MOROTAI-PM.com, Sebanyak 19 peserta yang memiliki ijazah paket C mengikuti seleksi calon kepala desa (cakades) pada tahap wawancara maupun tes tertulis yang diuji langsung oleh profesor maupun sejumlah dosen yang bergelar doktor itu dinyatakan tidak lulus.

Berdasarkan data yang dikantongi media ini, dari total 296 peserta tes, 19 orang cakades berijazah paket C, paket B sebanyak 8 orang, berijazah SMP sebayak 37 orang dan SMA sederajat sebanyak 148 orang dan sisanya adalah S1 maupun strata III. Dari hasil tes tersebut hanya 6 orang saja yang dinyatakan lulus.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Seleksi Cakades Kabupaten Pulau Morotai, Prof Husen Alting, ketika dikonfirmasi awak media beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, dari hasil tes tertulis dan wawancara tersebut, hanya 6 orang memiliki nilai diatas ambang batas 6,5.

“Nilai tertinggi terdapat di Desa Cio Maloleo sebesar 76,45, sedangkan 6 peserta yang masuk dalam nilai ambang batas terdapat di Desa Cio Maloleo Jaya, Desa Yayasan, Desa Raja, Desa Kolorai dan desa Towara,”terangnya.

“Nilai terendah 21,22 di Desa falila. Terdapat 5 peserta dengan nilai paling rendah terdapat di Desa Cempaka, Desa Buho-Buho, Leleo Jaya, Hapo dan Falilla,” sambung mantan rektor Unkhair itu.

Ia mengaku, untuk nama-nama yang dinyatakan lulus belum bisa membukanya ke publik. Namun bagi cakades yang mau melihat nilainya bisa langsung ke Kepala DPMD, karena semua data sudah diserahkan.

“Mau melihat nilainya kita berikan, dan tidak usah ke kami. Langsung ke Kadis DPMD juga bisa, karena nilainya kita sudah berikan. Kami takut disalahgunakan tentang nilai. Dan proses ini kan masih berlanjut, bukan hasil akhir. Beda kalau ini hasil akhir. Kalau hasil akhir kita tinggal tulis di situ bukan nilai tapi dia tidak lulus seperti itu,” terangnya.

Hanya saja pernyataan profesor itu menuai kritik dari sejumlah cakades. Menurut mereka, tes tertulis dan tes wawancara itu sangatlah berlebihan walaupun untuk kebaikan cakades kedepan.

“Memang tes cakades itu penting untuk wawasan ketika menjadi kades,. Tapi, seorang profesor maupun doktor mewawancarai calon yang ijazahnya ada paket B, paket C dan ratusan calon berijazah SMA itu patut juga dipertimbangkan, karena tidak semua pengetahuan cakades itu sama,”cetus cakades yang enggan namanya dipublis, sembari menambahkan, apalagi soal syarat tes cakades misalnya tes wawancara maupun tes tertulis juga tidak ada dalam aturan. (Ota/red)