TOBELO-PM.com, Konflik dualisme kepengurusan Gereja Injil di Halmahera (GMIH) antara Sidang Sinode Istimewah (SSI) dan Sidang Sinode Darume (SSD) Membuat Ketua umum Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom harus turun tangan. Gomar lansung meminta GMIH bersatu menuju penyatuan.
Pasalnya konflik GMIH yang terpelihara selama tujuh tahun itu, akhirnya kembali dikumpulkan sejumlah tokoh kedua kubu GMIH untuk membahas penyatuan. Bertempat Hotel Marahai Park Tobelo. Ditengah berkumpulnya tokoh tokoh GMIH baik itu Mantan Bupati dua periode Ir Hein Namotemo dan Bupati Halut Ir Frans Manery hadir ditengah tengah Ketua PGI Gomar Gultom.
Ketua Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI) Gomar Gultom mengajak GMIH untuk kembali pada semangat Persatuan sebagai tubuh Kristus adalah satu,”Kehadiran saya disini adalah dalam rangka mediasi dan bagaimana mengajak kedua kubu GMIH yang berbeda pendapat untuk tetap pada semangat persatuan” ajak Gultom, Senin (04/04)
Orang nomor satu persekutuan gereja Indonesia menjelaskan Secara oraganisasi MPH PGI menegaskan dua kubuh GMIH harus bisa bersatu, tampa harus melihat kebelakang, sebab melihat ke belakang itu seharusnya menjadikan sebagai bahan perenungan. Jika ingin persatuan di tubuh GMIH maka semua kepentingan elit tertentu harus ditinggalkan dan menempatkan Kristus sebagai satu-satunya Kepala Gereja,”Saya rasa ada harapan dan kerinduan besar dari jemaat untuk bersatu, kedatangan kami ke tobelo juga sekalian menyambut prakarsa Bupati Frans Manery dalam upaya mempersatukan GMIH dengan membentuk tim Rekonsiliasi antara kedua belah pihak yang berbeda pendapat,” Jelasnya.
Gomar mengakui bahwa PGI juga juga sangat merindukan kebersamaan semua gereja-gereja di Indonesia, sebab bersatu saja masih menghadapai berbagai tantangan yang berat apalagi ada gereja terpecah-pecah,”Saya berharap kedua belah pihak yang masih berbeda pendapat bersedia melepaskan kepentingan masing-masing dan mulai berpihak pada kebenaran, Jadi jangan masing-masing mau kebenaran berpihak kepadanya tetapi bagaimana kita berpihak pada kebenaran, itu lebih penting ketimbang berpikir bahwa kebenaran ada di pihak kita masing-masing,” Tutupnya.(Mar)


Tinggalkan Balasan