TOBELO-pm.com, Kabar baik bagi penambang tradisional linkar tambang PT Nusa Halmahera Minerals (NHM).
Ini setelah Presiden Direktur PT NHM, Hi Robert Nitiyudo telah mengaktifkan kembali aktivitas tambang tradisional.
Sebelumnya tambang tradisional sempat terhenti akibat tidak profesionalnya pengurus koperasi dalam mengelola uang hasil penambangan.
Pengaktifan kembali tambang yang dibernama Tambang Gotongroyong Gosowong (TGG) itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Direktur PTNHM, Haji Robert Nitiyudo bersama dengan penambang tradisonal.
Wakil Presiden Direktur PT NHM, Amiruddin Hasyim mengatakan, para penambang tradisional sudah mulai bekerja kembali dan didukung oleh para kepala desa lingkar tambang dalam suatu kesepahaman berpola bapak Asuh-Anak Asuh.
“Aktivitas tambang tradisional ini diawasi koperasi dan juga tentunya oleh tim dari PT NHM untuk memastikan seluruh aktivitas sesuai kaidah penambang yang baik. Baik itu teknik penambangan, aspek keselamatan dan kesehatan, dan yang juga penting adalah transparansi hasil tambang agar seluruh penambang mendapatkan haknya sebagaimana seharusnya,” ujarnya, Rabu (15/2/2023).
“Batuan hasil penambang diangkut dari lubang-lubang TGG, selanjutnya diproses pengolahannya bersama bijih dari produksi penambangan PT NHM,” sambung Amiruddin.
Wadir PT NHM itu menjelaskan, hasil penambangan bijih dari TGG setelah dikonversi ke satuan troy ounces berdasarkan analisis laboratorium terhadap kadar bijih dan tonase. Selanjutnya dibayar PT NHM dan hasilnya akan dibagi ke semua kelompok lubang tambang, sehingga seluruh penambang akan mendapatkan uang sebagaimana seharusnya, dan harus transparan.
Diperbolehkannya masyarakat lingkar tambang untuk ikut menambang di wilayah kerja kontrak karya ternyata merupakan inisiatif Haji Robert ketika pertama kali mengambil alih saham mayoritas PT NHM pada awal 2020.
“Hal itu dilakukan Bapak Haji Robert sebagai solusi dari konflik berkepanjangan antara perusahaan dan masyarakat mengenai tambang rakyat. Konflik ini masih terjadi di sejumlah wilayah perusahaan tambang lain di Indonesia,” jelasnya.
Dirinya mengungkapkan, awalnya aktivitas tambang tradisional ini berjalan lancar dan memberikan keuntungan yang sangat baik untuk masyarakat lingkar tambang, karena memang memperoleh kadar bijih yang sangat baik, sehingga mampu mensejahterakan para keluarga penambang tradisional dan juga perekonomian mereka.
Namun sangat disayangkan, seiring berjalannya waktu pengelolaan tambang tradisional berbentuk koperasi mengalami kendala-kendala manajerial, sehingga menyebakan pengelolaannya tidak berjalan sebagaimana harusnya.
“Dengan semangat baru dan nama baru dari tambang tradisional ini yaitu TGG, diharapkan aktivitas tambangnya dan pengelolaan keuangannya menjadi profesional dan transparan, serta diharapkan menjadi percontohan solutif di berbagai daerah lain di Indonesia yang mengalami konflik-konflik serupa yang berkepanjangan,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan