Sebagai negara dengan populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Juga penganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu serta berbagai aliran kepercayaan(Syamsudin,2017). menjadikan Indonesia sebagai sebuah Negara yang majemuk Agama-agamanya (plural) dan budaya (multikultural).

Fakta tertsebut di atas adalah suatu kelebihan sekaligus tantangan terbesar bagi bangsa Indonesia karena di tengah keberagaman dan keberagamaan tersebut berpotensi  memunculkan konflik, baik yang  sifanya laten maupun manifest di kemudian hari. Seperti dilansir Tempo bahwa insiden pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) serta ekspresi intoleransi kembali marak menjelang setahun pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin(Setara institute,2020) Dan kini, polarisasi indentitas terus mengemuka bahkan tanpa merasa bersalah menyerang keyakinan agama lain.

Maluku Utara sebagai bagian entitas nasional yang sarat akan keberagaman dan keberagamaan pernah melewait fase suram dalam merawat kebinekaan, tetapi kemudian dengan begitu cepat bangkit, justeru menjadi laboratorium bagi masyarakat dunia tentang bagaimana mengelola perbedaan dan hidup bahagia bersama di negeri Moloku Kieraha.

Muhammadiyah memandang bahwa pluralitas sebagai sunatullah dan mengingkarinya sebagai bentuk pengingkaran terhadap sunatullah. Muhammdiyah menolak pluralisme yang mengarah kepada sinkretisme, sintetisme dan relativisme. Muhammadiyah juga mendorong perlu adanya dialog. Bahwa dialog itu sesuatu yang harus dibuka di ruang publik tanpa adanya kecemasan, kecurigaan dan ketakutan.  Justeru ketika dialog itu ditutup  akan menimbulkan potensi-potensi laten terjadinya konflik (Haedar Nasher,2015).

Geneologi pemikiran pluralitas dan multikultural di muhammadiyah bisa dilacak dari proses pembelajaran agama Islam yang dilaksanakan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kweek School. Dimana pembelajaran dilakukan secara terbuka untuk seluruh siswa, baik yang Muslim dan non-Muslim. Sebagaimana dijelaskan K.H. Sudja sebagai berikut: “K.H. Ahmad Dahlan tiap-tiap hari Minggu sejak pagi dikerumuni para siswa sekolah Kweek School yang diberi pelajaran agama Islam pada tiap-tiap hari Sabtu sore, siswa-siswa mana bukan saja siswa yang terdiri dari anak-anak Islam, tetapi anak Kristen, anak Katolik, anak Theosofi dan lain-lain ideologi yang bukan Islam. Mereka memang anak yang cerdas-cerdas otaknya, tidak dapat menerima keterangan-keterangan yang belum atau tidak cocok dengan jalan akal pikirannya. Memang K.H. Ahmad Dahlan bermaksud yang demikian itu. Oleh karenanya pada tiap-tiap hari Minggu merupakan diskusi Agama dengan para siswa Kweek School di Yogyakarta” (Abdul Mu’ti,2016).

Proses konstrukri pemahaman dan keteladanana KH.Ahmad Dahlan yang sedemikian kuat itu melahirkan proses pembudayaan di kalangan Muhammadiyah sampai saat ini. Tidak terkecuali Muhammadiya di Maluku Utara. Kerjasama dengan kelompok yang berbeda atas nama kemanusiaan dan kebangsaan terus digalakan, terutama pasca konflik di Maluku Utara, Muhammadiyah justeru bersahabat baik dengan kalangan non-Muslim, bahkan penyelenggaraan pendidikan tinggi di awal pendirian Universitas Muhammadiyah Maluku Utara menggunakan gedung sekolahan di lingkungan Gereja Batu, Katolik Ternate.

Baca Juga:SOSIOLOGI BALI

Tampak jelas gen pemikiran dan keteladanan Kiyai Dahlan menempatkan pluralitas dan multicultural sebagai sunatullah yang tidak sekedar teks tetapi juga konteks. Bertransformasi menjadi relasi pembebasan bagi solidaritas kebangsaan dan kemanusiaan di negeri ini. Sebab itulah, patut kiranya penghargaan dan apresiasi kepada  Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku Utara sebagai organisasi otonom yang bergerak di ranah kemahasiswaan, kemasyarakatan dan keagamaan, telah dengan baik mengejewantah dalam tema besar, selaras dengan program-programnya. Pun belum sepenuhnya berhasil, tetapi setidaknya suda dimulai dengan begitu baik di bawa kepemimpinan Immawan Alfajri A.Rahman.

Saya melihat tema pelantikan pada 2019 silam adalah “Merawat keragaman, merajut kebersamaan dan menepis perbedaan. Indotimur(14/7/2019). Begitupula tema Musyawarah pada berakhirnya masa amanah (19-21/3/2022.), semakin mempertegas posisi IMM sebagai sumbuh utama toleransi kemanusiaan dan kebangsaan yakni; “merajut keberagaman mempertegas kebinekaan”. Tujuan mulia yang digagas oleh Immawan Al-Fajri A.Rahman ini patut kiranya dilanjutkan oleh kepengurusan yang baru saja terpilih. Memang dinamika gerakan dan basisis pemikiran secara nasional, mencakup semua DPD dan Cabang tentunya, seringkali berganti-ganti seiring dengan bergantinya kepengurusan yang baru. Karena didasari oleh latar kultural yang tidak semua berasal dari keluarga Muhammadiyah dan dari studi keilmuan yang berbeda pula. Tetapipun demikian geneologi pemikiran dan keteladanan KH.Dahlan,serta nilai dan identitas IMM tetaplah menjadi basis bagi pergerakan dan transformasi pemikiran.

Akhirnya, barakallah kepemimpinan Saudara Immawan Alfajri A.Rahman. Tetap dan teruslah berikhtiar menebari cinta merawat keragaman. Selamat untuk Saudara Immawan Usman Mansur. Ayolah derap derukan langkah geleparkan panji-panji. Sejarah umat telah menuntut bukti.[]