poskomalut.com
baner header

Orang-Orang Sial di Akhirat

Murid Tonirio (Pengajar Fak. Ushuluddin IAIN Ternate)

KHATIB itu berapi-api menjelaskan rasa herannya: Mengapa banyak ilmuwan Islam lebih gemar membaca literatur Islam berhasa Inggris? Bagaimana mungkin ajaran Islam bisa dijelaskan secara baik jika sumber bacaannya bukan dari kitab-kitab berbahasa Arab? Bukankah di kubur nanti kita akan ditanya oleh Malaikat yang menggunakan bahasa Arab?
Tentu saja mereka yang menguasai Bahasa Arab akan lebih baik memahami ajaran Islam. Allah bahkan menyuruh umat Islam berpikir, mengapa al-Qur’an diwahyukan menggunakan Bahasa Arab. Apakah Bahasa Arab menjadi bahasa resmi al-Qur’an, semata-mata karena Nabi Muhammad, seorang yang ummi, tidak tahu baca-tulis aksara, seperti diisyaratkan dalam dialog Rasulullah dengan Jibril saat lima ayat pertama surat al-alaq diwahyukan di Gua Hira, adalah orang Arab?

Diam-diam saya membenarkan pertanyaan-pertanyaan khatib. Namun, sejurus kemudian, pikiran saya mulai terkoneksi dengan vidio ceramah Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil, yang beberapa waktu lalu diposting Agus SB, di group WA Puskamik IAIN Ternate. Dalam ceramahnya, Prof. Heddy mengkonstatir ayat al-Qur’an: “Manusia diciptakan dari satu laki-laki dan satu perempuan, kemudian berkembang biak menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal …”.
Kalimat “bersuku-suku dan berbangsa-bangsa” yang sudah entah berapa ribu kali saya dengar dengan perasaan yang biasa-biasa saja, tiba-tiba mengganggu nalar awam (common sense) saya, kemudian pikiran usil memunculkan imajinasi yang liar. Dengan itu, saya seakan pergi bersama imajinasi yang makin liar meninggalkan khatib bercakap-cakap dari atas mimbar kepada jama’ahnya yang juga telah tiada berada dari sisi kiri-kanan-depan. Saya duduk di shaf paling belakang.
Pikiran saya menjadi liar karena saya berpendapat: Ketika Sang Khatib mengatakan “di barzah nanti kita akan ditanya Malaikat yang menggunakan Bahasa Arab, Sang Khatib sedang berasumsi bahwa umat Islam harus belajar Bahasa Arab. Dengan kata lain, karena bahasa di dunia sebanyak suku bangsa, sementara dalam kubur, apalagi di surga nanti, yang berlaku hanya Bahasa Arab maka suku bangsa non-Arab harus belajar Bahasa Arab.

Ah…..! Hantu blau apa yang berani datang ke rumah Allah menggoda pikiran saya makin liar dalam imajinasi? Apakah Sang Khatib sedang membayangkan bahwa Allah “lupa” pada firman-Nya, bahwa “kalimat bersuku-suku dan berbangsa-bangsa”, mengandung arti bahwa manusia memiliki beragam bahasa, dimana suku bangsa itu tidak saling memahami bahasa satu dengan lainnya? Lalu mengapa Allah meresmikan hanya Bahasa Arab sebagai satu-satunya alat komunikasi?

Qamat dikumandangkan. Konsentrasi saya menjadi tidak karu-karuan; Shalat Jum’at hari itu saya rasa paling kacau-balau. Kepala saya menjadi pening. Saya seperti melayang di sepanjang jalan pulang ke rumah. Sambil menikmati makanan yang sudah tidak lezat di lidah, pikiran saya membayangkan sebuah surga yang menerapkan prinsip-prinsip pluralisme budaya; sebuah surga seperti panggung sandiwara-humor yang membuat saya senyum-senyum sendiri.

Kita percaya Allah Maha Kuasa. Dia qiyamuhu bi nafsi, sehingga di genggaman-Nya segala sesuatu menjadi bisa. Seperti dunia dan barzah, akhirat adalah panggung yang dibuat untuk diri-Nya sendiri. Lalu, dengan itu Allah bercanda kepada umat-umat-Nya yang taqwa selama hidup di dunia.

Dia mengumpulkan orang-orang Belanda generasi 1980-an menggunakan Bahasa Makeang. Tentu saja, orang-orang Makeang segenerasi kaget. Tumben Walanda-Walanda yang tidak pernah datang ke Pulau Makeang bisa berbahasa Taba? Melihat orang-orang Mara yang bingung, orang-orang Jerman menggamit tangan orang Simbabwe, kemudian berkata – dalam Bahasa Jerman: “Pastilah Londo-Londo itu tahu bahasa Makeang. Di perpustaan-perpustakan di kampung halaman mereka banyak kamus Bahasa Makeang-Belanda.

Orang Belanda malahan lebih tahu budaya orang Makeang daripada orang Makeang, sendiri karena di mosium-mosium mereka berisi penuh arsip dari zaman kolonial”.
Orang-orang Simbabwe yang mengamati mereka (orang Jerman dan orang Makeang), berbisik-bisik kepada mereka. “Ah, Si Jerman, berlagak tahu segalanya”. Mendengar itu, kelompok orang Sahu berucap dalam bahasa Sawuwu: “Kawan keliru. Selain orang Belanda, orang Jerman sangat tahu juga keadaan budaya orang-orang Indonesia di masa lalu. Asal tahu saja teman, nama Indonesia itu bikinan etnololog asal Jerman, namanya Subastian. Muhammad Hatta cuma mencomot saja istilah Indonesia menjadi nama negara-nya yang dibayangkan kelak akan merdeka. Jadi, tahulah orang Jerman itu tentang Indonesia. Apalagi negara mereka bertetanggga dengan Belanda”.
“Iya, tapi bagaimana mungkin orang-orang Makeang yang tidak belajar Bahasa Belanda, bisa mengerti bahasa bangsa (mantan) penjajah”?, tanya orang Honolulu dalam bahasa Honolulu, kepada orang Gamkorana. “Terserah Allah lah. Ini panggung peragaan kemahakuasaan-Nya. Mau-maunya Dia. Bukankah Allah sudah mengatakan bahwa manusia diciptakan “bersuku-suku dan berbangsa-bangsa”? Itu artinya, bahasa adalah ciptaan Allah. Kerana manusia adalah ciptaan Allah juga maka memindah-mindahkan isi otak dari satu orang ke orang lain, menjadi hal sepele bagi Allah.

Seseorang dari Kongo, kemudian maju dan berseru. “Hei, kalian yang gamang, jangan bingung. Kita semua ini bisa saling memahami bahasa, karena saat di dunia kita percaya Allah, bahwa manusia itu memang diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tidak sekadar pengakuan, sebenarnya, ia juga telah menjadi memori kolektif kita. Itu sebabnya, ketika Allah menggunakan salah satu bahasa untuk memanggil umat-Nya yang tidak menggunakan bahasa tersebut, kita bisa langsung tahu karena bahasa itu sudah terbiasa dalam pikiran kita sebelumnya”.

“Sobat-sobat tahu kan, saat berpindah dari dunia ke barzah dan ke akhirat, kita juga membawa serta memori. Memori kita tersimpan di otak seperti buku di rak lemari perpustakaan. Ada banyak kotak dalam lemari itu yang diisi bermacam jenis buku dengan temannya sendiri. Karena sudah tersimpan, ketika Allah menyentuh satu hal, otak lansung membuka memori. Mirip dengan kehidupan kita di dunia, dodoawo; kalau kita sudah baca sesuai hal, kita akan segera mengingat hal itu saat melihat buku yang mendiskusikan hal tersebut”, kata seorang Tajakistan dalam bahasa Tajaz.

“Ai….. Ai, mengapa mereka-mereka yang di sana berkumpul dan hanya bercakap-cakap dengan bahasanya sendiri”?, tanya orang Susupu dalam bahasa Loloda. “Mereka hidup terpencil seperti itu karena mereka adalah penyembah etnosentrisme selama hidup di dunia; orang-orang yang nyaman hanya dengan anggota sukunya sendiri. Mereka orang-orang miskin memori, sehingga tidak bisa berteman dengan orang lain sebagai sesama penghuni surga”, sahut orang Ainu dalam bahasa Jepang.

Nah…. supaya tidak menjadi orang sial di akhirat, menjadi suku terasing di dalam surga, jangan memberhalakan suku bangsa dan kelompok sendiri.**

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: