MOROTAI-PM.com, Ribuan masyarakat Morotai, Minggu (2/5/2021), turun ke laut untuk menangkap Laor (Cacing laut). Kegiatan itu menjadi tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Morotai pada bulan April atau Mei. Penangkapan Laor itu dilakukan di lokasi pantai yang berkarang sebab, cacing tersebut hanya hidup di karang dan tidak hidup di lautan luas. Bahkan, tidak semua lokasi jadi tempat penangkapan Laor.
Berdasarkan pantauan media ini, lokasi yang biasa dilakukan penangkapan Laor di wilayah selatan itu berada di Tanjung Dehehila dan lapangan Pantai Desa Wawama. Sedangkan di kecamatan Morotai timur hanya ada di tanjung pinang, tanjung sangowo. Sedangkan di kecamatan Utara hampir semua lokasi memiliki Laor, dan yang sering di kunjungi warga itu misalnya tanjung kahona, tanjung Gorango dan lainnya, sementara di sejumlah titik di Morotai Jaya juga lebih banyak lagi jika di bandingkan di wilayah lain.
“Kalau di Morotai itu istilahnya falo Laor, menggunakan alat tangkap yang terbuat dari kain atau sejenisnya, tradisi ini turun temurun dari orang tua, sehingga generasi saat ini juga sangat suka falo Laor, karena momen ini hanya terjadi 1 tahun sekali, bisa dua kali dalam setahun tapi yang dapat hasil banyak itu biasanya hanya sekali saja yakni pada bulan April atau Mei,”jelas Sarman Sibua, salah satu pecinta Laor kepada wartawan ini di lokasi tanjung Gorango.
Mengapa masyarakat Morotai sangat menyukai cacing laut itu, karena, isinya sangat enak dan mengandung nilai gizi yang tinggi, sehingga walau sejenis cacing tetapi tetap menjadi makanan favorit warga.
“Hanya karena berburu Laor, kami yang tinggal di daerah Selatan harus ke Tanjung gorango, jaraknya ratusan kilo, dan berangkatnya harus sore hari, ada yang pakai sepeda motor ada yang berkelompok dengan menggunakan mobil Dum truck dan kendaraan lainnya,”terangnya.
Yang menariknya ujar Dia, kebanyakan cacing laut itu muncul disaat waktu subuh, dan akan menghilang ketika matahari mulai terbit. Sehingga, warga yang mau menangkap Laor sudah harus berada di tepi pantai sejak tengah malam untuk mencari posisi dan tempat saat melakukan penangkapan karena biasanya jika terlalu banyak orang maka hasilnya sedikit begitu pula sebaliknya.
Ia berharap, tradisi ini harus di jaga dengan cara tidak merusak lingkungan laut sehingga Laor tetap hidup di lokasi itu.
“Harus di jaga laut, biar tidak tercemar, karena ini menjadi tradisi, bayangkan, saking sukanya makan itu, jika di kasih pilihan makan Laor atau ikan, pasti ada yang lebih memilih makan Laor ketimbang Ikan, karena sangat enak,”harapnya. (Ota/red)



Tinggalkan Balasan