WEDA-PM.com, Warga Desa Masure, Kecamatan Patani Timur, mengaku kesal lantaran mobil pick up milik Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Desa setempat dialihkan fungsikan. Mobil yang seharusnya mengangkut hasil Bumdes yang dikelola Pemerintah Desa. Namun kini telah dialihkan fungsi untuk angkut penumpang dan barang. “Harusnya digunakan untuk menjalankan program Bumdes. Bukan dialihkan untuk angkut penumpang,”ungkap Syafil Damola, warga Masure, kemarin.
Saat ini mobil tersebut digunakan layaknya mobil pribadi yang mengantar jemput penumpang dan barang yang tiba dari Gebe maupun Weda, dengan tarif Rp 50-Rp100 ribu per orang. “Jadi, bukan hanya itu saja, mobil Bumdes ini juga digunakan untuk mengangkat pasir, batu, kayu, serta dimanfaatkan oleh salah satu pengusaha di desa Masure mengangkat kopra dan barang dagangan lainnya,”kesalnya. Lanjutnya, sari hasil muatan dan bayaran itulah sampai sekarang mereka asyik dan tidak bergerak pada usaha Bumdes. Sebab, sopir mobil Bumdes juga keponakan dari pengusaha itu sendiri. “Intinya sebagian besar masyarakat desa Masure ingin agar mobil Bumdes ini lebih fokus pada hasil atau promosi hasil dari Bumdes. Hal ini agar Bumdes yang bergerak di minyak VCO ini lebih maju seperti sebelum mobil ini turun,”paparnya.
Kades Masure, Iswan H. Badar saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Kades mengaku, desa akan mengambil kebijakan untuk melakukan penertiban kembali. “Sementara mobil tersebut sudah diamankan di Rumah saya selaku kepala Desa karena aktivitas Bumdes belum jalan,”ungkapnya.
Dia bilang, sementara ini aktifitas Bumdes belum berjalan, maka pemdes sudah sampaikan ke Dinas PMD untuk membentuk Bumdes Baru sekaligus penataan manajemen kembali. “Jadi mobil ini akan diserahkan kembali ke Bumdes, tapi masi menunggu pembentukan Bumdes baru,”jelasnya.
Sekaligus kata dia, akan dibuat Peraturan Desa (Perdes) tentang tarif angkutan dan pendapatan agar supaya dari pendapatan tersebut sopir yang membawa mobil tersebut bisa digaji lewat SK.(msj/red)


Tinggalkan Balasan