TOBELO-PM.com, Eskalasi politik pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Halmahera Utara (Halut) makin ruwet. Bahkan mendapat sorotan dari Akademi Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Maluku Utara Dr. Aji Deni.

Ia menilai, Bakal pasangan calon (Bapaslon) Joel Wogono-Said Bajak (Joel Said) hanya kandidat bayangan untuk memuluskan niat petahana Frans Manery-Muhlis Tapi Tapi (FM Mantap) kembali berkuasa.

Doktor Ilmu Politik yang juga mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) provinsi Maluku Utara yang biasa disapa Ko Aji itu, memaparkan indikator keraguannya pada keseriusan dua partai penguasa di republik Indonesia PDI-P dan PKB yang terang-terang mengusung Bapaslon Joel-Said untuk menghadang petahana pada Pilkada 2020. Indikator itu, Ia menilai pengusungan Joel-Said sangat tidak rasional dalam rekrutmen elite. Sebab, tidak ada konektivitas antara partai dengan antusias masyarakat. Sementara Bapaslon Joel-Said ini, tidak memiliki antusias masa di akar rumput yang dibuktikan secara Ilmiah. “Partai semakin tidak rasional dalam rekrutmen elite, ini tidak ada konektivitas antara partai dengan antusias massa di akar rumput, kedua cakada yang diusung belum terukur melalui survey,” Ujarnya.

Lanjut Ia, soal Bapaslon Joel-Said memiliki kapasitas politik tidak masalah karena pernah terpilih di DPRD, maupun wakilnya eks birokrat. “Sebenarnya ini peluang partai dalam kompetisi pilkada jika menghadirkan kekuatan figur dengan modalitas ekonomi dan populer,” terangnya.

Lanjut ia, Partai penguasa seperti PDI-P dan PKB, masa partai penguasa kalah di republik ini? Namun pilkada lebih ditentukan oleh lokalisme elite yang kuat, politik modalitas dan akses sumberdaya lintas etnis, agama dan ruang politik. Hasil survey 31 persen yang diraih petahana, harusnya empat Paslon baru bisa mampu menumbangkan Petahana pada Pilkada. Namun ketika kompetitornya lebih dari 4 pasangan untuk memastikan buatlah survey kembali dengan komposisi HEAD TO HEAD, dan 3 pasangan calon ini lebih rasional untuk mengukur tingkat elektabilitas Pasangan Petahana dan pasangan lainnya.

“Kemudian saya meragukan keseriusan PDI-P dan PKB dalam pilkada di Halut, jika figur kandidatnya tidak diunggulkan dalam marketing politik, dan cara mengukurnya melalui survey juga, bukan langsung di usung, ini seperti mainan politin saja,” Ujarnya.

Ia menegaskan, terkait margin selisih suara itu tidak bisa dipastikan, sesuai dengan mimpi Joel-Said untuk menghadang petahana melalui Mahkamah Konstitusi (MK). PKB dan PDI-P seharusnya mengusung elit politik lokal yang memiliki Ektabilitas memalui survei, seperti Bapaslon Haryanto Tantry Kasman H Ahamd (Cun Kasman) sebagai lawan seimbang dengan Petahana.

“Tidak soal margin selisih suara, karena hal itu tidak bisa dipastikan, namun prediksi petahana masih memiliki kans dalam perolehan suara. Memang beberapa pengamat lain memprediksi head to Head masih sulit diprediksi hasilnya, bahkan ada yang berargumentasi bahwa petahana akan kewalahan menghadapi kompetitornya jika head to Head, hal ini bisa terjadi jika partai politik yang mengusung petahana tidak serius bekerja di lapangan, atau bahkan membelot ke pasangan lain,” Cetusnya.

Sementara Sekretaris DPC Irwan Djam mengklaim bahwa SK Rekomendasi PDI P sudah keluar untuk mengusung Joel Said pada Pilkada Halut. Klaim itu, karena berbagai spanduk Bapaslon Joel Said sudah di tempelkan logo Partai PDI P dan PKB dan itu tentunya suda final tinggal menunggu penyerahan.

“SK Rekom sudah keluar ke Bapaslon Joel Said, sampe sudah pasang di Spanduk dan stiker itu berarti sudah selesai, untuk kapan penyerahan kita menunggu jadwal DPP PDI P tahap III,” akhirinya.(mar/red)