poskomalut.com
baner header

Ikan Mati dan Perubahan Air Laut Karena Blooming Alga

TERNATE-PM.com, Laboratorium Forensik (Labfor) Makassar akhirnya mengeluarkan hasil penelitian, terkait dengan ratusan ikan mati mendadak dan perubahan permukaan air laut di Pulau Makian dan Kota Ternate beberapa waktu lalu.

Kapolda Maluku Utara (Malut) Brigjen (Pol) Rikwanto kepada wartawan Rabu (4/3/2020) mengatakan, dari hasil uji Labfor Makassar menyatakan ikan yang mati mendadak di Makian dan Ternate bukan karena adanya merkuri atau pencemaran lingkungan tetapi karena adanya fenomena alam yang terjadi di bawah laut. “Semantara dari hasil uji Leb Makassar yang kita dapatkan merupakan fenomena alam dan tidak ada pencemaran dan lain-lain,” ungkap Kapolda saat dikonfrimasi di sela-sela kunjungan ke kantor Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda (Ditpolairud) Malut.

Kapolda menambahkan, fenomena alam atau Blooming Alga merupakan fenomena alam biasa karena banyaknya selat di wilayah perairan termasuk di wilayah perairan Malut. “Ada alga yang tumbuh menyerap oksigen, makanya dari hasil Labfor terhadap ikan yang mati bukan karena adanya penecemaran,” kata Kapolda.

Sementara itu, Direktur Polisi Perairan dan Udara (Dirpolairud) Polda Malut, Kombes Pol Raden Agung Jarod Riyadi mengatakan, hasil sementara untuk sampel air yang ada di Makian dan Ternate tidak memiliki kandungan kimia. Karena menurut Jarod, hasil uji air untuk Makian memiliki PH7 dengana artian normal sementara untuk air laut Ternate miliki PH6 yang masih dikategorikan normal dan tidak mengandung zat atau pencemaran.

“Mereka (Labfor) telah membandingkan air yang berubah warna dan air yang jernih tapi hasilnya sama-sama PH7 untuk pulau Makian sementara untuk Ternate air jernih dan yang berubah warna PH6 dan itu masih batas normal,” katanya. Untuk hasil uji sampel ikan lanjut Jarod, tim Labfor Makassar jug melakukan perbandingan antara ikan mati dan ikan hidup dan hasil uji menyatakan bahwa ikan mati itu tidak ada kandungan kimia.

Dari hasil uji ikan hidup menurut Jarod, tim Labfor yang dipimpin oleh Kasubdit Bio dan Narkotika, AKBP Made menyatakan bahwa, jika air keru yang ada itu mengandung zat kimia maka ikan yang dimasukan itu langsung mati dalam waktu 5 menit. “Disana (Labror) mereka memasukan ikan hidup ke dalam air keru, tapi ikan masih bisa bertahan 6 sampai 7 jam dan itu artinya air yang kita kirimkan itu tidak mengandung zat kimia,” tuturnya.

Jarod mengaku, hasil uji lab Makassar yang dikelaurkan tersebut hampir mirip dengan hasil yang dikeluarkan oleh dinas termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) malut yang menyatakan adanya Blooming Alga.  “Kalau hasilnya hampir mirip, tapi kalau kita (Polairud) tidak melihat dari fenomena alam tapi kita ambil dari sisi kandungan kimia saja,” jelasnya.

Blooming alga merupakan istilah lain dari ledakan alga. Ledakan alga sendiri merupakan suatu kejadian atau kondisi dimana suatu perairan baik kolam, danau, maupun rawa mengalami ledakan populasi plankton yang cukup besar.

Selain itu terdapat juga penyebab lain yang menjadikan jumlah alga dapat meningkat dengan cepat. Salah satunya adalah adanya pemanasan global. Pemanasan global yang semakin meningkat di tahun-tahun ini membuat suhu perairan juga ikut meningkat.

Selain itu, pembuangan limbah yang mengandung banyak fosfat ke perairan seperti limbah detergen rumah tangga juga dapat menjadi faktor penyebab terjadinya blooming alga. Ledakan jumlah fosfat di perairan akan memicu pertumbuhan dan perkembangan alga yang sangat pesat dan tentu akan sangat merugikan berbagai hewan dan tumbuhan air yang hidup di dalam perairan tersebut. (nox/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: