poskomalut.com
baner header

Hasil Perekrutmen Panwascam di Tidore Tidak Wajar

TIDORE-PM.com, Pleno penetapan hasil perekrutmen calon Panwascam se Kota Tidore Kepulauan (Tikep) yang telah ditetapkan, menuai protes sejumlah peserta. Pasalnya, mereka menilai penetapan para peserta terpilih, diduga syarat kepentingan tertentu pada Pilkada Kota Tidore tahun 2020.

Kepada posko Malut, Ilham Manaf salah satu peserta seleksi menyampaikan, dari nama-nama yang lulus dalam rekrutmen yang diumumkan Bawaslu Tikep, sangat tidak memuaskan para peserta. Pasalnya, pengumuman itu, Bawaslu tidak mengumumkan  hasil wawancara dengan hasil pengunguman scurate. “Kalau pansel tidak terang-terangan, bagimana kita menghitung rumus persentase,’’ kata Ilham.

Ketidakpuasan Ilham dan kawan-kawan atas hasil seleksi ini, juga sangat beralasan. Karena peserta yang lolos seleksi, nilai rata-ratanya dibawa 50 persen sampai 31 persen, tetapi diloloskan. “Dari sekian peserta yang lolos hanya 1 orang yang nilai 60 persen, yakni ketewakilan perempuan dari Panwascam Oba Utara saja. Lantas kenapa peserta yang punya skor 60 sampai dengan 66 tidak akomodir, apakah ini pertimbangan riword yang didapat petahana pada pemilhan lalu,’’ tanya Ilham.

Dirinya dan peserta lainnya meminta  pansel untuk mengklarifikasi hasil seleksi Panwascam dengan baik, jika melihat sistem yang dipakai sekarang, berarti tes seleksi ini hanya untuk memenuhi syarat administrsi saja. Tidak sesuai dengan perintah undang-undang.

Sementara itu,  Ketua Bawaslu Kota Tidore Kepulauan Bahrudin Tosofu ketika dikonfirmasi menjelaskan, pola penilaiann perekrutmen para anggota panwacam di delapan Kecamatan berlangsung sesuai dengan juknis Bawaslu RI dan Provinsi, terkait sistem penilaian.

“Misalnya dalam 100 soal yang benar bobot nilainya tetap 30 persen, kita bobot lagi pada tes wawancara dengan beberapa kriteria diantaranya soal intrgeritas, loyalitas, kolektif kolegial dan evaluasi pelaksanaan pemilu tahun 2019, dengan berbagai pertimbangan barulah kita ambi sebuah keputusan penetapan para peserta terpilih,’’ jelas Bahrudin, sembari menambahkan,  soal nilai tinggi pada tes scurate bukan jadi indicator. (mdm/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: