poskomalut.com
baner header

Manusia dan Fenomena

M. Kubais M. Zeen Pernah Redaktur Posko Malut. Jebolan Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS), Jakarta.
Oleh: M. Kubais M. Zeen
Editor, Penulis Literasi

Sambil menikmati secangkir kopi dan roti tawar-manis buatan pengusaha berdarah Arab, saya membaca esai Murid Tonirio di kolom perspektif poskomalut.com (5/7): “Manusia Masyar”. Saya termasuk yang doyan membaca esai-esai karib Herman Oesman, Agus SB dan M. Rahmi Husen-Djoenaedy itu, sekalipun kadang, dan itu diakui juga sejumlah kawan butuh keseriusan serta tak cukup sekali dibaca.

Dari judul tulisannya, terbesit dalam pikiran, ia akan membincangkan manusia di padang masyhar kelak. Ternyata tidak. Bukan pula masyar, melainkan basyar yang berulang kali ia sebut. Murid, secara singkat mengutip defenisi manusia dalam ilmu mantiq, politik, antropolgi lingusitik, dan semiotik. Lalu masuk pada Al-Qur’an yang menyebutkan paling tidak dua istilah, “basyar” dan “insan.” Defenisi dan arti istilah ini sebagai jawaban singkat atas pertanyaan yang diajukannya, apa dan mengapa manusia itu?

Murid lebih jauh membahas “basyar” dan “insan” dengan bersandar pada pandangan cendekiawan Muslim asal Iran, Ali Syariati, Murtadha Muthahari, dan lainnya. “Basyar” ialah manusia yang kualitas kemanusiaannya rendah dengan segala konsekuensi dari ketidakmanusiaannya. Sedangkan “insan”yaitu manusia yang kualitasnya seperti para Nabi dan Rasul, serta khalifah.

Yang tak kalah menariknya, Murid begitu jujur mengakui kesewenang-wenangannya menyetarakan manusia basyar dengan manusia yang ia sebut memiliki kesadaran fenomenologis: menerima apa adanya (tanpa sikap kritis terhadap) fenomena atau gejala sosial-budaya yang hadir dalam kesadarannya (subjektif). Ia menyebut mereka ini manusia fenomenologis, dan di penghujung tulisannya, mengajak mereka yang dia sebut juga manusia struktural, berhijrah menjadi manusia berkualitas insan, laiknya para Nabi dan Rasul, serta khalifah.

Ajakan itu karena ia begitu diliputi kekhawatiran jika atau dengan manusia basyar-fenomenologis menjadi pemimpin di komunitas dan birokrasi menjadi bagian dari masalah. Perangai sosial-politiknya plin-plan: memprotes kebijakan kala di luar struktur, dan membela yang diprotes saat di dalam struktur. Murid inginkan manusia insan yang ia setarakan dengan poststrukturalis—aliran filsafat yang diprakarsai oleh Ferdinand de Saussure dan Claude Levi-Strauss.

Manusia fenomenologis yang disebut Murid, mengingatkan saya asal istilah fenomenologi itu sendiri. Yakni dari kata Yunani, phainomenon, artinya penampakkan sesuatu (appearence of thing). Bentuk jamaknya, phainomena, yang diserap dalam bahasa Indonesia menjadi fenomena-fenomena. Arti tunggalnya, fenomena. Kerap disebut juga gelaja, atau gejala-gejala. Sesuatu yang tampak itu berupa apa saja yang muncul dalam kesadaran setiap manusia. Misal, hujan, gerhana matahari, aktivitas manusia, kemacetan, dan seterusnya (lih. Kahija, 2017).
Tetapi, fenomenologi tak sebatas itu. Martin Heidegger mengatakan, setiap manusia mengalami fenomena dan memaknai fenomena yang dialaminya. Tercermin juga dalam pandangan ahli psikologi agama Carl Gustav Jung, bahwa “untuk memahami jiwa harus dengan jiwa” dan jiwa seseorang tak sama dengan jiwa yang lain karena mereka mengalami fenomena atau pengalaman hidup yang dimaknai berbeda.”(Kahija, 2017). Sebagai aliran filsafat, kata Valasquez, fenomenologi menelisik esensi segala sesuatu yang hadir dalam kedasaran seseorang (Zaprulkhan, 2018).

Dari Heidegger, Jung, dan Valasquez tereksplisit bahwa tak ada generalisasi dalam fenomenologi, karena setiap manusia juga memiliki keunikan tersendiri, sehingga untuk memahami manusia secara fenomenologis, termasuk di komunitas maupun birokrasi modern, tidak bisa dengan pikiran yang positivistik. Apalagi sewenang-wenang.

Seorang pemimpin komunitas atau birokrasi modern misalnya, di samping menjalankan pranata birokrasi yang ada termasuk yang diimpor dari Barat, sejauh itu baik, juga memaknai sendiri kepemimpinannya. Ada yang memaknai sebagai pengabdian tanpa pamrih pada negara dan bangsa, ada pula yang memaknai sebatas menafkahi keluarga, dan seterusnya. Memaknai kepemimpinan semacam ini manusiawai, dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

Makna itulah yang saya kira luput dari perhatian Murid, sehingga sewenang-wenang
menyetarakan manusia berkadar basyar dengan manusia yang disebutnya fenomenologis. Dan, jika bersandar pada Heidegger, manusia yang bermutu insan itupun mengalami dan memaknai fenomena yang hadir dalam kesadarannya. Wallahu a’lam. [**]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: