poskomalut.com
baner header

KemenkumHam Terima Permohonan Izin Paten Produksi Obat STIKMAH Tobelo

TOBELO-PM, Kementrian hukum dan hak asasi manusia (Kemenkum HAM) Republik Indonesia akhirnya menerima permohonan izin paten temuan Obat Sekolah Tinggi Kesehatan Makariwo (STIKMA) Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, dengan nomor Nomor HKI-3-HI.05.02.04.P22201601590-DP 67428 sejak tanggal 17 Februari 2020.

Izin paten itu yakni produksi obat herbal temuan STIKMAH Dimulai dengan mempresentasikan hasil riset dihadapan Biro Oktroi pengelola paten internasional, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Presentase obat herbal itu, dihadiri dari AIPI Prof Dr Tuty Ostrio Msc, Prof Dr Thamrin Tomagola, Sangkot Marzuki AM, MD, PhD DSc, dan tim Paten Biro Oktroi Jakarta.

Pendiri Yayasan Stikmah Dr dr Arend L Mapanawang Sp.PD Finasim mengatakan, pihaknya telah mengajukan permohonan ijin produksi temuan obat herbal ke Menkumham. Selain itu melakukan presentase serta kesepakatan perihal pengembangan suplement kesehatan herbal anti virus yang terdiri dari suplement Corona, HIV/Aids, Hepatitis, dan beberapa bahan obat pencegah penyakit lainnya.

“Kita sudah melakukan pengajuan ijin ke Menkumham, dan sudah diterima, tidak lama lagi, ijin paten produksi akan diterbitkan, Jadi bahan baku dari beberapa hasil riset itu adalah mengembangkan Golarend, Pangiar, xan bintang laut. Kami akan secepatnya membentuk tim kerja, termasuk mengajukan pembiayaan produksi dan riset lanjutan,” katanya, Jumat (06/03/2020).

Menurut dr. Arend, tim yang akan dibentuk juga akan mencari akses ke Sekertaris Negara, BPOM, Kemenkes, bahkan hingga Presiden dan WHO, untuk memperkenalkan hasil temuan riset Stikmah Tobelo, sehingga menjadi produk unggulan Indonesia, atas temuan STIKMAH Tobelo. “Saat ini, sampel bintang laut sudah masuk di beberapa laboratorium, termasuk dilakukan uji virus di laboratirum IPB, uji chemical bonding di kimia LIPI, Asam Amino, dan juga di laboratorium DKI. Sampel juga diuji toxic LD50 di laboratorium Sucofindo, uji Gramisasi di laboratoium PT Saraswati, serta persiapan uji laboratorium in vivo tikus dan manusia di Farmakologi UI,” ujar dr Arend.

dr. Arend menegaskan, tim akan bekerja penuh hingga produk ini bisa bermanfaat untuk manusia. Karena itu hasil riset tersebut perlu dipatenkan oleh Menkumham.“Kami upayakan hasil riset yang sudah menjadi nyata ini dapat dipatenkan oleh Menkumham secara cepat,” tandasnya.(mar/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: