TOBELO-PM.com, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Halmahera Utara (Halut) disinyalir bertingkah memojokan tarif angkutan Umum. Hal itu membuat sejumlah sopir terpaksa dilema antara kenaikan tarif atau tidak. Mirisnya Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tentunya membuat sejumlah angkutan berani mengambil resiko menaikan harga tarif angkutan.
Pasalnya, meski kenaikan harga BBM secara gila gilaan, namun para Sopir masih ditekan oleh Dishub Halut untuk tidak menaikan harga tarif. Sudah begitu, pihak Dishub tidak memberikan solusi atas dilematis kenaikan harga BBM. Padahal para angkutan umum Tobelo – Sofifi ditengah kenaikan harga BBM baik jenis Pertalite maupun Pertamax mengalami kesulitan untuk bisa meraup keuntungan. Sudah begitu tekanan Dishub kepada sopir angkut untuk tidak menaikan harga tarif, membuat para sopir terjajah.
Salah satu Sopir Tobelo – Sofifi Budo mengatakan, Pemerintah melalui Dishub Halut ini, membuat pihaknya sebagai sopir angkutan mengalami dilema dan krisis pendapatan jika harga tarif angkutan dari Rp 150.000 tidak bisa dinaikan Rp 200.000 ditengah kenaikan harga BBM yang tinggi.
“Jika Dishub tidak mengizinkan kami menaikan harga tarif angkutan, maka kami tidak lagi marup pendapatan, sebab sepinya Penumpang dan naiknya harga BBM itu, tentunya kami mengalami kesulitan maraup pendapatan, ini sama dengan Dishub menjajah kami, apa bedanya Dishub dengan Kolonial penjajah,” Ujarnya dengan nada keluh, Sabtu (27/08).
Ia menambahkan, seharusnya Pemerintah cepat mengambil kebijakan untuk memberi solusi kepada para sopir angkutan umum jika ada kenaikan harga BBM. Sebab, jika Dishub tidak mengambil kebijakan dengan memberikan solusi lalu berpatokan kepada tarif angkutan yang lama, tentunya ini Dishub lemah dalam mengatur lalu lintas angkutan umum di Halut.
“Dishub Harus memberi solusi bukan malah menekan seperti menjajah para sopir angkut,” Akhirinya.(Mar/red)



Tinggalkan Balasan