Ini Kata Kuasa Hukum Merlisa Marsaoly Atas Utang Rp3,4 Miliar

TERNATE-pm.com, Masalah utang-piutang (wanprestasi) antara Merlisa Marsaoly dan sang ayah Adam Marsaoly kepada Edi Susanto dan istrinya Azmi Farika sepertinya berbuntut panjang.

Sebelumnya, masalah wanprestasi tersebut sudah disidangkan. Di mana sidang dengan nomor perkara 23/Pdt.G/2023/PN Tte tertanggal 8 Mei 2023. Edi Susanto sebagai penggugat I dan Azmi Farika penggugat II. Sementara Merlisa tergugat I dan Adam Marsaoly tergugat II.

Di mana dijelaskan, para penggugat menuntut kepada tergugat agar membayar utang senilai Rp 3.4 miliar yang dipakai pada saat melaksanakan pekerjaan proyek SMI  jalan dan jembatan di Gebe Halmahera Tengah dengan nilai pagu Rp 11 miliar yang dikerjakan PT Gina (Perusahaan milik Edi Susanto) pada 2019 lalu.  Bahkan dikatakan oleh penggugat bahwa anggaran tersebut dipakai penggugat I dan II untuk kepentingan pilkada.

Merlisa dalam keterangan persnya melalui kuasa hukum, M Bahtiar Husni kepada sejumlah media mengatakan, utang dengan nilai miliaran rupiah yang dialamatkan kepada kliennya atas tuduhan anggaran tersebut dipergunakan dalam pemilihan Wali Kota (Pilwako) Ternate 2020 tidak benar adanya.

Bahtiar menyebutkan, bahkan saksi atas nama Juanda yang dihadirkan dalam persidangan baru-baru ini, hanya mengungkapkan bahwa  dirinya mengetahui utang-piutang lewat catatan-catatan yang sodorkan oleh penggugat I atau dalam istilahnya Testimonium de auditu (Kesaksian atau keterangan karena mendengar dari orang lain). Bukan mengetahui atau melihat secara langsung melalui dibuatnya perjanjian resmi.

"Ini artinya saksi hanya mengetahui pembayaran yang dilakukan penggugat II  menanggulangi terlebih dahulu kebutuhan pekerjaan dilapangan. Sementara terkait penggugat II menggunakan dana perusahaan milik tergugat II yang diperlihatkan beberapa rekening dengan jumlah miliaran oleh kuasa hukum tergugat di persidangan saat itu tidak diketahui pasti  saksi Juanda,” ucapnya, Jumat 28 Juli 2023 kemarin.

Tak hanya saksi Juanda, ungkapan yang tak jauh berbeda disampaikan saksi Sumarno (Karyawan).

Ia menerangkan besaran utang Rp 3.4 miliar, baru diketahui setelah ditunjukkan penggugat I lewat rekapan bukan perjanjian yang dibuat. Begitu juga dengan saksi Rudi Jafar dan Saksi Ana, mereka hanya mengetahui penggugat II melakukan penarikan uang senilai Rp7 rtus juta dan Rp1 miliar lewat rekening perusahaan. Meski demikian, saksi dengan terbuka mengatakan bahwa ia tidak mengetahui dan melihat uang tersebut diserahkan kepada tergugat II.

Untuk pembayaran material, BBM dan upah tukang, kata Bahtiar, hanya dilakukan melalui bukti transfer penggugat II. Selain itu, selama tergugat melakukan aktivitas pekerjaan menggunakan alat AMP milik para tergugat juga belum dilakukan pembayaran yang kisaran miliaran rupiah.

Sehingga itu, dalam waktu dekat, pihaknya bakal melakukan penagihan disertai pengambilan semua proyek milik para tergugat mulai dari para penggugat bekerja hingga berhenti. Dan, akan dilakukan pula audit dengan menggunakan lembaga audit publik sebagai langkah hukum  karena sesuai bukti print out rekening koran terdapat jumlahnya puluhan miliar yang selama ini tidak diberikan pertanggung jawaban kepada tergugat I sebagai pemilik perusahaan.

"Prinsipnya pekerjaan yang dilakukan penggugat menggunakan alat berat milik tergugat belum dibayarkan dan ini sudah kami ajukan gugatan rekonvensi (gugatan balik) hak-hak dari pada klien kami. Sebab ini harus dibuktikan terlebih dahulu,” katanya.

Sementara Merlisa Marsaoly dikesempatan itu menuturkan bahwa, ia sebenarnya tidak mau berpolemik lebih jauh masalah perdata tersebut karena tahapan sidang masih berjalan.

Meskipun begitu, merilisa menimpali tuduhan tidak membayar BBM dan material. Sebab kata dia, pada 11 Agustus 2021, Azmi Farika membeli BBM dan beberapa material pasir dengan  rincian harga sebesar Rp 6 ratus juta. Di tambah dengan material yang dipesan lewat kapal  senilai Rp 1 miliar. Sementara untuk pengadaan aspal, ia sedirilah yang memesan dan membayarnya.

"Jadi Rp 7 ratus saya transfer, Rp 3 rus cash. Nah, setelah itu semuanya sudah dibayar dengan selang waktu beda cuman tiga hari sesuai rincian yang dikasih Azmi Farika. Sekarang sudah tahun 2023,  kenapa harus ditulis dan diungkit seakan-akan ini masih menjadi hutang seperti itu. Jadi ini sebenarnya masalah ini internal perusahaan, akan tetapi dia (Edi Susanto) menghubung-hubungkan terlalu banyak yang pada akhirnya membuat orang lain tidak paham,” cecarnya

"Saya tidak ingin banyak berkomentar, tetapi saya berharap persidangan ini berjalan dan cepat selesai. Kami sudah menyiapkan kan saksi juga yang akan hadir pada saat persidangan lanjutan nanti,"sambungnya mengakhiri.

Komentar

Loading...