TOBELO-PM.com, Puluhan warga yang mengatasnamakan masyarakat Loloda, Rabu (16/09) kemarin menggelar unjuk rasa. Aksi ini sebagai respon atas pernyataan Bupati Halmahera Utara (Halut) Frans Manery saat penyerahan Bansos Alsinta di Desa Makarti, Kecamatan Kao Barat, yang dinilai menghinan derajat warga Loloda.
“Penyampaian beliau (Bupati) terlalu menyudutkan dan mendiskriminasikan. Bahkan menghina harga diri orang, suku atau kelompok dengan mengatakan “Kita Me Pande Tara Bodoh Sama Deng Dorang”. Perkataan yang semacam itu secara tidak langsung telah melecehkan, bahkan memandang rendah kualitas, bahkan kemampuan pendidikan seseorang atau kelompok,” kata Koordinator aksi (Korlap) Rivaldo Djini dalam orasinya.
Bukan hanya itu, sejumlah massa aksi juga sesali dengan perkataan Bupati selain mengatakan Bodoh, bahwa diduga mengancam pemerintah desa Loloda dengan mengatakan “Jika tidak pilih maka jembatan tidak jadi. Ingat kades-kades saya sudah mendaftar” ancaman bupati saat memberikan pidato saat memberikan bantuan,”.
”Kami sangat sesali penyampaian Bupati Halut, seolah-olah keberhasilan membangun jalan trans Galela-Loloda seolah-olah mengunakan dana pribadinya untuk membangun daerah ini. Padahal kontribusi masyarakat Loloda sangatlah besar terhadap Kabupaten Halut, yakni Kelapa, Cengkeh, Pala, dan lain-lain,” kesalnya.
Sementara itu, juru bicara Pemda Halut Deky Tawaris mengatakan, terkait dengan pernyataan Bupati yang viral di media sosial itu, selaku Pemda Halut sangat menyayangkan, jika ada pihak-pihak yang mempolitisir, bahwa kata bodoh itu ditujukan ke orang Loloda.
Menurutnya, sambutan Bupati pada acara Pemda penyerahan Banso ke kelompok tani yang menjadi viral, karena ada kata bodoh yang dikeluarkan oleh Bupati. Tetapi pada penyampaian terpenting Bupati menyinggung pembangunan jalan di Kaupaten Halmahera Barat.
“Pada saat itu, Bupati menyampaikan tentang kondisi jalan di Kao Barat, tetapi menyinggung sedikit terkait prestasinya Pemda membangun jalan di Galela Utara dan Loloda Utara, bahkan kata bodok yang dikeluarkan oleh Bupati itu, bukan mengarah ke orang Loloda,” bantahnya
“Terkait pernyataan Bupati yang menyebut ” Kita Me Pande Tara Bodoh Sama Deng Dorang” semata mata tidak ada maksud menghina maupun melecehkan orang Loloda.
“Pernyataan itu, menggunakan bahasa daerah, tentunya terjadi multi tafsir oleh sejumlah masyarakat, akan tetapi kami tegaskan bahwa pernyataan itu bukan mengarah ke siapa siapa, terutama ke masyarakat Loloda, sebab pada kesempatan itu, Bupati memasuki masa cuti ia menyampaikan prestasi kemanusiaan selama memimpin Halut,” akhirinya. (mar/red)


Tinggalkan Balasan