poskomalut.com
baner header

Buntut Liput Unjuk Rasa, Handphone Milik Wartawan di Ternate Dirampas “Polisi”

TERNATE-PM.com, Tindakan represip atau upaya menghalangi watawan saat meliput rupaya masih dilakukan oknum polisi. Hal ini terjadi saat salah satu wartawan media online koridormalutm.com, Fikram Sabar sedang meliput aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di depan Mapolres Ternate, Kamis (29/10/20).

Diketahui, aksi gabungan beberapa eleman mahasiswa ini menuntut agar pihak Polres Ternate membebaskan 14 mahasiswa yang ditahan, buntut dari unjuk rasa Rabu (28/10) kemarin. Bukannya mengabulkan permintaan massa aksi, pihak kepolisian justru membubar paksa unjuk rasa dengan alasan mengganggu ketertiban umum.

Dalam pembubaran ini, sejumlah mahasiswa pun diamankan pihak kepolisian. Saat proses itu, para wartawan mencoba mengambil gambar untuk keperluan pemberitaan. Namun, dua oknum polisi menghalangi dengan merampas alat atau handphone milik wartawan.

“Saat melakukan peliputan, handphone saya dirampas saat sedang mengambil dokumentasi,” ungkap Ikram, kepada sejumlah rekan pers yang lain.

Tindakan represif yang diduga melanggar UU Pers itu, kata dia, terjadi sekitar pukul 15.57 WIT. Sepengakuannya, oknum anggota kepolisian ini, tidak hanya mendorong dan meminta dirinya untuk tidak merekam peristiwa yang ada. Tetapi juga mengeluarkan bahasa-bahasa yang menurutnya sangat menyakitkan profesi jurnalis.

“Padahal saya sudah mengatakan bahwa saya ini pers dan saya sedang melakukan tugas saya. Tetapi hal itu kemudian tidak diindahkan,” pungkas Ikram.

Saat dikonfirmasi, Wakapolres Ternate Kompol Jufri Dukomalamo menyebutkan, aksi pembubaran paksa ini buntut dari tidak diindahkannya peringatan membubarkan diri secara tertib yang disampaikan.

  1. “Kita terpaksa bubarkan secara paksa, karena juga ada percobaan pemukulan terhadapan anggota kita (polwan),” sebutnya.

Sementara, soal ada dugaan oknum polisi yang mencoba menghalangi wartawan saat melakukan peliputan, kata dia, lebih pada kurangnya komunikasi (diskomunikasi).

“Kadang-kadang kita dilapangan inikan anggota kita tidak terkontrol. Sehingga, dalam keadaan chaos kita juga berharap ke teman-teman wartawan jangan berhadapan. Minimal, kalau teman-teman wartwan ingin mengambil gambar harus memberitahu teman-teman anggota,” tuturnya.

Kata dia, sebagai profesi yang sama-sama dilindungi UU, kepolisian dan jurnalis harus saling berkoordinasi.

“Kalau tadi itu akibat kurang komunikasi, secara inatutusi kami minta maaf,” terangnya.

Wakapolres bilang, jika dugaan adanya oknum anggotanya benar melakukan tindakan menghalangi tugas wartawan dalam melakukan peliputan akan ditindak tegas.

“Kita akan proses oknum anggota kita yang diduga menghalangi kerja wartawan. Jika terbukti,” tandasnya. (red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: