poskomalut.com
baner header

Peringati Hari Tani Nasional, Walhi, Slavery dan Gaps Gunakan APD

TERNATE-PM.com, Peringatan hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September 2020, oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Malut, bersama Komunitas Slavery dan Gaps (Generasi Anti Penindasan) terbilang unik. Bukan saja melakukan orasi, gerakan peringati hari tani ini juga diiringi aksi teatrikal dengan dilengkapi banyak atribut.

Enam orang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) sebagai bentuk dukungan kepada bangsa ini yang masih dalam suasana pandemi Covid-19. Ada juga yang berpenampilan layaknya petani, dilengkapi bakul (saloi), juga ada yang berbentuk pohon sebagai protes kepada negara yang lebih mementingkan korporat asing ketimbang rakyat. Selain itu, massa aksi juga membawa spanduk yang bertuliskan protes terhadap perampasan ruang hidup di Maluku Utara.

Aksi yang terdiri dari 20 orang ini, dimulai dengan rute dari Kantor RRI Ternate, Kemudian di depan Pasar Higienis Bahari Berkesan dan terakhir di Taman Nukila.

Koordinator aksi Sahman Sapsuha mengatakan, aksi yang dilakukan sebagai bentuk protes terhadap perampasan ruang hidup di Maluku Utara, terkhusus di Gane Halmahera Selatan yang dilakukan Perusahaan PT Korindo.

“Ada dua hal dalam aksi refleksi Ini, yang pertama; mengkampanyekan belum sejahteranya para petani atas ruang-ruang hidup dan sumber kehidupanya. Dan kedua, kenapa protes menolak PT. Korindo? Itu sebagai protes, karena PT. Korindo sudah merampas ruang hidup masyarakat Gane,” sebutnya.

Sementara, Fahrizal Dirhan Staf Manajer Pendidikan dan Pengorganisasian Rakyat Walhi Malut menyebutkan, penggunaan APD dalam aksi yang digelar itu merupakan dukungan Walhi terhadap masyarakat dunia, khususnya Indonesia yang saat ini masih dilanda pandemi Covid-19.

“Kenapa massa aksi hanya 20 orang. ini juga berhubungan dengan Protap Walhi Nasional, bahwa segala macam kegiatan yang dilakukan Walhi harus memenuhi standar protokol kesehatan. Juga sebagai komitmen bersama, untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19,” tuturnya.

Lanjutnya, yang terpenting dalam aksi ini kata dia, adalah isi yang dibawah dalam momen memperingati hari Tani Nasional bisa tersampaikan. “Isu sentral yang dibawah, diantaranya; hentikan aktivitas PT Korindo di Gane Halmahera Selatan dan tolak Omnibus Law,” kata Fahrizal.

Harapannya, kata dia isu ekspansi monokultur sawit yang ada di Gane tepatnya di Kecamatan Gane Barat Selatan dan Gane Timur Selatan Kab. Halmahera Selatan yang selama ini dikawal Walhi Malut bisa terpublikasi dan dikonsumsi banyak masyarakat Maluku Utara.

“Masyarakat harus mendapatkan kembali hak-haknya atas tanah. Kerusakan ekologi yang terjadi di area konsesi PT Korindo bisa dicegah, sehingga tidak masif lagi,” harapnya. (red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: