poskomalut.com
baner header

Karena Cinta Kemanusiaan

Hi. Usman Sidik.


Oleh: Em. Sadrian
(Esai, Belajar Islam Cinta)

“Akan kusampaikan kepadamu bagaimana Allah menciptakan manusia
Dia mengembuskan ke tanah asal kejadiannya napas-napas cinta.
Kusampaikan kepadamu mengapa planet beredar pada garis edarnya
Itu karena singgasana-Nya diliputi pancaran cinta.
Kusampaikan kepadamu mengapa angin pagi berembus segar
Itu karena ingin bangun mengecup kembang-kembang cinta.
Kusampaikan kepadamu mengapa malam terangkai kegelapannya
Karena ia mengajak kita berdua di pembaringan cinta.
Kujelaskan padamu semua teka-teki wujud
Jawabannya setiap teka-teki tak lain kecuali cinta”.
(Jalaluddin Rumi, 1207-1273).

Ramdhan kemarin, anak-anak muda negeri Saruma—julukan Halmahera Selatan, yang menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi, tak kuasa menyembunyikan kebahagiaan dan rasa syukurnya. Senyum semerekah bunga, wajah berseri, acungkan jari jempol like dan macam-macam gaya penanda gembira. Betapa tidak, di saat kekuasaan tak hadir dalam relung kehidupan mereka di ranah rantau yang gundah karena pandemi corona, rintik rezeki yang tak pernah disangka datangnya, menghampiri. H. Usman H. Sidik mengulurkan tangan kemanusiaannya, memenuhi kebutuhan hidup mereka, yang mungkin oleh sebagian orang tak seberapa ditakar nilainya, namun begitu berarti—seberarti meneguk air di terik padang pasir.

Berbagi semacam itu merupakan salah satu sisi baik nan indah seorang Usman, yang telah dikenal dermawan sejak lama. Saya yang diliputi penasaran lalu pernah bertanya, apa gerangan yang membuatnya begitu bermurah hati terhadap sesama? Sembari menyungging senyum, dengan singkat Usman tegaskan,”itu peduli kemanusiaan! Bukan politik !”
“Peduli kemanusiaan” lahir dari rasa cinta terhadap sesama manusia yang tertanam dalam sanubari yang jernih. Dalam konteks yang lebih luas dan universal tercermin dalam sabda Nabi,”siapa yang mencintai yang di bumi, maka yang di langitpun akan mencintainya.” Cinta ialah cahaya, yang dengan indah diungkapan budayawan Emha Ainun Nadjib: “jika sudah menjadi cahaya bagi diri, akan menjadi cahaya bagi keluarga, tetangga, sahabat, masyarakat luas, daerah dan bangsa. Hingga lama-lama tak lagi butuh cahaya untuk menerangi karena sudah menjadi cahaya.”

Dalam mencintai sesama manusia, kata Shihab, ada dua bentuk persaudaraan. Saudara seagama, dalam bahasa Al-Quran, ikhwanukum fi ad-din (saudara-saudara kamu seagama) (QS.33:5), dan ikhwanukum (saudara kamu) tanpa kata din (agama), yakni saudara sekemanusiaan (QS.2:220), tidak membedakan ras, suku, agama, atau apapun selama dia manusia. Sayyidina Ali k.w. ketika menyurati al-Asytar an-Nakha’i (w. 675 M) yang diangkat sebagai Gubernur Mesir, mengingatkannya bahwa, “manusia ada dua kelompok: saudaramu dalam agama atau yang sama dengan Anda dalam penciptaan (kemanusiaan).” Ucapan Sayyidina Ali menggambarkan hubungan, bahkan kesatuan semua manusia.
Begitu juga dengan Erich Fromm. Ahli psikoanalis ini menyatakan, cinta paling fundamental yang mendasari semua jenis cinta adalah cinta terhadap sesama manusia. Wujud cinta terhadap sesama ini ialah rasa tanggung jawab, kepedulian, respek, pemahaman tentang manusia lain, dan kehendak untuk melestarikan kehidupan. Cinta terhadap sesama, kata Fromm, diawali dengan cinta pada orang-orang yang tak berdaya, orang miskin, dan orang asing atau yang tak dikenal.

Rasa cinta terhadap sesama manusia pulalah yang menjadi salah satu hal terpenting yang memantik semangat Usman, maju sebagai calon bupati Halmahera Selatan tahun ini. Bersama Bassam Kasuba, dia ingin mewujudkan rasa cinta kemanusiaan itu dengan menyejahterakan rakyat yang berasal dari beragam etnis, suku, agama, budaya dan bahasa. Yang ditopang dengan kemandirian ekonomi. Pun demikian dengan pembangunan daerah.

Sejarah menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang sudah dipenuhi rasa cinta yang tulus tak akan membiarkan rakyatnya didera nestapa dan hidup dalam gulita. Sebab, rakyat adalah kekasihnya yang ingin dibahagiakan, disejahterakan hidupnya secara nyata. Bukan kesejahteraan yang mengawang di angkasa, bagai pungguk merindukan bulan.****

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: