yang terpukau laut, tak akan membangun monument.” GM menulis ini pada catatan pinggir majalah Tempo pada 10 november 2013.

Begitulah cara sang Capten Ali Ibrahim keluar dari situasi, laut sebagai metafor pembebasan tak ubahnya sebuah padang yang luas, monument yang semestinya dibangun oleh seorang pemimpin adalah legacy itu sendiri. Karena itu sang Capten mencoba tak terjebak pada kredo kapitalisme, dimana mendorong pembangunan dengan mengupayakan penguatan pertumbuhan ekonomi sehebat-hebatnya, bahwa pembangunan bukan semata-mata meningkatkan pertumbuhan, kasus mendirikan kota New Orleans di lembah hilir Mississippi akhir abad ke-17 dengan mimpi tunggal pertumbuhan merupakan contoh buruk paling abadi. Sang Capten hendak mengambil jalan tengah seperti pikiran Satya Nadella dalam Hit Refres, tetap menjamin kehadiran perasaan-perasaan humanis dalam kepemimpinannya meskipun tekhnologi kini telah merubah sebuah kota bergerak secepat peluru. Sejarah Tidore yang besar, adat dan kebudayaan yang terjaga, adalah penopang sesungguhnya sebuah pembangunan yang berkeadilan. Ini yang hendak ditegaskan pada periode kedua nantinya dengan mengusung Visi besar Tidore Jang Foloi (Tidore nan indah).

Pada catatan sebelumnya, Sang Capten percaya kemajuan suatu bangsa dewasa ini tidak lagi ditentukan oleh luasnya teritorial, banyaknya sumber daya alam, banyaknya investor, namun dihitung melalui kualitas human resources based-nya. Karenanya SDM lokal mesti kita siapkan sedini mungkin, kualitas dunia pendidikan harus dibangun dengan serius oleh seluruh para pengambil kebijakan, baik di level kota, provinsi maupun level nasional. Tanpa investasi pendidikan berkelanjutan, tanpa charakter building yang kuat semua narasi pembangunan berkeadilan adalah nonsense! Sang Capten serius pada bagian ini, makannya pada awal menjabat di tahun 2015, mengumpulkan seluruh pejabat di dinas pendidikan dan langsung bergerak cepat, mencari jalan keluar atas kekurangan ketersedian guru. Data pemerintahan sebelumnya coba dianalisis, sekurangnya terdapat 3 wilayah di Oba yang kekurangan guru mata pelajaran di sekolah-sekolah, yakni di wilayah Oba tengah, Oba dan Oba Selatan. Kemudian dua desa di wilayah Tidore Selatan, ialah Desa Maregam dan Desa Marekofo dan 1 sekolah di Talaga Puncak Tidore Utara.

Setelah mendapatkan seluruh data analisis yang diperlukan, sang Capten tak mau menunggu, kebijakan harus segera dieksekusi untuk menutupi kekurangan pada masalah paling krusial ini. Dengan kemampuan fiskal yang terbatas karena pada tahun-tahun awal kepemimpinan DAK Tidore Kepulauan terjun bebas. Terobosan harus diambil untuk mengatasi problem ketersediaan guru di sekolah-sekolah. Inovasi yang berani, saya menyebutnya pertaruhan yang tepat. Dinas pendidikan langsung action, merekrut guru-guru sebanyak 150 orang dan langsung dibiayai oleh daerah. Guru-guru yang baru direkrut dengan nomenklatur Guru Honor Daerah (Honda) tersebut kemudian diterbitkan surat keputusan Walikota dan langsung ditempatkan pada satuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh dinas pendidikan dengan rincian (SD 87 guru Honda) dan (SMP 63 guru Honda). Kala itu 2016 jumlah guru secara keseluruhan yang berstatus PNS di Kota Tidore Kepulauan adalah 1427, untuk jenjang pendidikan TK, SD dan SMP. Di tahun 2019 ada penambahan 77 guru PNS baru yang seluruhnya di empat kecamatan OBA, untuk data Jenjang pendidikan SMA dan sederajat tidak lagi saya masukan karena sudah menjadi kewenangan provinsi.

Idealnya rasio guru dan siswa 1:28 dalam merekrut dan menempatkan guru. Sebagaimana pertimbangan Kemendikbud dalam Rembuk Nasional pada tahun 2017. Rasio ini wajib diperhatikan sehingga upaya pemerataan guru secara nasional tidak meleset. Jika Camerad mengacu pada data BPS 2018 ketersediaan guru di Kota Tidore Kepulauan dalam tulisan sanggahan rasio guru dan siswa 1:10 di pulau Tidore 1:12 di wilayah OBA maka mestinya soal ini tak lagi jadi perdebatan karna jika mengacu pada pertimbangan ideal di atas. Tetapi penting untuk terus dikawal agar kualitas pendidikan kita terus naik, tenaga pendidik yang dihasilkan juga merupakan tenaga pendidik yang profesional, agar perbaikan dunia pendidikan kita menuju ke arah sebenar-benarnya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat terwujud.

Soal berikutnya yang coba di urai Camerad Samurai adalah soal aspek kesehatan dimana baik itu ketersedian rumah kesehatan misalnya RS, Puskesmas, Pustu juga ketersediaan dokter, perawat, bidan dan apoteker. Mesti diakui kita masih kekurangan dokter, Rumah Sakit pun mesti ditamba, untuk Puskesmas sendiri sesuai standar dari kementrian kesehatan minimal melayani 25 ribu – 30 ribu warga, maka jumlah yang ada saat itu sudalah cukup, namun penting kiranya sebagai fasilitas pelayanan pertama dan unit terdepan melayani masyarakat maka penting dilengkapi baik dari sisi tenaga kesehatan maupun fasilitas pendukung lainnya. Dalam kritik ini saya sependapat banyak hal harus dibenahi termasuk kemudahan mengakses pusat-pusat kesehatan oleh warga, sehingga indeks kesehatan masyarakat bisa terus naik (membaik) dan hak-hak kesehatan rakyat terpenuhi sepenuhnya.

Dalam catatan riwayat AMAN tiba di pelabuhan pertama, saya mengatakan begini. Kita hari ini, apabila anda bertanya apakah si tuan punya tesis yang spesifik untuk penyelesaian masalah yang konkret? Kemungkinan anda mengajukan pertanyaan yang tidak terlalu produktif.

Ini ciri khas pertanyaan seorang ‘badaud’ yang akan ditentang oleh ‘flaneur’ si tipikal detektif, flaneur si penyendiri yang suka berkontemplasi, selalu terlepas sendiri dari kerumunan, ia ingin membongkar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam, sehingga memompa nalar kritisnya, bukan hanya sekadar ingin tahu kehidupan orang lain, turut serta dalam budaya pamer diri, sehingga mudah terjebak pada kerangka berpikir yang menyesatkan. Flaneur selalu detail, gagasan dan perspektifnya selalu terbuka, ia ingin menguji sekaligus merampung misi. Konklusi yang benar adalah akhir dari perjalanan pikiran seorang yang selalu teralienasi dari kerumunan, penyuka sepi tapi merupakan pribadi yang humanis.

“The sas duty of politics to establish justice in a sinful world”

Sebagai juru bicara AMAN jilid 2, saya ini membawa perdebatan politik kita pada hal-hal yang lebih substansial, bukan sekadar tarik-menarik sentimen pribadi, apalagi berkelahi tanpa gagasan. Politik adalah panggilan moral, ada etika yang menopangnya. Etika politik memberikan patokan-patokan orientasi dan pegangan-pegangan normatif bagi mereka yang memang mau menilai kualitas tatanan dan kehidupan politik dengan tolak ukur martabat manusia.

Sang begawan Ranciere menyebutnya ‘la politique’ sedang si teolog Reinhold Niebuhr memahami politik dengan lebih puitis lagi bukan sekadar menghimpun dan menggunakan kekuasaan tetapi lebih dari itu pergulatan untuk menghadirkan keadilan dan kesetaraan. Karena itu, tugas politik selalu saja berat dari waktu ke waktu. Jangan jadi heckler (para pengecut yang suka berteriak-teriak dari jauh untuk menghina orang lain) semacam buzzer di medsos, itu tidak manusiawi.

Sampai ketemu dicatatan-catatan selanjutnya Camerad Samurai Maluku Utara. Hormat!! (**)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: