Penulis: AKMAL LULE
Jurnalis Voicemu
Matahari di atas Teluk Desa Yawal, Halmahera Timur, seolah sedang menguji batas kesabaran manusia. Di bawah sinarnya yang menyengat atau yang oleh warga setempat disebut sebagai matahari yang “menggigil”, Nenek Polderika tetap bergeming.
Dengan tangan yang lincah meski usia sudah mulai senja, perempuan asal Morotai ini menata satu per satu anakan ikan Oci di atas jemuran jaring kofo.
Bagi Polderika, aroma amis dan uap panas dari ikan yang menjemur bukan sekadar rutinitas, melainkan napas kehidupan. Sejak sang suami berpulang, ia harus memikul beban sebagai tulang punggung keluarga sendirian.
Dulu, ia dan suaminya memiliki bagan sendiri, namun keterbatasan tenaga, memaksanya menjual aset tersebut. Kini, ia menyambung hidup dengan membeli hasil tangkapan nelayan lain untuk diolah menjadi ikan asin demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anaknya bisa tetap bersekolah.
Polderika tidak sendirian di tepian pantai yang sunyi itu. Ia bersama ibu-ibu lainnya, yang kerap disebut “emak-emak” Yawal, bahu-membahu dalam sebuah pembagian tugas yang rapi. Sebagian bertugas membersihkan ikan, sementara yang lain menjemurnya hingga kering.
Fenomena ini menjadi bukti nyata “kerja ganda” perempuan di Yawal; mereka tidak hanya menyelesaikan urusan domestik di rumah, tetapi juga turun ke pesisir untuk mencari rezeki yang bernilai ekonomi.
Semangat mereka seolah tak mengenal lelah. Jika tangkapan sedang melimpah, mereka tak hanya mengolah ikan Oci, tetapi juga cumi dan ikan teri. Sebagian hasil olahan ini akan dipasarkan, sementara sisanya dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Kehidupan di desa berpenduduk sekitar 200 jiwa ini sangat terikat dengan siklus alam. Jeky, seorang nelayan yang juga menjabat sebagai Bendahara Desa, menjelaskan bahwa mereka hanya bisa efektif melaut selama dua minggu dalam sebulan, yakni pada saat “bulan gelap”.
Di masa inilah ikan-ikan mulai “naik” dan hasil tangkapan bisa mencapai keuntungan hingga Rp 60 juta dalam dua minggu. Namun, saat “bulan terang” tiba, potensi ikan di laut menghilang.
Di saat itulah para nelayan tradisional ini terpaksa beristirahat dari laut dan beralih profesi menjadi petani, sembari menanti kegelapan kembali menyelimuti teluk agar mereka bisa kembali menukangi bagan.
Di balik air teluk yang teduh dan ketenangan pantainya, tersimpan getir kekecewaan terhadap pemerintah. Jeky mengungkapkan bahwa bantuan yang mereka terima selama ini sangatlah minim, biasanya hanya berupa fasilitas dasar dari dana desa seperti lampu, kabel, dan jaring kofo.
Hal yang paling menyesakkan adalah masalah bahan bakar. Para nelayan di Teluk Yawal harus membeli minyak secara mandiri tanpa pernah mendapatkan jatah minyak subsidi dari pemerintah.
Kekecewaan ini mencapai puncaknya ketika berbicara soal politik. Di mata warga, perhatian pejabat seringkali hanya bersifat musiman.
“Janji pemerintah hanya menjadi penyedap telinga di waktu kampanye politik atau pilkada,” ujar Jeky dengan nada getir.
Baginya dan warga Yawal lainnya, janji-janji manis itu biasanya menguap begitu saja setelah pemungutan suara berakhir; para pejabat tak pernah lagi datang menampakkan batang hidungnya.
Kini, di tengah kesunyian Teluk Yawal, Polderika dan para nelayan lainnya terus bertahan. Mereka tidak menunggu keajaiban dari balik meja birokrasi, melainkan terus menjemur harapan di bawah terik matahari, mengandalkan kekuatan tangan sendiri demi sesuap nasi dan masa depan yang lebih layak. **


Tinggalkan Balasan