poskomalut.com
baner header

Tambang Ancam Budaya Lokal Orang Sagea-Kiya Halteng

WEDA-PM.com, Dampak buruk dari hadirnya perusahaan tambang di Halmahera Tengah, mulai dirasakan. Tahun 2019 lalu, menjadi tahun terburuk lantaran terjadi pemutusan generasi dalam proses memanusiakan manusia. 

Pasalnya, terdapat 19 orang yang baru menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah menengah atas (SMA) di Halmahera Tengah, memilih masuk bekerja di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) ketimbang melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Ini disampaikan, Sentral Kritis Generasi Lagae Lol Sagea-Kiya Kecamatan Weda Utara, dalam diskusi bertajuk “Ancaman Pertambangan Terhadap Kebudayaan Lokal.

Fadli Yunus mengatakan, tema yang diangkat berdasarkan fakta atau realitas yang terjadi di masyarakat Kecamatan Weda Utara, lebih khususnya Desa Sagea-Kiya. Menurutnya, ketika pertambangan hadir membawa banyak dampak, salah satunya pemutusan generasi.

“Karena 19 orang yang telah selesai dari  SMA, kebanyakan tidak lagi lanjut kuliah dan mereka lebih memilih untuk masuk bekerja menjadi buruh kasar di PT. IWIP agar bisa membeli motor bermerk seperti KLX atau D’ Trakcer. Yang itu tidak ada jaminan kehidupan masa yang akan datang,” katanya kepada wartawan baru-baru ini.

Masri Anwar, salah satu pemateri dalam diskusi itu menyatakan, masyarakat harus mempertahankan budaya lokal yang saat ini akan tergeser karena hadirnya pertambangan. Masyarakat juga harus melindungi Goa Boki Maruru dan Telaga Lagaye Lol, serta hutan yang harus dilindungi, jangan sampai hutan juga diklaim sebagai wilayah pertambangan PT IWIP.

“Dua aset ini memiliki cerita sejarah dan ada tempat-tempat ritual yang telah di tinggalkan oleh para leluhur yang sampai saat ini telah diyakini oleh Masyarakat setempat. Ini juga jadi salah satu potensi wisata, makanya harus dijaga agar tidak rusak akibat aktifitas pertambangan,” paparnya.

Sementara itu, Risal Samsudin yang juga selaku pemateri dalam diskusi itu menambahkan, aktifitas pertambangan saat ini menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan, pencemaran air laut, dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS). “Seharusnya Pemerintah Desa Sagea-Kiya tidak mengijinkan pertambangan masuk di Desa Sagea-Kiya. Ini untuk menghindari kerusakan lingkungan,” pungkasnya. (msj/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: