HIPPAMORO Kecam Polisi Penganiaya Sekretaris IKT

Ketua PB Hippamoro Rijalul Fikri Popa

MOROTAI-PM.com, Kasus penganiayaan terhadap Sekretaris Ikatan Keluarga Tidore (IKT) Pulau Morotai Jamaludin, yang diduga melibatkan sejumlah anggota Polisi di Polres Morotai, mendapat kecaman dari publik Morotai.

Kali ini kecaman datang dari Pengurus Besar Himpunan Pemuda
Pelajar Mahasiswa Morotai (PB-HIPPMAMORO) Provinsi Maluku Utara. HIPPAMORO secara
kelembagaan mengecam keras  tindakan penganiayaan yang dilakukan sejumlah
polisi terhadap Jamaludin yang berkapasitas sebagai salah satu Kabid di Dinkes
Morotai, sekaligus Sekretaris IKT Morotai itu.

"PB-HIPPMAMORO Malut mengecam keras atas tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh beberapa anggota kepolisian di Polres Pulau Morotai kepada bapak Jamaludin selaku Kabid di Dinkes dan sebagai sekretaris IKT Morotai," kecam Ketum PB HIPPMAMORO Malut, Rizal Popa kepada koran ini, Minggu (29/12/2019).

Dalam pandangan HIPPAMORO, tindakan yang dilakukan beberapa
anggota kepolisian Pulau Morotai ini, bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di Negara kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, Anggota Kepolisian seharusnya melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat, bukan menganiaya atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Tupoksi Kepolisian itu sendiri. "Ini merupakan sikap yang paling tidak etis yang ditunjukan oknum penegak hukum, kepada masyarakat, polisi penganiaya masyarakat harus dindak secara tegas," kecam Rizal.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2002, Tentang
Kepolisian Negara Republik Indoesia. Didalam BAB I ketentuan umum di pasal 4
dan pasal 5, dan BAB III tugas dan wewenag di dalam pasal 13, pasal 14, dan
pasal 15, sudah jelas. Untuk itu, setelah mempelajari serta mengkaji persoalan
yang kemudian terjadi di Kabupaten Pulau Morotai, PB-HIPPMAMORO Malut dengan
ini menyatakan sikap kepada Kepala Kepolisian Daerah Provinsi Maluku Utara.

"Kami meminta Kapolda Maluku Utara untuk mendesak
Kapolres Pulau Morotai, agar secepatnya melakukan proses penyelidikan dan
penyidikan secara transparansi sesuai dengan kepastian hukum, keadilan hukum
dan kemanfaatan hukum demi menjaga nama baik institusi Kepolisian Republik
Indonesia," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya meminta kepada Kapolda untuk mendesak
Kapolres Pulau Morotai, agar menertibkan seluruh anggota kepolisian yang berada
di Kabupaten Pulau Morotai sesuai dengan UU RI Nomor 2 Tahun 2002, tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Kepala Kepolisian Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara
Republik Indonesia.

"Apabila tuntutan tersebut tidak diakomodir, maka demi
tegaknya hukum di indonesia, PB-HIPPMAMORO Malut akan mengkonsolidasi dan
menggalang Masa seluruh Mahasiswa Morotai di Kota Ternate untuk melakukan aksi
demonstrasi," ancam Rizal.

Sekedar
diketahui,  sejumlah oknum polisi yang
bertugas di Polres Morotai, Rabu (25/12) dini hari, diduga kuat menganiaya
Sekretaris Ikatan Keluarga Tidore (IKT) Morotai Jamaludin. Penganiayaan
terhadap Jamaludin yang juga salah satu PNS di Dinas Kesehatan (Dinkes) itu
dilakukan oleh sejumlah oknum polisi ketika Jamaludin dibawah ke kantor Polres
Morotai. Akibat pemukulan itu, kepala korban pecah dan mengeluarkan darah,
wajahnya memar dan bagian tubuh lainnya bengkak.

Berdasarkan data
yang dikantongi koran ini, kejadian pemukulan itu berawal sekitar pukul 02.00
dini hari. Dimana, seorang oknum polisi diduga dalam keadaan mabuk sedang
memukul sejumlah warga Manado di pasar modern. Saat itu, datanglah korban
Jamaludin dan istrinya Sri Hadad yang juga berkapasitas sebagai Plt Kades Yayasan
bermaksud untuk menghentikan aksi oknum polisi tersebut. "Torang (saya dan
Suami) kasih aman, karena polisi itu pukul trus, dan kami telpon polisi untuk
datang ke TKP, karena dorang dengar polisi datang, tiga orang teman pelaku
melarikan diri, dan pelaku juga hendak lari tapi torang tahan agar jangan
lari." tutur Sri, istri korban kepada koran ini.

Setelah polisi tiba di TKP, bukan menindak pelaku yang juga oknum polisi itu tapi membawa suaminya (korban, red) ke kantor polisi. Disanalah terjadi penganiayaan. "Dong pukul bergantian. Satu masuk, dua masuk begitu, abis keluar lagi masuk lagi. Saya tra hitung berapa orang," jelasnya. (ota/red )

Komentar

Loading...