Bagian pantai Celebes yang menjadi tempat pendaratan saya adalah hamparan tanah rendah dan datar, dibatasi pepohonan dan perkampungan yang menutupi daerah pedalaman. Hanya di beberapa daerah terbuka terdapat hamparan sawah yang kosong dan basah. Bukit-bukit yang tidak begitu tinggi menjadi latar belakang.

Makassar adalah kota tercantik dan terbersih di Timur. Di sini, terdapat peraturan lokal pemerintahan Belanda, semua rumah orang Eropa dicat putih bersih. Jalanan di depan rumah harus disiram setiap pukul empat sore. Jalan-jalan dijaga agar bersih dari sampah. Pipa-pipa bawah tanah membawa semua kotoran dan mengalirkannya ke saluran tempat penampungan terbuka. Air kotor tersebut akan masuk ke tempat penampungan saat arus pasang dan hanyut ke laut saat arus surut.

Sepenggal gambaran tentang Makassar abad ke-19 itu terukir abadi dalam mahakarya Alfred Russel Wallace, The Malay Archipelago. Sang naturalis Inggris tersebut pertama kali menginjakkan kaki di tanah Celebes pada 2 September 1856, setelah tiga hari mengarungi laut dari Ampenan, Lombok. Di pesisir ini, sejumput asa dipintalnya: merengkuh hal-hal baru, menjumpai eksotisme belantara yang belum terjamah, dan membiarkan hatinya terpikat pesona Timur.

Lebih dari seabad kemudian—tepat 138 tahun sejak sauh kapal Belanda yang ditumpangi Wallace diturunkan, atau persis ketika awan hitam pembredelan majalah Tempo pada 1994 oleh rezim Orde Baru—giliranku menginjakkan kaki di kota itu. Setelah bertaruh nasib selama dua hari tiga malam di atas kapal pelat merah buatan Jerman, aku berdiri di geladak. Dari kejauhan, saat kapal hendak berlabuh di pelabuhan, mataku dimanjakan gedung-gedung yang menjulang angkuh, berjejer di atas hamparan tanah yang dulunya rendah dan datar.

Lanskap pesisir berubah. Pelabuhan tak lagi menyisakan hamparan pasir tempat ombak berderai lembut. Beton-beton dan tembok kokoh penahan ombak memanjang kaku, seperti memenjarakan garis pantai. Hanya di ujung selatan Pantai Losari, sisa-sisa alam masih bertahan, hamparan pantai kecil ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan berdaun hijau. Di area pelabuhan, pepohonan bisa dihitung dengan jari, menyisakan ruang gersang.

Suasana tenang yang dulu dinikmati Wallace pun menguap, berganti riuh rendah hilir mudik manusia urban. Begitu kapal berlabuh, tak ada lagi batas kenyamanan. Penumpang kelas ekonomi berdesakan berebut turun, penjual makanan memburu konsumen dan para buruh pelabuhan mengincar muatan demi sesuap nasi. Tangga kapal jadi arena saling sikut. Aroma keringat dan ketiak bersenyawa dengan parfum yang menyumbat hidung.

Keriuhan itu tumpah hingga ke luar pelabuhan. Di bawah terik, para penjemput berteriak parau saling bersahutan. Sebagian memilih diam, mengangkat tinggi-tinggi kertas putih besar bertuliskan nama kerabat yang dijemput, agar tidak tersesat di labirin kota. Namaku juga ditulis, kurang satu huruf. Di sela-sela itu, para sopir angkutan umum dan taksi sibuk berebut penumpang. Suara serak mereka berbaur dengan teriakan penjual air mineral, es lilin, tisu, asongan makanan, dan ritme ketukan mangkuk putih penjual bakso keliling.

Di tengah hiruk-pikuk itulah romansaku dengan kota ini dimulai. Dengan taxi, bersama seorang famili yang tengah merampungkan studi, kami menyusuri jalanan sore yang masih menyengat. Rasa gerah dan penat setelah berlayar perlahan luluh oleh embusan AC taxi. Sepanjang perjalanan, mataku tak berkedip, terpaku pada setiap jengkal bangunan baru yang kami lewati di atas jalanan kota yang bercabang-cabang laksana jejaring laba-laba.

Tahun-tahun berikutnya berjalan cepat, mengubahku menjadi perantau seutuhnya yang menghabiskan waktu kuliah. Sisa-sisa pesona masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Sawah-sawah hijau, hutan pohon sagu di rawa-rawa dan tanah kosong masih dijumpai, ada yang berdampingan dengan gedung serta pemukiman warga.

Setiap kali aku naik bus plat merah yang pantatnya mengepulkan asap pekat menuju Perpustakaan Wilayah, pemandangan hijau sawah-sawah dan pohon besar di tepi jalan selalu menyegarkan kelopak mata yang letih. Anak-anak bermain bola di tanah kosong mengingatkan masa kecilku di tanah kelahiran.

Tapi, mesin modernisasi dan pembangunan melaju seakan tak kenal belas kasih, demi takhta kota metropolitan. Dalam hitungan tahun, sawah, ekosistem rawa dan tanah kosong menjelma hamparan beton, semen, dan aspal. Sebagian pohon ditimpa trotoar, lalu dilumat aspal pelebaran jalan.

Jejak-jejak estetika yang dikagumi Wallace telah runtuh. Tak ada lagi rumah-rumah berarsitektur Eropa dengan dinding putih bersih yang berjejer rapi. Aturan lokal penguasa dari negeri Kincir Angin yang dulu mengharuskan warga menyiram jalanan saban sore, tertimbun serakan sampah.

Orang-orang dengan ringannya melempar bekas botol minuman dari kaca mobil mewah yang harganya setara rumah subsidi, ke jalanan. Begitu pula penumpang dalam mobil angkutan umum yang jendelanya dibiarkan melompong, seolah seluruh aspal adalah bak sampah raksasa yang bergerak.

Di sudut-sudut pasar, sampah sering menumpuk hingga membusuk, berbaur dengan sisa makanan ringan. Saluran drainase tersumbat ragam jenis kotoran, popok bayi hingga plastik menggenang laksana kopi susu kental yang telanjur dingin. Kebersihan bagian dari iman digerus abainya warga, urat nadi ekologis kota pun meringis kehilangan takhtanya sebagai kota tercantik dan terbersih di Timur.

Hamparan tanah rendah dan datar yang dulu dikelilingi perkampungan asri, telah disesaki pemukiman padat, pusat perbelanjaan megah, perumahan elit, hotel mewah, hingga perkantoran. Flyover dan jalan tol membelah Pettarani, memayungi kendaraan-kendaraan di bawahnya yang kadang merayap lambat laksana barisan semut lumpuh, saling sahut klakson bagai paduan suara yang kehilangan dirigen.

Di balik kemegahan infrastruktur modern tersebut, kota ini menyimpan kerentanan yang akut. Setiap kali langit menumpahkan air deras, ia dilumpuhkan genangan banjir setinggi lutut orang dewasa, bahkan di wilayah tertentu mencapai atap rumah—mengubah perumahan dan pemukiman bagai kluster kolam pancing ikan dadakan. Orang-orang mengungsi.

Air kecokelatan yang meluap dari selokan dan sungai memaksa arus lalu lintas terhenti, mematikan mesin-mesin kendaraan yang batuk-batuk karena kemasukan air. Mobilitas kota perlahan ke titik nol. Di saat seperti itu, penduduk hanya bisa berdiam diri di dalam rumah, merajut asa dalam doa, agar banjir segera surut dan nadi aktivitas kembali berdenyut.

Bencana yang datang berulang tersebut kerap membuat warga tak mampu sekadar keluar untuk berbelanja kebutuhan pokok. Mereka yang sehari-harinya berlagak borjuis, harus pasrah menggantungkan perut dari lambaian tangan bantuan pangan para dermawan dan organisasi sosial yang datang menembus air dengan perahu karet.

Saat hujan berlalu dan kemarau panjang melanda, kota ini menjelma bagai tungku besar. Matahari menyengat, uap panas seakan mendidih dan muncul dari rekahan jalan aspal yang membara. Situasi kian pelik tatkala krisis air bersih mulai mencekik lantaran surutnya debit air dari bendungan raksasa di kawasan hutan pinus tropis.

Air mengalir semenit-dua menit dari pipa-pipa perusahaan plat merah mendadak terhenti, keran di rumah pun hanya mendesis. Sumur bor yang airnya sewarna teh pekat beraroma karat jadi tumpuan mandi dan mencuci. Orang-orang menggerutu, sambil memburu air galon di kios maupun toko. Lalu, merajut asa dalam sujud agar kemarau segera melepas dekapannya.

Kota yang 170 tahun lalu memikat hati Wallace dengan kebersihan dan kecantikannya, kini telah bersulih rupa. Di balik jubah metropolitannya yang megah, teronggok jiwa yang ringkih. Terjebak banjir, klakson kemacetan, dan pudarnya belas kasih yang perlahan mengikis asrinya, ia melangkah gontai menyusuri labirin yang mungkin tak berujung.**