Adik Walikota Ternate Diperiksa Penyidik Polda Malut

Ilustrasi Mafia Pajak

Terkait Pajak Boom Donut Bakery Cake

TERNATE-PM.com, Diam-diam Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah kota Ternate Ahmad Yani Abdurrahman mengaku dirinya beberapa kali diperiksa tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku Utara (Malut) dari awal tahun 2018 hingga sekarang terkait pajak Boom Donut Bakery Cake.

Kasus tersebut ditangani pihak Ditkrimum Polda Malut, karena
dilaporkan langsung oleh manager Boom Donut Bakery Cart, bahwa pegawainya
inisial S membayar pajak ke pihak Dinas tidak sesuai yang dilaporkan.  Diketahui Boom Donut Bakery Cake membayar pajak
sesuai omset per bulanya hingga Rp 30 juta. Bahkan lebih, tetapi salah satu pegawai
dengan isisial S membayar hanya Rp 1 juta per bulan. “Dalam kasus ini, saya
sudah beberapa kali diperiksa penyidik,” ungkap adik Walikota Ternate itu kepada
wartawan, Selasa (19/11) di ruang kerjanya

Dia berjanji selalu bersedia jika dipanggil penyidik
Ditreskrimum Polda Malut untuk dimintai keterangan.“Jika kedepan dipanggil lagi,
saya sudah pasti bersedia,” katanya. Ia menambahkan, pembayaran pajak  Boom Donut Bakery Cake tidak menentu. Pembayaran
pajak besar, jika omset besar. Juga sebaliknya, pembayaran pajak kecil kaerena
omzet kecil. “Iya biasanya perbulanya Rp 20 juta per bulan hingga Rp 35 juta
per bulan. Prinsipnya tidak menentu atau bervariasi kadang angkanya besar,
kadang pula kecil,” jelasnya.

Dia merincikan, pegawai dengan inisial S melakukan
pembayaran pajak dari tahun 2012 hingga 2019 hanya Rp 1 juta per bulan. “Setelah
melakukan pemeriksaan baru kami temukan, dan permasalahannya bukan di pihak
kami, tetapi di pihak mereka,” akunya. Setelah kejadian ini, kata Ahmad pihak
Boom Donat langsung membayar pajak sesui omset yang mereka dapatkan.  “Mereka sudah bayar sesuai omset ada Rp 25
juta, Rp 27 juta hingga Rp 30 Juta,” akunya.

Sementara itu Menager Boom Donut Bakery Cake Wildan
Andrianzah kepada wartawan mengatakan pegawai dengan inisial S ini adalah orang
kepercayaan bosnya, sehingga ia dipercayakan untuk mengurus soal pajak. “Setiap
kali S mengambil uang dari perusahaan Rp 15 juta, tetapi ia bayarkan ke dinas
hanya Rp 1 juta,” katanya. Wildan menambahkan, dari dinas mulai resah di bulan September
dirinya di panggil oleh dinas dan ditanyakan kenapa omsetnya di beli begitu
banyak, tetapi pajak per bulanya hanya Rp 1 juta.

“Saya di panggil oleh dinas, dan di tanyakan kenapa bayar hanya Rp 1 juta, tetapi saya bilang bukan Rp 1 juta,” jelasnya. Wildan pun membawa bukti yang diberikan oleh S, dan di cocokan dari pihak Dinas. Hasilnya berbeda, pihaknya menerima bukti pembayaran yang sudah di palsukan si S. “Kami cocokan ternyata berbeda, data kami sudah dipalsukan si S,” akunya lagi. Setelah mengetahui orang kepercayaan bosnya melakukan dugaan penipuan, dirinya langsung membuat Laporan Polisi (LP) ke Ditreskrimum Polda Malut untuk di proses. “Akhirnya saya membuat LP, dan saya sudah diperiksa lebih dari 3 kali oleh penyidik,” tuturnya. Terpisah Kabid Humas Polda Malut AKBP Adip Rojikan saat di konfirmasi mengatakan dirinya bakal mengecek perkembangan kasus tersebut sudah sampai dimana dan akan diinformasikan. “Perkara ini saya cek ke satker bersangkutan dulu ya, nanti saya infokan,” singkatnya. (nox/red)

Komentar

Loading...