poskomalut.com
baner header

Masyarakat Minta Pemda Kepsul Tuntaskan Masjid Pohea

SANANA-PM.com, Masyarakat Desa Pohea, Kabupaten Kepulauan Sula, mulai gerah dengan pembangunan masjid yang berada di desanya tersebut. Pasalnya, masjid yang dibangun oleh Pemerintah Daerah (Pemda) itu, hingga kini belum juga tuntas dikerjakan.

“Pembangunan masjid itu mulai dikerjakan sejak tahun 2015 lalu, untuk itu pemda harus segera tuntaskan dan jangan biarkan begitu saja karena masyarakat sangat membutuhkannya untuk beribadah,” kata Kepala Desa Pohea Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) Rudi Duwila pada poskomalut.com.

Menurutnya, anggaran daerah yang dikucurkan untuk pembangunan masjid tersebut, mulai dari tahun 2015 sampai dengan 2018 sudah Rp 4 miliar lebih. Namun yang anehnya, pekerjaan belum juga tuntas. Bahkan lanjut dia, untuk tahun 2019  ada tambahan anggaran untuk masjid senilai Rp 300 juta lebih. “Saya berharap tahun ini sudah bisa tuntas, sebab sudah Rp 4 miliar lebih yang dihabiskan untuk masjid tersebut,” katanya.

Bukan hanya pekerjaan yang tidak tuntas jata Rusdi, namun pekerjaan masjid itu juga diduga asal jadi, sebab lantai dua masjid kini tidak bisa digunakan warga untuk beribadah, karena goyang seperti ayunan saat dinaiki, diduga karena material besi yang digunakan pada lantai dua masjid tidak sesuai dengan yang ditentukan dalam kontrak.

Bukan hanya itu, atap masjid yang belum tuntas dikerjakan itu juga bocor di beberapa titik, sehingga saat musim hujan, petugas masjid harus menyediakan beberapa ember dan baskom untuk menampung air hujan yang turun dari sela-sela plafon masjid.

Harusnya masjid tersebut dikerjakan dengan baik, sebab selain menelan anggaran yang nilainya milaran, masjid itu juga akan digunakan oleh tamu-tamu daerah, karena posisi masjid tersebut berada tepat di pusat pemerintahan,” katanya.

Olehnya, itu tamba Rudi, pihaknya berharap pada Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Pemukiman (PUPRKP) selaku instansi terkait, untuk memerintahkan pihak kontraktor yang mengerjakan masjid tersebut untuk segera memperbaiki beberapa item kerusakan, terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pembangunan tahap berikut.

“Padasaat pekerjaan tahap berikut dimulai, Dinas PUPR harus kontrol, sehingga sebelum dilanjutkan, kontraktor harus terlebih dahulu perbaiki seluruh kerusakan yang ada, jangan sampai, selesai kerja kemudian masjid itu tidak bisa digunakan,” katanya.

Untuk diketahui, masjid yang telah menghabiskan Rp 4 miliar itu sudah dikerjakan sebanyak empat tahap, tahap pertama tahun 2015 dikerjakan oleh kontraktor yang bernama Obi, dengan nilai anggaran Rp 500 juta lebih, tahap kedua tahun 2016 dikerjakan oleh Irwan Hongarta dengan total anggaran Rp 500 juta lebih, tahap ketiga tahun 2017 masi dikerjakan oleh Irwan Hongarta dengan total anggaran Rp 1 miliar lebih, tahap empat dikerjakan  Sambi dengan total anggaran Rp 2 miliar lebih. (red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: