poskomalut.com
baner header

Dana Covid-19 di Malut Baru Terserap 51 Miliar

SOFIFI-PM.com, Penyerapan anggaran penanganan coronavirus (Covid-19) di Provinsi Maluku Utara (Malut) selama empat bulan, terhitung dari bulan Maret-Juni terbilang masih sangat kecil.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Pendapatan Aset Daerah (BPKPAD) Provinsi Malut Bambang Hermawan dalam jumpa pers, Sabtu (27/6) pekan kemarin, menyebutkan anggaran penanganan covid-19 yang bersumber dari realokasi kegiatan APBD induk sebesar Rp 148 miliar, baru terserap Rp 38 miliar lebih. Sementara, serapan anggaran yang bersumber dari Dana Tak Terduga sebesar Rp 15 miliar, sudah terserap sebesar Rp 12 miliar lebih. 

“Jadi total serapan anggaran penanganan covid-19 di Malut selama empat bulan ini, baru Rp 51 miliar lebih. Jadi Rp 12 miliar dari DTT itu untuk belanja pada BPBD dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Malut. Sementara serapan anggaran Rp 38 miliar lebih dari dana realokasi  itu untuk belanja alat kesehatan (alkes) di dinas kesehatan dan kesiapan RSUD Sofifi senilai Rp 19 miliar,” jelas Bambang sembari mengatakan, untuk  kebutuhan RSUD Chasan Boesoerie baru  Rp 9 miliar lebih dari Rp 22 miliair yang dianggarkan.

“Untuk BPBD, yang didalamnya terdapat beberapa bidang dari Rp 77 miliar, dan sisa saldo terakhir masih Rp 69 miliar lebih. Tingkat penyerapan dana sangat kecil, mungkin karena tim gugus sangat berhati-hati menggunakan anggaran sehingga penyerapan masih minim, baru 51 miliar lebih yakni Rp 12 M DTT dari APBD sebesar Rp 15 miliar dan Rp 38 miliar dari realokasi Rp 148 miliar,”kata Bambang.

Menurutnya, RAK yang disusun sampai 29 Mei terdapat dana Rp 2 miliar yang harus dilebur lantaran penyerapan rendah. Dana itu akan dapat dimasukkan dalam RAK baru yang saat ini disusun. Dari dana Rp 148 milair itu terdapat Rp 50 miliar disiapkan untuk PSBB, namun sampai saat ini tidak ada kabupaten yang mengusulkan sehingga tidak digunakan.”Dari penyerapan Rp 51 miliar terdapat Rp 50 miliar disiapkan untuk PSBB, tapi tidak ada kabupaten yang usulkan PSBB,”katanya.

Bambang khawatir jika penyerapan rendah ini  karena kehati-hatian akan berpengaruh pada penanganan covid-19. “Kita tetap berhati-hati menggunakan anggaran tapi jangan sampai berdampak pada penanganan covid-19,” katanya.(iel/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: