poskomalut, Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SLB Negeri Tobelo, Halmahera Utara, kembali disorot.

Sejumlah guru menduga ada ketidaksesuaian antara laporan penggunaan anggaran dengan kondisi riil di sekolah.

Salah satu guru yang enggan disebut namanya mengatakan, belanja buku untuk kebutuhan sekolah tahun 2024 dan 2025 belum direalisasikan.

Padahal, menurutnya, buku sangat penting untuk mendukung proses belajar mengajar di sekolah luar biasa.

“Di tahun 2024 SLB menerima dana BOS lebih dari Rp300 juta, begitu juga di 2025. Dari anggaran itu, ada pemotongan 10% untuk belanja buku. Tapi di perpustakaan tidak ada bukunya, baik untuk guru maupun siswa,” ujarnya kepada poskomalut, Minggu (25/5/2026).

Ia menilai ada ketidaktransparanan dalam penggunaan anggaran.

Meski laporan di ARKAS mencatat ada belanja buku, kondisi di lapangan tidak sesuai.

Selain BOS reguler, SLB Negeri Tobelo juga menerima dana dari BOSDA dan BOSKIN. Di 2025, sekolah menerima BOSDA Rp55 juta untuk kegiatan di Sofifi.

Sementara untuk 2026, BOS reguler Rp350,76 juta dan BOSDA Rp47,4 juta sudah dicairkan, namun realisasinya belum diketahui.

Saat dikonfirmasi, Kepala SLB Negeri Tobelo, Moni Waku tidak memberikan jawaban atas dugaan tersebut. Ia justru meminta identitas wartawan.

“Maaf boleh lihat ID Card-nya dari media mana? Harus torang tahu ngoni buat berita, harus punya identitas jelas,” kata Moni.

Mag Fir
Editor