Oleh : Edy Kurniawan
15 Mei 2025
Konteks politik identitas yang semakin menyimpang membuat saya semakin marah terhadap para pemuka agama yang memengaruhi pengikutnya melalui dogma atau doktrin yang mereka buat sendiri. Nasihat yang tak pernah diucapkan para nabi, dimanipulasi seolah-olah itu pesan dari langit (firman). Mereka adalah para pemuka agama yang bermuka dua, mengaku sebagai cucu nabi tetapi melebihi tindakan nabi. Jika, dunia memberiku pilihan sekali lagi, saya akan memilih menjadi seorang atheis yang bijaksana daripada orang-orang dungu yang melecehkan agama.
Menurut saya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mereka tak pantas mendapat kedudukan sebagai pemuka agama yang memiliki pengetahuan yang begitu sempit dan pada akhirnya membawa pengikutnya pada kesesatan. Hal ini bisa kita lihat bahwa teological epistemik memiliki peran signifikan dalam lingkungkan orang-orang beragama, karena memiliki approach yang bisa menganalisis artikulasi yang tidak meyakinkan. Pernyataan dogmatis seringkali kita anggap sebagai kebenaran absolut dan tidak dapat diganggu gugat, nah…teological epistemik mengajak kita untuk menguji pernyataan tersebut. Apakah pernyataan itu berasal dari kitab suci, dalil, tradisi atau bahkan pengalaman pribadi? Hal ini sangat membantu kita dalam menilai validitas dari sumber-sumber itu sebagai dasar pengetahuan. Jika seseorang menyatakan sesuatu yang dogmatis tetapi tidak bisa memberikan dasar yang meyakinkan, misalnya “karena saya percaya” atau “karena itu yang selalu diajarkan”, teological epistemik membantu kita melihat gap dalam pernyataan mereka.
Kita perlu membuat distingsi antara fides rationalis (keyakinan rasional) dan fides caeca (keyakinan buta). Begitu banyak fides religiosa (keyakinan agama) yang didasarkan pada iman, tetapi ada juga iman yang memiliki dimensi rasional. Teological epistemik memungkinkan kita untuk differentiare (membedakan) antara fides quaerens intellectum (iman yang informatif dan beralasan) meskipun tidak sepenuhnya bisa diverifikasi secara empiris dan juga dogma sine probatione substantiali (dogma yang tidak didukung oleh bukti yang substansial). Ketika seseorang berbicara secara dogmatis tanpa ratio sufficiens (dasar yang meyakinkan) seringkali mereka mengandalkan keyakinan buta yang non apertus ad quaestiones vel censuras (tidak terbuka terhadap pertanyaan atau kritik). Hal ini menyediakan kerangka kerja untuk mengevaluasi, apakah ada fundamentum epistemicum untuk keyakinan tersebut. Mengungkapkan assumptio tacita (asumsi yang tidak dikatakan), pernyataan dogmatis yang tidak meyakinkan seringkali bertumpu pada postulasi occultus (tersembunyi) tentang sifat realitas, otoritas atau bahkan tuhan itu sendiri. Teological epistemik mendorong kita untuk mengidentifikasi dan interrogo (mempertanyakan) postulasi-postulasi ini. Misal, apakah orang tersebut berpostulasi bahwa revelatio (wahyu) itu infalibel (tidak salah/sempurna) atau bahwa interpretatio mereka adalah sola vera? (satu-satunya yang benar?) menggali postulasi-postulasi ini sering kali mengindikasikan mengapa klaim dogmatis tersebut non valuit persuadere (gagal meyakinkan). Menilai cohaerentia et consistentia interna (koherensi dan konsistensi internal), sistem kepercayaan yang dogmatis meskipun tidak meyakinkan orang luar/saya sendiri, masih memiliki koherensi internal bagi penganutnya. Namun, teological epistemik memungkinkan kita untuk mengevaluasi koherensi dan konsistensi internal dari argumen dan postulasi tersebut. Apakah ada kontradiktif dalam pernyataan dogmatis yang dikemukakan? Apakah ada diskrepansi antara postulasi yang berbeda? Kurangnya koherensi dan konsistensi seringkali menjadi alasan mengapa pernyataan dogmatis terasa non persuasivum (tidak meyakinkan).
Memahami munus experientiae et testimonii (peran pengalaman dan kesaksian), dalam konteks religiosa, pengalaman personal dan kesaksian sering digunakan sebagai dasar untuk keyakinan. Hal ini membantu kita menganalisis bagaimana pengalaman ini dikonseptualisasikan dan apakah mereka memberikan dasar yang kuat untuk postulasi dogmatis. Apakah pengalaman tersebut dapat dibagikan, diverifikasi atau setidaknya diartikulasi dengan metode yang dapat dipahami dan dievaluasi oleh orang lain? Ketika personal experience dinyatakan sebagai dasar untuk dogma tanpa explicatio (penjelasan) atau validasi lebih lanjut, hal itu seringkali tidak membentuk suatu kepercayaan.
Aperire spatium dialogo et criticae (membuka ruang untuk dialog dan kritik) dengan mengaplikasikan teological epistemik, kita dapat berpindah dari sekedar refutatio dogmatis (menolak pernyataan dogmatis) yang tidak meyakinkan menjadi analisis, mengapa pernyataan itu tidak meyakinkan?. Ini menciptakan ruang untuk dialog yang lebih konstruktif, di mana quaestiones (pertanyaan-pertanyaan) tentang bukti, penalaran dan justifikasi dapat diajukan. Juga memungkinkan kita untuk criticus (mengkritik) secara eksklusif dasar-dasar epistemik dari keyakinan dogmatis tersebut daripada hanya abnuere (menolak) secara keseluruhan. Singkatnya, teological epistemik memberi kita instrument untuk tidak hanya menidentifikasi defisiensi dalam pernyataan dogmatis yang tidak meyakinkan, tapi juga untuk memahami mengapa defisiensi itu eksis. Ini membawa kita pada analisis yang lebih mendalam, kritis serta membongkar terhadap postulasi-postulasi atau pernyataan yang disajikan sebagai axioma tanpa dasar yang memadai.
Alasan mengapa saya menulis substansi yang begitu kritis? Karena banyak perjumpaan dengan insania (ketidakwarasan/ketidakmasukakalan) dalam lingkungan keagamaan. Misalnya, seorang guru mengaji yang memanfaatkan kedudukannya di suatu desa di Sulawesi Selatan (Makassar) untuk memuaskan nafsunya dengan mengajak anak-anak di bawah umur (10-11 tahun). Di kamarnya ia berpura-pura mengajarkan cara membaca Al-qur’an, tetapi sesudah itu sang guru melecehkan korban. Ancaman berselemut dogam ditebar “jika kamu memberi tahu orang-orang di sekitarmu termasuk keluargamu, kau sudah melanggar ketentuan agama. Kondisi ini non sense. Dogma yang tidak memiliki penjelasan lebih make sense harus diidentifikasi, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Meminjam aforisme Nietzsche dalam bukunya The Gay Science, tulisan yang terkenal dalam buku itu adalah GOD IS DEAD atau Tuhan Sudah Mati, memang dalam pengertian Nietzsche tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhan sudah mati, tetapi saya membuat interpretasi terhadap pernyataannya itu secara rill. Hal ini terpampang jelas dalam realita, orang-orang beragama mengeksploitasi keyakinan mereka agar regional okupasi mereka tidak dieliminasi, karena dilindungi dogma yang direkayasa sendiri, konsekuensinya ajaran yang sebenarnya, menyimpang menjadi bid’ah. Manusia sekarang menjadi tuhan dan tuhan menjadi hamba, bukan sebaliknya, regulasi keagamaan yang dibuat oleh manusia membuat tuhan menjadi budak mereka, dan jika tuhan melawan maka tuhan pun dibunuh.
Inferensi yang kita ambil adalah post fidem multa mala latent (di balik keimanan terdapat banyak kejahatan). Simpulan ini saya buat setelah membaca karya Umberto Eco; The Name Of The Rose, menceritakan kondisi politik Middle Age di suatu biara yang begitu menyiksa, membunuh orang-orang yang ingin mengembangkan pemikiran kritis di aedificium secara diam-diam, sehingga menimbulkan enigma dan seringkali dinamakan sebagai abbazia del delito (Biara Kejahatan).



Tinggalkan Balasan