poskomalut.com
baner header

Kasus Positif Terus Bertambah, Rorano Malut Desak Pemerintah Serius Tangani Covid-19

TERNATE-PM.com, Rorano Maluku Utara (Malut) mendesak pemerintah untuk serius menangangi aspek kesehatan, terutama pemutusan rantai penularan Covid-19. Sebab, yang paling berbahaya dari Covid-19 adalah kecepatan penyebarannya.

“Kita selalu tertinggal, baik karena ketiadaan alat maupun waktu tunggu yang terlalu lama. Padahal kecepatan penegakan diagnostik adalah senjata utama melawan kecepatan virus yang menyebar,” ungkap Direktur LSM Rorano Maluku Utara Asghar Saleh, pada sejumlah wartawan, Rabu (17/06).

Menurut Asghar, trend kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 masih terus bertambah. Lantaran tiga hari ini hasil pemeriksaan tidak banyak karena TCM dalam proses perbaikan ruangan, jadi tambahannya sedikit sekali. Meski demikian, jika melihat perbandingan peningkatan kasus di Ternate, maka butuh hitungan yang terukur dan pasti untuk dijadikan dasar pengambilan setiap kebijakan.

“Pada Maret, kasus kita hanya 1, di bulan April ada tambahan 19 kasus, sehingga jadi 20. Kasus positif melonjak tajam pada bulan Mei dengan tambahan 79 kasus baru sehingga totalnya jadi 99. Sangat mungkin lonjakan kasus di Ternate dipengaruhi oleh transmisi lokal. Ini terlihat dari meningkatnya jumlah reaktif Rapid Test. Sedangkan di bulan Juni sejak tanggal 1-15, Ternate mengalami penambahan sebanyak 88 kasus. Jika tambahan kasus per hari tetap seperti ini maka diakhir bulan nanti, sangat mungkin Ternate memiliki 150 kasus baru,” urai Asghar.

“Kemungkinan ini dapat terjadi karena angka reaktif Rapid Test terus meningkat sesuai hasil dari tracking. Selain itu, masih ada puluhan spesimen hasil swab yang tertahan di BPPTKL Manado maupun di RSUD Chasan Boesoerie karena dua mesin TCM tidak beroperasi,” tambahnya.

Mantan anggota DPRD Kota Ternate ini menyebutkan, Rorano memberikan beberapa masukan kepada pemerintah dalam memutuskan matai rantai pandemic Covid-19, diantaranya, terkait mesin PCR yang sudah ada di RSUD dan sementara persiapan untuk running, maka prioritas pemeriksaan dilakukan pada mereka yang butuh follow up setelah dinyatakan positif.

“Kami meminta pemerintah mempertimbangkan ulang secara serius rencana isolasi/karantina mandiri pasien posituf di rumah karena ketidaksiapan masyarakat. Tak ada jaminan pengawasan dari petugas kesehatan yang terbatas jumlahnya. Sebaiknya opsi penambahan tempat karantina dipilih sehingga peluang menularkan virus  diminimalisir,” jelas Asghar.

Lanjut Asghar, jika pasien/orang dalam antrian saat ini menunggu di swab, maupun menunggu hasil telah teratasi, maka Rorano menyarankan agar dua mesin TCM yang ada di RSUD Chasan Boesoerie ditempatkan di RS dukungan rujukan sesuai SK gubernur, sehingga daerah tidak lagi merujuk pasien Rapid Test ke Ternate untuk di swab. Tetapi bisa langsung diswab dan mendapatkan hasilnya di RS Tobelo, Labuha dan Sanana. RSUD Chasan Boesoerie hanya mengoperasikan mesin PCR yang kapasitas runningnya lebih besar (bisa 100 spesimen/hari)

“Kami juga menyarankan, agar ada pembagian penanganan pasien Covid19. Untuk kategori sedang berat atau pasien dengan komorbid yang butuh penanganan serius bisa dirujuk ke RSUD Chasan Boesoerie. Sedangkan pasien dengan kategori sedang ringan atau OTG bisa dirawat atau dikarantina di setiap daerah yang ada RS dukungan. Ini jika disetujui ditetapkan melalui keputusan Gubernur. Tujuannya selain menghindari penumpukan di Ternate, juga bisa memberi waktu istirahat yang cukup bagi tenaga kesehatan karena hanya fokus pada pasien dengan ketegori sedang berat,” jelas politisi NasDem ini.

Khusus Ternate, lanjutnya, agar penegakan diagnostik bisa cepat dan efisen, maka semua kontak erat dengan pasien positif sebaiknya langsung diswab test. Rapid Test sebaiknya hanya  dilakukan secara massal untuk fasilitas publik pada waktu tertentu saja. (maha/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: