poskomalut, Kepala Tata Usaha (KTU) Puskesmas Dama, Stevi Laguhi menanggapi pemberitaan pasien meninggal akibat tak ada pelayanan kesehatan.
Stevi mengungkapkan, A Fatihatul M. Mar’if merupakan pasien rujukan dari dr. Yayu dengan diagnosa pritonitis.
Stevi menjelaskan, sebelum tiba dan melapor di Puskesmas Dama pada 30 Maret 2026, petugas sudah berkoordinasi terkait teknis penanganan dan pengobatan pasien pada 17 Maret lalu.
Lebih lanjut pukul 10:30 WIT, pasien dibawa keluarga melapor ke Puskemas Dama. Selanjutnya petugas langsung melakukan prosedur medis pritonitis TB; pemasang infus, oksigen.
Lanjut Stevi menerangkan, pada pukul 12:30 WIT, keluarga pasien meminta pulang secara paksa.
Terpisah, Novita, ibu almarhum Fatihatul M. Mar’if dikonfirmasi kembali membantah pihaknya tidak pernah meminta keluar dari Puskesmas secara terpaksa.
Ia kemudian menjelaskan, saat itu mereka memang pergi ke Puskesmas dan diberi layanan infus. Namun putranya tidak mau tidur di Puskesmas, tapi di rumah.
Novita kemudian menanyakan ke petugas medis apakah bisa pengobatan infus dilakukan di rumah mereka. Namun petugas tidak mengiyakan permintaan dari keluarga pasien.
“Tidak bisah harus selesai infus satu botol baru diizinkan pulang. Kami pun ikut apa yang disampaikan petugas untuk menunggu abis infus satu botol,” terangnya.
Lebih lanjut pada pukul 13.30 WIT, infus sudah habis dan diperbolehkan pulang, ditambah putranya yang berusia 15 tahun itu tidak lagi merasakan sakit lagi di bagian perut.
Tapi lanjut Novita menuturkan, sekira pukul 00.00 WIT, anaknya kembali dilarikan ke Puskesmas, karena rasa sakitnya kambuh. Namun, saat tiba di Puskesmas, tidak ada petugas medis.
“Jadi jika memang kami minta keluar paksa, seharusnya Puskesmas membuat surat pernyataan yang ditanda tangani orang tua atau keluarga,” timpal Novita,
Tak hanya itu, Novita mengaku saat anaknya dilarikan ke Puskesmas ia tidak melihat KTU di dalam ruangan ketika anaknya diinfus. Sebab KTU sedang rapat.
“Kami masyarakat Loloda hanya ingin perubahan dalam pelayanan, karena apa yang saya alami bukan hanya dirinya sendiri, namun sebelumnya ada dari desa lainnya juga alami hal yang sama,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan