Ada satu ironi yang pernah disinggung Immanuel Kant tentang kehidupan sosial, bahwa dalam ruang yang kecil orang cenderung saling mengetahui. Tetapi kota modern justru bergerak ke arah sebaliknya. Semakin besar kotanya, semakin banyak hal yang tidak kita ketahui, atau lebih tepatnya, tidak ingin kita ketahui. Kota tidak lagi sekadar ruang hidup, melainkan ruang yang dipenuhi representasi. Apa yang tampak sering kali lebih dipercaya daripada apa yang benar-benar terjadi.

Di dalamnya, ada sosok-sosok yang membentuk wajah kota. Pemimpin, birokrat, teknokrat, semuanya berperan dalam membangun cerita tentang kota itu sendiri. Namun cerita ini tidak selalu lahir dari kebutuhan warga, melainkan dari kebutuhan untuk terlihat berhasil. Pencitraan menjadi bahasa utama. Kita melihatnya dalam proyek yang diresmikan dengan cepat, slogan yang diulang di berbagai ruang, dan wajah kota yang dipoles agar tampak rapi. Kota kemudian seperti panggung, dan para aktor di dalamnya sibuk menjaga peran masing-masing.

Di titik ini, sulit untuk tidak melihat adanya tarik-menarik kepentingan. Kepentingan politik ingin menunjukkan keberhasilan, kepentingan ekonomi ingin membuka peluang investasi, sementara kepentingan warga sering kali berada di posisi yang paling lemah. Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa pengetahuan selalu terkait dengan kekuasaan. Apa yang dianggap sebagai “kemajuan kota” bukanlah sesuatu yang netral. Ia dipilih, disusun, dan disampaikan dengan cara tertentu agar terlihat meyakinkan. Sementara itu, realitas lain yang tidak sejalan dengan narasi tersebut perlahan disisihkan.

Yang menjadi masalah bukan hanya pada kebohongan itu sendiri, tetapi pada bagaimana kebohongan tersebut diterima sebagai sesuatu yang wajar. Banyak kebijakan lahir dengan cepat, tampak progresif, tetapi tidak benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi warga. Kota seakan lebih sibuk membangun kesan daripada menyelesaikan masalah. Kita bisa melihat proyek-proyek yang terlihat megah, tetapi di saat yang sama persoalan mendasar seperti akses, ketimpangan, dan kerentanan tetap ada, bahkan terkadang semakin dalam.

Hal ini menunjukkan bahwa birokrasi kita masih belajar menjadi dewasa. Ia belum sepenuhnya mampu berdiri sebagai sistem yang berpihak pada kepentingan publik secara utuh. Prosedur sering kali dijalankan, tetapi substansi terlewatkan. Jürgen Habermas pernah berbicara tentang pentingnya ruang komunikasi yang sehat dalam masyarakat. Namun yang terjadi di banyak kota justru sebaliknya. Informasi disampaikan bukan untuk membuka ruang dialog, tetapi untuk menguatkan citra. Warga akhirnya hanya menjadi penerima, bukan bagian dari proses yang menentukan arah kota.

Dalam situasi seperti ini, kota perlahan berubah menjadi semacam ilusi yang terus diproduksi. Jean Baudrillard menyebutnya sebagai simulasi, ketika representasi tidak lagi sekadar menggambarkan realitas, tetapi justru menggantikan realitas itu sendiri. Kota terlihat maju, terlihat tertata, tetapi di balik itu ada lapisan-lapisan persoalan yang tidak tersentuh. Kita melihat kota sebagaimana ia ingin dilihat, bukan sebagaimana ia sebenarnya.

Mungkin di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. Kebohongan kota tidak selalu hadir dalam bentuk yang jelas, tetapi dalam cara kita memahami kota itu sendiri. Kita terbiasa menerima narasi tanpa banyak bertanya. Padahal, kota yang jujur bukanlah kota yang sempurna, melainkan kota yang berani mengakui kekurangannya. Kota yang memberi ruang bagi suara warganya, bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk benar-benar dipertimbangkan. Karena pada akhirnya, kota bukan milik mereka yang berkuasa atasnya, tetapi milik mereka yang hidup di dalamnya.