Hari itu, Selasa, 28 Juli 2026 di Pulau Meti aku kegirangan bukan main. Betapa tidak, aku berhasil menginjakkan kaki di pulau itu dan menghukum keraguan tentang keindahan icon wisata Kabupaten Halmahera Utara.

Cerita perjalanan saya ke pulau dengan luas sekitar 10 kilometer dimulai saat mendapat kesempatan liputan, sekaligus liburan bersama rombongan media partner Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara.

Pagi pukul 08:00 WIT, saya bergegas menuju pelabuhan untuk bertemu para rombongan yang siap menikmati liburan di pulau kecil itu.

Estimasi perjalanan laut dari Pelabuhan Semut, Mangga Dua Ternate, menuju Sofifi, Kota Tidore Kepulaun memakan waktu hampir satu jam.

Saya dan rombongan kemudian bertolak dari Sofifi menuju Tobelo menggunakan mobil. Jarak yang kami tempuh sekira 4 jam. Sebagian dari kami ingin menguji adrenalin menggunakan sepeda motor melintasi jalan Halmahera.

Setibanya di Pelabuhan Tobelo, kami menyambung perjalanan selama 15 menit menggunakan speadbot, atau bahasa kami di Maluku Utara bodi.

Sambil menikmati perjalanan, saya tidak mau ketinggalan momen untuk mengabadikan beberapa pulau kecil dengan hamparan pasir putih yang indah.

Setibahnya di Pulau Meti, fokus pertama saya tertuju pada kejernihan air yang berwarna biru berkilau saat ditimpa teriknya matahari.

Kebersihan pantainya sangat terjaga, tak ada sampah terlihat sepanjang kawasan pantai Pulau Meti. Di sana kami akan menginap di Meti Cottage. Vila milik Adi. Lantas saya langsung bertanya-tanya ke pemilik vila ini “tempat kok sangat bersih”.

“Kebersihan menjadi kewajiban utama mereka. Kami bersama rombongan melepas dahaga sembari menikmati es jeruk nipis yang disajikan bagi para tamu,” timpa laki-laki asal Yogjakarta itu.

Terlihat bangunan dan cafe yang terbuat dari bahan kayu beratapkan daun rumbiah ini sangat tersusun rapi. Sembari menikmati es jeruk, seorang pekerja turut memberikan arahan, bahwa di sini tidak bisa membuang sampah sebarangan.

Bagi saya, itu adalah kebiasaan yang luar biasa. “Mohon izin, mohon jangan buang sampah sebarangan. Ini kami sudah siapkan tempat sampah,” kata salah satu karyawan.

Saya lalu membatin “Jika ada rejeki lebih saya balik lagi ke sini lagi”. Meski jarak tempuh yang lumayan, Meti menjadi solusi untuk lepas dari bisingnya kota.

Meti Cottage juga punya berbagai macam varian jamuan untuk para pengunjung. Jadi tidak perluh takut kehabisan stok makan atau minum. Benar kata kawan saya “Sulit untuk menafsirkan keindahan alam di Pulau Meti”.

Mag Fir
Editor