poskomalut, Bank Indonesia (BI) mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Maluku Utara tidak sekadar memiliki Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), tetapi aktif manfaatkan dalam setiap aktivitas usaha.

Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya BI memperkuat digitalisasi UMKM sekaligus memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing pelaku usaha di Maluku Utara.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, mengatakan penguatan UMKM dan ekonomi kreatif menjadi penting di tengah pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai 15,35 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada triwulan II 2026.

Hal itu disampaikannya melalui sambungan Zoom dalam rangkaian Festival Salawaku 2026 yang berlangsung di Benteng Oranje, Kota Ternate, Jumat (6/11/2026).

Menurut Filianingsih, pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui penciptaan kesempatan usaha, lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diikuti dengan pemerataan manfaat yang lebih luas. Tantangannya adalah bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut menciptakan kesempatan usaha, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menyebut digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM.

Pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat membantu pelaku usaha memperluas pemasaran, menjangkau konsumen baru, sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi dan pengelolaan usaha.

Karena itu, BI terus mendorong perluasan penggunaan QRIS sebagai bagian dari transformasi digital ekonomi dan keuangan.

“Bagi UMKM, QRIS bukan sekadar alternatif pembayaran, melainkan menjadi bagian dari upaya untuk membangun tata kelola usaha yang lebih baik,” jelasnya.

Filianingsih menegaskan, tantangan ke depan bukan lagi hanya memperluas kepemilikan QRIS, tetapi memastikan teknologi pembayaran tersebut benar-benar digunakan secara aktif dan berkelanjutan.

“Bukan hanya memperluas kepemilikan QRIS, tapi juga meningkatkan penggunaan QRIS secara aktif dan berkelanjutan dalam aktivitas usaha sehari-hari,” tegasnya.

Dorongan digitalisasi tersebut turut dilakukan melalui Festival Salawaku 2026. BI mendorong pelaku UMKM yang terlibat dalam festival untuk membiasakan transaksi nontunai menggunakan QRIS.

Selain memperluas penggunaan pembayaran digital, langkah tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai keamanan transaksi dan perlindungan konsumen.

Di sisi lain, Festival Salawaku menjadi ruang untuk mempertemukan kekayaan budaya, kreativitas, dan peluang ekonomi masyarakat Maluku Utara.

Berbagai produk lokal ditampilkan, mulai dari wastra, kuliner hingga produk UMKM yang memadukan kekayaan tradisi dengan inovasi.

Mengusung tema “Lestarikan Budaya, Kembangkan Karya, Ekosistem Kreatif untuk Ekonomi Inklusif”, Festival Salawaku diharapkan menjadi katalis bagi pengembangan ekonomi kreatif di Maluku Utara.

Filianingsih mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan identitas dan kebanggaan daerah, tetapi juga diharapkan mampu memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi pelaku usaha.

“Festival ini diharapkan menjadi katalis pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha, memperluas akses pasar dan pembiayaan, melestarikan budaya dan pariwisata serta menciptakan nilai tambah ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat secara luas, pungkasnya.

Selain Festival Salawaku, penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui rangkaian road to Salawaku.

Kegiatannya mencakup pelatihan digitalisasi pangan dan kewirausahaan, peningkatan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pengembangan ekonomi pesantren hingga

Mag Fir
Editor