poskomalut.com
baner header

Membaca Pelantikan Secara Sosiologis

Oleh: Rahmat Abd Fatah (Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan Direktur Central For Study Of Religion, Election And Democracy (CESREAD) Maluku Utara)

Pelantikan ialah sebuah pemaknaan janji yang diformalkan. Itu sebabnya pelantikan hanya berjalan sesaat tetapi imajinasi, harapan dan mimpi-mimpi yang dilantik tidak pernah usai, begitu usai pelantikan. Selamat atas dilantiknya Bapak Hi. Usman Sidik dan Ustadz Basam Kasuba sebagai Bupati Halmahera Selatan periode 2021-2025. Sebuah momentum dimana setiap orang memberikan makna yang berbeda, begitu pula keduanya yang dilantik juga meng-alasi pelantikannya dengan pemaknaan sebagai proses subyektif setiap personal atas fikiran, hati dan keyakinan dari segala dinamika yang mengitari proses produksi pengetahuannya terhadap masyarakat yang hendak dipimpinnya.

Pelantikan mengisyaratkan pemaknaan dasar pengetahuan bahwa saat dilantik mereka telah memiliki imajinasi yang kuat untuk melihat masa depan dengan jelas, sebelum jelas bagi orang lain. Karenanya fikirannya dipenuhi dengan imajinasi futuristik; Jauh ke depan tentang apa yang mesti harus dan tidak harus ia lakukan.

Memahami dasar-dasar pengetahuan dan kebutuhan masyarakatnya, dialasi dengan fikiran dan hati yang terbuka untuk “memeluk” keber-agaman (pluralisme) dan keberagaman budaya (multikulturalisme), sembari terus berikhtiar membangun kapasitas warga sebagai subjek. Memberikan harapan baru kesejahteraan lahir dan ketenangan (batin) bagi masyarakat.

Pelantikan juga tidak sekedar bermakna relasi manusia, alam dan segala dinamikanya. Tetapi juga relasi subyektif transcendental dengan Tuhannya yang turut hadir berada dan teduh pada wilayah kesadarannya, menuntun, mengarahkan juga sebagai kompas. Sehingga darinya lahir motif yang benar dari semua pemaknaan yang ada. Motif yang benar akan menentukan bagaimana cara dan sikap seseorang mengambil keputusan terbaik. Karena itu janji ialah ikatan keyakinan pada Rabbnya yang turut pula hadir di setiap dimensi kepemimpinan.

Menafsir Max Weber, seorang tokoh sosiologi klasik maka pelantikan juga tidak sekedar dimaknai oleh yang dilantik, tetapi juga bagi semua yang hadir dan warga di setiap pelosok negeri juga memberikan pemaknaan yang berbeda-beda terhadap pemimpinnya yang sedang melakukan prosesi pelantikan. Maka proses pemaknaan dimulai dari motif dan orientasi personal yang diarahkan pada orang lain (Pemimpin terpilih) atau kehidupan sosialnya. Weber menyebutnya dengan pemaknaan tindakan sosial berorientasi rasional instrumental, tindakan rasional nilai, tindakan tradisional dan tindakan afektif.

Maka pelantikan ialah alat legitimasi kekuasaan bagi yang sedang dilantik maupun oleh orang-orang yang selama ini jatuh bangun memikirkan, berjuang bersama, mengorbankan waktu bahkan finansialnya untuk kemenangan calon pemimpin yang diusungnya. Maka suda barang tentu semua energi yang sudah diberikan sebagai bagian dari tim pemenangan calon harus mendapat “kue” kekuasaan yang menjadi motif dari tindakan sosialnya. Inilah yang disebut dengan tindakan rasional instrumental. Pemaknaan rasional instrumental biasanya berada pada titik terdekat tim pemenangaen, baik politisi, aktivis, pengusaha maupun ruhaniawan.

Sementara proses pemaknaan rasionalitas nilai terjadi di kalangan masyarakat dan kemudian mengecil jumlahnya pada tim pasangan calon, aktivis dan ruhaniawan. Bahwa sungguh prosesi pelantikan hanyalah formalitas pengucapan janji. Tetapi wujudnya ialah kebijakan-kebijakan yang berpihak untuk semua. Bahwa seorang anak yang lahir dalam kemiskinan, pada akhirnya tahu bahwa ia memiliki keyakinan, harapan dan kesempatan untuk juga berhasil sebagaimana yang lain. Karena ia adalah bagian dari warga Halmahera Selatan dan setara. Bukan hanya di mata Tuhan, tetapi juga di mata kemanusiaan (Kebijakan dan kebijaksanaan hidup pemimpinnya).

Dalam orientasi rasionalitas nilai, warga memberikan pemaknaan juga harapan baru kepada pemimpinnya. Bahwa partisipasi mereka dalam memilih adalah untuk perubahan. Dan sebuah perubahan dalam perspektif Weber, dapat hadir jika masyarakat di letakkan pada posisi kunci sebagai subjek perubahan. Jalannya ialah spirit agama dan ekonomi sebagai dasar filosofi dan orientasi masyarakatnya yang mewujud nyata kesejahteraan. Bahwa pemimpin menciptakan suasana produktifitas warganya, memfasilitasi pengetahuan, alat sekaligus menggandakan semangat dan optimisme warga. Menafsir sosiologi Weber (Spirit Agama dan Kapitalisme). Masyarakat melalui pemimpinnya memfasilitasi untuk menciptakan kemandirian, kreatifitas, kolaborasi dan pada akhirnya masyarakat memiliki cukup modal (materi) untuk menikmati surganya.

Barac Obama, Presiden Amerika Serikat dalam pidato pelantikan keduanya tahun 2013 mengatakan “Kita memegang kebenaran ini untuk menjadi bukti, bahwa semua orang diciptakan setara, bahwa mereka diberi oleh Pencipta hak-hak tertentu yang tidak terpisahkan, di antaranya adalah kehidupan, kebebasan dan mengejar kebahagiaan.” Hari ini kita melanjutkan perjalanan tanpa akhir, untuk menjembatani arti kata-kata tadi dengan realita zaman sekarang. Karena sejarah menunjukkan bahwa meski kebenaran-kebenaran tadi mungkin sudah terbukti sendiri, tapi tidak pernah terlaksana-sendiri; bahwa biarpun kebebasan adalah karunia Tuhan, tapi itu harus dijamin oleh umatNya di Bumi”. (https://www.voaindonesia.com)

Sementara Sastrawan Amanda Groman pada Rabu (20/1/2021) di Washington, D.C membacakan puisi untuk Joe Biden. Presiden Amerika serikat terpilih berjudul The Hill We Climb. Bahwa “Kita memang jauh dari terpoles, jauh dari pristin, tetapi kita tidak berjuang mencari persatuan yang sempurna, kita berjuang untuk menempa persatuan dengan tujuan menyusun sebuah negara yang berkomitmen kepada semua budaya, warna, karakter, dan kondisi manusia…Jadi kita mengangkat tatapan kita bukan pada hal yang berdiri di antara kita, tetapi pada yang berdiri di depan kita. Kita menutup pemisah karena kita tahu untuk menaruh masa depan kita pertama, pertama harus menyingkirkan perbedaan. Kita menurunkan senjata, sehingga kita bisa meraih tangan satu-sama lain.” (https://www.liputan6.com)

Itulah juga kenapa momentum pelantikan biasanya menyisakan masalah solidaritas di tengah masyarakat. Ada semacam pengkaplingan (jorame) atau bahasa Amanda Groman di atas jika di balik adalah kita sudah terlalu sering membuat batas pemisah di antara kita. bahwa karena tidak mendukukung pasangan calon pilihannya. “Anda, mereka tidak boleh kecuali saya dan kita berada pada posisi ini”. Dimutasi, digantikan dengan dasar yang tidak rasional. Hanya karena sudah menjadi kebiasaan tanpa mempertimbangkan alasan profesionalisme. Inilah yang disebut sebagai tindakan tradisional dalam menafsir pemaknaan tindakan sosial Weber.

Pelantikan juga dimaknai sebagai tindakan afektif. Sebuah ungkapan perasaan emosional, kata hati, bashirah (jiwa) oleh orang-orang terdekat bahkan oleh masyarakat di pelosok desa yang terlampau meletakkan cinta pada pemimpinnya, yaitu Bapak Hi. Usman Sidik dan Utdadz Basam Kasuba. Mereka tidak saja mengikuti prosesi pelantikan dengan air mata tetapi pelan-pelan, berbisik pada Tuhan dengan segenap do’a yang lirih. Menaruh harapan pada Tuhan untuk kesehatan dan kesuksesan amanah kepemimpinan. Dan pada akhirnya semoga amanah kepemimpinan mendapat keberkahan Allah dan legitimasi masyarakat penuh cinta dan kebersamaan di tengah keragaman (budaya) dan keber-agamaan (pluralitas). (**)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: