poskomalut.com
baner header

Ular Sanca, Ular Matabuta, Anjing Tanah

Murid Tonirio (Pengajar Fak. Ushuluddin IAIN Ternate)
Oleh: Murid Tonirio
(Pengajar di IAIN Ternate)

BERCERITALAH Om Adnan Amal (almarhum), tentang ular sanca dan ular mata buta di Masjid Darul Arqam, Kampung Makassar Jalan Dara, Ternate, setelah shalat Jum’at. Alkisah, ular mata buta, “lako sone” dan ular sanca, “gumi lamo”, baku sigaro saling melukis. Aturan disepakati; mereka saling melukis dengan bentuk yang seindah-indahnya. Lako sone duluan melukis sanca.

Dengan tulus, mata buta melukis gumi lamo dalam bentuk dan paduan warna paling indah. Panjang dan besar tubuhnya proporsional. Giliran sanca melukis lako sone. Tetapi gumi lamo ugal-ugalan; melukis lako sone dengan hanya mencoret-coret sembarang – ka yo si fuya-fuya ku. Mata buta protes. Apa daya, ia terlalu kecil. Lagian, kalau terus memrotes, sanca bisa berhenti melukisnya. Sialnya, sebelum sanca selesai melukis, hujan datang. Jadinya, si lako sone menjadi ular paling jelek; berwarna hitam, tanpa mata pula.

Orang-orang Galela takut pada gumi lamo karena ular ini sangat kuat. Bebek yang lengah dalam kandang atau ayam yang tidur lelap di atas pohon, dengan muda dilahap anak-anak sanca. Sang tuan yang mendengar bebeknya atau ayamnya berteriak dengan suara tercekik, harus sangat hati-hati untuk menyelamatkan hewan piaraannya. Meski penakut, sanca sangat gesit melepas mangsa untuk menyerang manusia. Gumi lamo besar dapat membunuh sapi dewasa dalam waktu tidak cukup satu jam. Daya lingkarnya memang dahsyat.

Ada pun lako sone ditakuti karena bergerak tanpa arah. Ular mata buta paling senang beristirahat malam di bawah gundukan buah kelapa yang baru dibelah kemarin. Maka, orang-orang yang bekerja mencungkil daging kelapa, dalam posisi melingkari gundukan kelapa, mesti senantiasa waspada. Sebab, begitu buah kelapa makin habis, lako sone mulai panik. Ia menyelamatkan diri berlari meliuk-liuk ke segala arah. Jika keadaan ini terjadi, semua orang akan bubar menyelamatkan diri naik ke para-para.

Bahayanya, kalau si mata buta masuk ke dalam celana (panjang). Konon, cairan putih yang dikeluarkan lako sone yang mengenai kulit, bisa mengakibatkan lepra (pado atau kandala).
Lama saya tidak memahami maksud Om Nan, menceritakan kelakuan sanca dan mata buta. Kami mengobrol lagi di masjid yang sama ba’da shalat Jum’at. Kali ini, almarhum berkisah keadaan sosial-budaya-politik-ekonomi Maluku Utara – setelah provinsi diperoleh dengan berdarah-darah – yang menurutnya kian kemari terjadi makin tidak karu-karuan. Dengan sedikit menggerutu, Om Nan menyebut “lofrak” beberapa kali. Lofrak adalah lobang yang dibuat di tanah, menjadi tempat persembunyian serdadu yang takut serangan musuh. Sampai di sini, saya masih belum mengerti juga ke mana arah cerita Om Nan.

Saya akhirnya memahami benak almarhum saat beliau mengatakan: “Torang pe pemimpin banyak bermentalitas lofrak”. Saya tersenyum. Apa hubungannya dengan gumi lamo dan lako sone yang diceritakan tempo hari?, tanya saya. Duduk di atas kursi yang dibawa sendiri dari rumah, beliau menatap saya yang duduk di lantai. Om Nan melepas senyum tipis. “Aaaa…, na sahe-ka; ya… kamu sudah mengerti”.

Cerita kami – antara bapak dan anak ideologis – berkembang menjadi diskursus pemimpin tidak bertanggung jawab. Tetapi karena Om Nan tidak merinci ciri pemimpin bermentalitas lofrak. Namun, melalui ilustrasi gumi lamo dan lako sone, saya hanya bisa mengimajinasikan “potongan” pemimpin tidak bertanggung jawab yang dibayangkan Om Nan, telah menjadi fenomena umum dalam politik-kepemimpin di Maluku Utara kini.

Dalam memahami pola kepemimpinan di Maluku Utara kini, pertama-tama kita mesti memiliki imajinasi kebudayaan yang salah satunya muncul melalui folklor, seperti kisah ular sanca dan ular mata buta. Dalam arti ini kita dituntut bagaimana memahami perumpaan digunakan suatu komunitas untuk menjelaskan gejala sosial-budaya-politik yang mereka alami. Berangkat dari sini, kelakukan gumi lamo dan nasib sial lako sone akan menjadi kisah tentang kelakukan politik.

Orang Galela menggunakan ular sanca untuk menggambarkan prototipe orang tidak bertanggung jawab. Gumi lamo juga dipakai sebagai pengumpama orang pemalas, tetapi suka culas, dan pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, “wewede, la o ma gumi lamo ku ma gena – ah, dia bikin diri layaknya ular sanca saja”. Kalimat itu biasanya digunakan untuk menggambarkan si pemalas yang banyak akal dalam babari, tetapi banyak makan (tesere); lalu tidur setelah makan.

Dalam konteks politik kepemimpinan, kalimat di atas digunakan untuk merepresentasi pemimpin tidak bertanggung jawab yang bersikap masa bodoh. Sedemikian keberatan warga pun tidak dihiraukan; bahkan rela menghianati orang yang dimimpin sejauh kepentingannya, jabatannya dan hubungannya dengan atasannya tidak terganggu. Mereka tega berbuat seperti itu karena seperti gumi lamo, yang lupa bahwa dia menjadi ular berwarna indah dan kuat karena diularkan lako sone, pemimpin menjadi tidak bertanggung jawab lantaran dia lupa bahwa dirinya menjadi seseorang karena diorangkan oleh orang lain.

Dalam hal ini, pemimpin yang tidak bertanggung jawab adalah dia atau mereka yang sebelumnya tidak punya apa-apa, kemudian memiliki apa-apa. Orang-orang Maluku Utara menyebutnya mereka yang mulanya hanya “punya sukupapa; dudukan ibu-ibu saat memasak di dapur tungku perapian duduk, kemudian menjadi seseorang (pemimppin) karena diorangkan orang lain (rakyat). Setelah itu dia atau mereka lupa, bahkan menghianati orang-orang yang mengorangkan dirinya.

Keadaan mental (lupa diri) seperti itu terbentuk karena saat memimpin mereka menjadi bukan sebagai subyek-diri, melainkan obyek dari struktur belaka. Orang-orang seperti ini biasanya ingin selalu tampil perkasa. Dan agar tampak perkasa, mereka membuat aturan untuk menyulit-nyulitkan hal-hal yang sebenarnya mudah. Cara itu dipilih, salah satunya untuk menutupi ketidakmampuan. Mirip sanca, si penakut, yang bersembunyi di lobang menunggu mangsa yang lengah lewat.

Selain itu, mereka menjadi pemimpin tidak bertanggung jawab karena saat menjadi pemimpin, meraka telah mencerabut (bedakan dengan tercerabut) dirinya dari akar sosial-budaya yang dihuni leluhur dan dirinya. Dengan itu, mereka membayangkan dirinya seakan-akan tidak memiliki masa depan lagi yang dibangun bersama orang lain.

Oleh karena telah mencerabut diri dari akar sosial-budaya, yang menjadi sumber kelakukan hianat, mereka kemudian berperilaku seperti anjing tanah; orang Galela menyebutnya suru-suru, arti konotatifnya “tikam-tikam tanah”, yang selalu memendamkan tubuhnya di dalam tanah. Namun, kepalanya sedikit dikeluarkan ke permukaan dan segera mundur lagi ke dalam tanah agar tidak berpapasan dengan hewan atau orang yang mungkin lewat.

Seperti gumi lamo dan lako sone, suru-suru digunakan oleh orang Galela untuk menggambarkan dengan nada meledek, pemimpin tidak bertanggung jawab yang suka menghindari rakyat, karena takut ditagih melakukan sesuatu untuk kebaikan bersama. Orang Galela menggambarkan penghindaran tanggung jawab yang dicirikan dengan menghindari bertemu warga, melalui posisi tubuh dalam berjalan: “Ka awi/ami besuno – dia laki-laki/perempuan yang berjalan dengan tubuh yang melintang”.

Tubuh yang melintang, adalah representasi ketidakcakapan memimpin, sehingga keputusan yang diambil selalu menimbulkan masalah; atau seorang pemimpin yang bermasalah dengan dirinya sendiri, pada satu sisi, psikologi-maco (jiwa yang kecele; di atas rasa madhe, malu), oleh ledekan dari mereka yang dipimpin. Ledekan yang disebarkan dalam senyap, menurut James C. Scoot, selalu menjadi “Senjata Orang-Orang Kalah” yang paling ampuh. **

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: