poskomalut.com
baner header

Manusia Masyar

Murid Tonirio (Pengajar Fak. Ushuluddin IAIN Ternate)
Oleh: Murid Tonirio
(Pengajar di IAIN Ternate)

APA dan siapa manusia itu? Ilmu mantiq mendefinisikan manusia dengan “hayawanunnatiq, binatang yang berpikir”; ilmu politik memberi batasan manusia sebagai “hewan yang berpolitik”. Antropologi, linguistik, dan simiotik, menta’rifkan manusia dengan “homo simbolikus”.

Di dalam al-Qur’an, manusia disebut setidaknya dengan dua istilah, yakni “basyar” dan “insan”. Dua istilah ini, menurut Ali Syari’ati, merujuk pada dua makna (kualitas) yang berbeda. Basyar, menurut konseptor revolusi Iran ini – selain Murtada Muthaharry dan yang lain-lainnya–adalah manusia dengan kualitas kemanusiaan yang rendah. Basyar lebih merujuk pada makna manusia sebagai pariada fisik. Seperti mahluk biologis lain, manusia basyar akan lenyap segera setelah tubuhnya diantar ke liang lahat. Nama mereka mungkin diingat di kalangan tertentu melalui pahatan di nisan; namun tidak beredar mengabdi dalam imajinasi orang banyak.

Secara sewenang-wenang saya bisa menyejajarkan manusia basyar dengan manusia yang memiliki kesadaran fenomenologis, yang menerima suatu gejala sosial-budaya seperti apa adanya fenomena itu hadir dalam kesadaran. Mereka yang mungkin karena pemalas berpikir, sehingga berhenti pada anggapan bahwa setiap orang menerima suatu gejala sosial-budaya seperti dia sendiri mempersepsikannya. Maka, ketika seseorang menyentuh ketidaksadarannya, manusia fenomenologi biasanya bereaksi; “O.. ya! Begitu ya? Titik.

Orang-orang seperti ini akan sangat berbahaya kalau menjadi pemimpin suatu komunitas, apalagi menjadi pemimpin institusi modern yang diatur oleh perangkat-perangkat birokrasi. Mereka menjadi berbahaya karena tidak mampu memikirkan masalah secara holistik. Akibatnya, keputusan-keputasan yang diambil tidak saja bersifat parsial, melainkan juga bisa menjadi sumber masalah.

Kondisi ini terjadi karena mereka beranggap bahwa: Pertama, birokrasi – yang diimpor dari budaya barat – adalah sesuatu yang bersifat given, karenanya birokrasi harus diterima apa adanya. Oleh karena itu, mereka bekerja hanya menurut pranata birokrasi itu sendiri.
Padahal tidak! Di dalam bekerja, seorang pemimpin pertama-tama dan terutama, harus memiliki kemampuan mengaitkan pranata sosial dengan birokrasi. Sebab, menurut Karl Marx, birokrasi sekarang telah menjadi perkara sangat ruwet setelah makna fungsionalnya diperluas mencakup semua organisasi sosial yang berkembang pada semua level masyarakat.

Dengan demikin, dalam mengelola birokrasi, seorang pemimpin mesti senantiasa berselaras dengan paranata sosial-budaya yang tumbuh dalam masyarakat yang dilayani. Dengan kata lain, karena birokrasi tidak berkembang dalam ruang hampa budaya, maka seorang pemimpin sepatutnya memiliki kemampuan refeletif, yang dengan itu dimampukan dia mengaitkan dua atau masalah yang muncul dalam measyarakat untuk diselesaikan melalui mekanisme formal-birokrasi.
Kedua, manusia-manusia dengan kesadaran fenomeno logis menjadi pemimpin yang sangat berbahaya. Karena, ya itu tadi, menganggap segala sesuatu harus diterima seperti apa adanya ia hadir dalam kesadarannya. Dengan kesadaran seperti itu, selanjutnya mereka menjadi manusia strukturalis (tanpa fungsional) belaka. Di titik ini, mereka menjadi individu-individu yang menganggap diri tidak memiliki free will; yang bukan saja bekerja menurut apa maunya struktur, melainkan juga mereka menjadi struktur itu sendiri. Akibatnya, mudah diduga, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah karena mereka sendiri adalah masalah itu sendiri.

Kelakuan sosial-politik orang-orang seperti ini bisanya plin-plan. Saat berada di luar struktur, mereka mengeritik kebijakan “A” yang dilakukan oleh “B”. Giliran masuk dalam struktur, kebijakan yang dulu dikritiknya, di bela mati-matian atas nama struktur. Mereka kadang tidak segan mengorbankan orang-orang yang dimpimpin. “Ini sudah maunya struktur”, begitu alibi mereka.
Berbeda dengan manusia basyar adalah manunia insan. Saya menyebut mereka manusia post-struktural. Penyejajaran tersebut berangkat dari pemahaman “insan” yang merujuk pada kulitas sebagai subyek-diri. Dalam arti itu, manusia insan adalah “homo simbolikus”; manusia yang sepenuhnya sadar bahwa realitas diciptakan melalui simbol, bahasa; sebuah kesadaran yang kemudian memberi mereka kemampuan mendekonstruksi dunia kehidupan, untuk kemudian dikonstruksinya kembali sesuai keadaan yang dihadapi tanpa harus menabrak aturan; mereka yang tidak tercerabut dari masa lalu sosial-budaya yang dihuni leluhur dan dirinya sendirinya; sambil membayangkan sebuah masa depan yang bisa dibangun bersama orang lain.

Kepada manusia insan ini, menurut saya, Allah memberi tanggung jawab tertentu. Ada orang-orang yang sangat terpilih mengemban tanggung jawab nubuat. Mereka adalah para Nabi dan Rasul, yang sudah tidak terbantahkan lagi mampu medekonstruksi tatanan sosial-budaya yang dekaden, kemudian mengonstruksinya kembali menjadi wilayah hidup yang beradab. Para Nabi dan Rasul bukan saja berhasil membongkar kepercayaan yang salah kaprah, namun juga berhasil menanamkan keyakinan baru dalam benak manusia. Segenap kemampuan tersebut dimiliki para Nabi dan Rasul, karena sebagai subyek-diri, mereka mampu mengambil jarak psikobudaya dari keadaan masyarakatnya.
Di bawah para Nabi dan Rasul, manusia insan adalah mereka yang diberi tanggung jawab sebagai khalifah. Untuk menjadi khalifah, menurut pendekatan etnosain, seseorang harus memiliki kemampuan memahami gejala sosial-budaya. Hal ini juga diisyaratkan dalam al-Qur’an: “Kepada Adam nama-nama diajarkan”. “Nama-nama”, dalam perspektif etnosains, merujuk pada makna “gejala” – gejala alam dan gejala sosial budaya.

Jadi, seseorang layak menjadi khalifah, pemimpin, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan (knowledge), melainkan juga (dan ini yang paling utama) memiliki ilm, yang mampu mengabstraksikan fenomena (fakta) menjadi ralitas. Tanpa kemampuan seperti itu pemimpin akan ceroboh; mirip Malaikat yang “mendebati” Allah sedikit “angkuh”: Apakah ketaatan kami tidak cukup sehingga masih mau menciptakan manusia yang hanya akan bikin kerusakan di muka bumi?

Malaikat kemudian menjadi kecele, lalu menghormati Adam, setelah Sang Nabi – yang adalah nenek moyang pertama manusia modern – fasih menerangkan nama/gejala sebagai konsep: bahwa mangga berasa asam saat masih mentah dan manis setelah matang. Bahwa remaja yang murung mungkin bukan karena gusar lantaran nilai raportnya jeblok, tetapi karena (barangkali) cintanya ditolak sang pujaan, dan sebagainya.
Singkatnya, hanya dengan kemampuan memahami fenomena sosial-bidaya-politik, seorang pemimpin akan menjadi bertaqwa – dalam arti sangat berhati-hati seperti berjalan di atas tanah penuh beling – saat mengambil keputusan. Ia sadar sejak awal bahwa keputusan yang diambil bisa merugikan dan bisa pula menguntungkan orang lain. Jadi, ayo! Berpindah dari manusia basyar menjadi manusia insan.**

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: