Pusmat dan Bem FKIP Unkhair Gelar Diskusi Pergolakan Pemikiran

Foto bersama usai Diskusi

TERNATE-PM.com, Pusat Studi Mahasiswa Ternate (PUSMAT), bekerja sama dengan BEM FKIP (Unkhair Ternate) menggelar diskusi publik dengan tema, 'Gerakan Kiri: Pergolakan Pemikiran dan Relevansinya di Indonesia,'.

Pantauan poskomalut.com, Rabu (28/12/2020) Ardian Kader, (Presiden Bem FKIP) juga sebagai pihak penyelenggara menyatakan, diskusi yang dilakukan ini melibatkan dua organisasi yakni BEM FKIP dan PUSMAT.

"Dalam diskusi ini kami mengundang empat pemateri yang berbeda, yakni Sukarno M Adam (Direktur Buku Suba Institut), Wawan Ilyas (Akademisi IAIN Ternate), M Rifaldi Fara (Mahasiswa Ilmu Politik UMMU) , dan Rudi Pravda (Aktivis),"kata dia.

Dia menambahkan, tujuan dari kegiatan ini yakni lebih memperbaiki kembali soal kegagalan metode gerakan, yang mana rata-rata metode yang dibangun semuanya gagal, khususnya di Maluku Utara. Dia mencontohkan seperti gerakan Omnibus law, RUPKS, KPK, dan beberapa gerakan Pertambangan yang ada di Maluku Utara.

Disisi lain Sukarno M Adam, sebagai narasumber menyatakan, dalam diskusi ini Ia melihat sebagai suatu dialektika pemikiran, berbagi analisa-analisa, teori yang menyangkut dengan bangunan pemikiran gerakan, apakah ini relevansinya di Indonesia atau tidak.

Lanjut dia, yang Ia pahami dari diskusi ini yakni membangun dialektika pemikiran, disini berbagai ide, dan juga menjunjung tinggi keadilan.

"Dari diskusi ini kita bisa mengembangkan, mencari tahu apasih sebenarnya pemikiran kiri itu, jadi ketika ada orang yang menyatakan (menanyakan) kiri itu apa, ya di diskusi (forum) seperti inilah yang bisa dijelaskan," ujarnya.

Akademisi IAIN Ternate Wawan Ilyas, yang juga seorang Narasumber dalam diskusi publik ini menyatakan, di Eropa, Amerika dan juga di Indonesia, mempunyai konteks yang berbeda, baik secara geografis dan juga sumber dayanya. Hal ini berdampak langsung terhadap pergerakan.

"Jadi soal aspek gerakan kiri, kita sekarang terdapat semacam kelemahan, karena kita tidak menggunakan isu yang lebih substansial sesuai dengan struktur sosiologis orang Indonesia,"ujarnya

Dalam soal epistemologi gerakan, di Indonesia punya frase dan pemikiran yang agak beda dengan konteks di Eropa, Amerika, dan juga yang lain. (Mg03/red)

Komentar

Loading...