Pedagang Ikan ‘Ngamuk’, Bangkai Ikan Tiga Hari Berserakan di BP2RD dan Kantor Wali Kota Ternate

Bersebaran, sisa bangkai ikan yang dibuang pedagang ikan dalam kantor BP2RD

TERNATE-PM.com, Puluhan Pedagang Pasar Ikan Gamalama Kota Ternate, Rabu, (18/03/2020) mendatangi kantor BP2RD untuk melakukan aksi protes terhadap beberapa fasilitas yang dinilai tidak tersalurkan dengan baik. Aksi yang dilakukan massa adalah dengan membuang sisa bangkai ikan dari pasar yang tidak diangkut oleh petugas kebersihan.

Sekertaris BP2RD Kota Ternate, Jufri Ali kepada poskomalut.com mengatakan, aksi yang dilakukan oleh pedagang merupakan salah satu aksi yang tidak tepat pada tempatnya. Menurutnya, ketika direkomendasi oleh KPK, BP2RD hanya memiliki tugas sebagai pungutan retribusi di wilayah pasar, sehingga terkait beberapa tuntutan masa diantaranya pembayaran gaji petugas kebersihan adalah tanggung jawab Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

"Anggaran yang tiga ini ada di
Disperindag. Torang berpikir bagini, jangan sampai ada yang profokasi pe dorang
supaya torang tra bisa ba tagi di pasar. Di pasar lao kan mungkin dorang juga
tau permasalahannya," ungkapnya.

Jufri Ali menambahkan, sebelum masa mendatangi kantor BP2RD, mereka telah mendatangi kantor Wali kota Ternate dan melakukan aksi dengan membuang bangkai ikan di depan kantor tersebut.

"Dari awal dorang sudah di sana, di kantor Wali Kota. Pak Sekot coba panggil 5 orang sebagai perwakilan buat lakukan hearing, sayangnya pas beliau keluar mereka sudah tidak ada dan dorang sudah buang sisa bangkai ikan di depan kantor Wali Kota Ternate baru dong kamari," ungkapnya.

Kedatangan pedagang ke kantor BP2RD juga salah
satunya adalah tugas BP2RD yang melakukan penagihan pajak di wilayah pasar
sehingga pedagang menduga yang melakukan pembayaran gaji petugas kebersihan
adalah BP2RD.

"Padahal sebagian besar dari mereka juga
tidak mengetahui persoalan dan hanya ikut ramai saja, jadi dong tra tau posisi
anggaran sebenarnya dimana?, 
persoalannya adalah kenapa gaji pasar bisa tertunda pembayarannya di
Disperindag. Ada apa sebenarnya?," kesalnya.

Tuntutan para pedagang yang melakukan aksi
diantaranya adalah gaji petugas kebersihan yang berada dipasar ikan belum di
bayar, fasilitas lampu dan air yang hingga saat ini sering terkendala.
Menurutnya, aksi yang dilakukan juga berdasarkan arahan dari salah satu petugas
Disperindag yang bernama Anas.

"Jadi kalau dong dengar langsung arahan
langsung dari pimpinan boleh. Kebetulan anggaran dari ketiga tuntutan tadi berada di Disperindag,
karena torang diserahkan kewenangan cuman pemungutan retribusi saja,"
terangnya

Sementara itu, salah satu pedagang ikan, Abud saat dikonfirmasi poskomalut.com mengatakan, aksi yang mereka lakukan merupakan bentuk kekecewaan terhadap fasilitas yang tidak tersalurkan dengan baik tetapi penagihan retribusi selalu dilakukan.

"Sudah tiga hari petugas kebersihan
dorang tra karja karena gaji sudah beberapa bulan tidak dibayar. Akhirnya
kondisi dalam pasar ikan juga menjadi sangat jorok ditambah fasilitas air yang
tidak jalan dan listrik yang sering padam," kesalnya.

Untuk itu, apabila hingga pukul 15:00 WIT
nanti tuntutan mereka tidak terealisasi oleh Pemkot maupun pihak terkait, maka
seluruh pedagang ikan akan melakukan aksi yang lebih besar lagi.

"Kalau dorang tra
datang ke pasar dan tuntutan tadi tra terealisasi maka pedagang samua akan
lakukan aksi lebih besar, bahkan torang akan tutup pasar ini sampai
terealisasi," tutupnya," (OP-red)

Komentar

Loading...