Oleh : Risal Sadoki (Pewarta)

Saya kerap berpapasan dengan orang-orang yang menggenggam sebotol air minum dalam kemasan plastik. Entah itu di jalan, warung makan, kedai kopi, hingga di ruang-ruang rapat tempat kebijakan dirumuskan—botol itu selalu ada, seperti benda kecil yang tak pernah absen dari keseharian.

Di kampung, saat hajatan digelar, pemandangannya lebih gamblang. Gelas-gelas plastik dan botol air minum berserakan di halaman, di bawah kursi-kursi tamu, di sudut-sudut yang tak lagi diperhatikan. Kita seolah sudah akrab dengan itu—bahkan mungkin terlalu akrab hingga tak lagi merasa terganggu.

Padahal dulu, air tidak datang bersama label dan kemasan. Ia direbus di atas tungku, dituangkan ke dalam gelas seadanya, diminum tanpa jejak sampah yang panjang. Kini, segalanya berubah menjadi serba cepat dan praktis. Kita membeli air, meneguknya, lalu membuang wadahnya—seolah urusan selesai di situ.

Namun, kemasan tidak pernah benar-benar selesai. Ia menyelinap ke banyak ruang tanpa diundang. Di kedai kopi, misalnya, tempat orang-orang berkumpul dan bercakap panjang, gelas plastik terus pakai seiring ramainya pengunjung. Ada ironi yang nyaris tak terasa: di satu meja, orang-orang membicarakan solusi atas krisis sampah, sementara di tangan mereka, plastik tetap menjadi bagian dari percakapan itu.

Yang lebih janggal adalah suasana di ruang rapat. Botol-botol air kemasan berjajar di atas meja, rapi dan diam, menemani diskusi tentang meningkatnya jumlah sampah. Para pengambil kebijakan berbicara panjang tentang solusi, tetapi benda kecil di hadapan mereka seakan luput dari perhatian. Bagaimana mungkin masalah ini berkurang jika kebiasaan kecil tak pernah disentuh?

Kita memang hidup dalam kepraktisan. Membawa tumbler masih menjadi pilihan segelintir orang. Selebihnya, lebih mudah membeli, minum, lalu membeli lagi. Praktis, cepat, tanpa repot. Tapi ada waktu yang tak kita lihat: 50 hingga 450 tahun—waktu yang dibutuhkan plastik untuk terurai, sebagaimana disebutkan oleh Direktorat Pengelolaan Sampah (KLHK). Jauh lebih lama dari waktu kita menghabiskan isinya.

Sejarahnya pun sederhana. Air minum dalam kemasan di Indonesia bermula ide dari Tirto Utomo, seorang pria dari Wonosobo, yang ingin menyediakan air layak bagi tamu asing yang kesulitan meminum air lokal. Dari situ lahir produk yang kemudian dikenal luas. Awalnya terbatas, lalu tumbuh, dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perkembangan kota ikut mempercepatnya. Ruang hijau menyusut, sumber air bersih semakin sulit dijangkau, dan kemasan menjadi jawaban yang dianggap paling masuk akal. Kita tidak lagi sekadar memilih—kita bergantung.

Baca Juga:Kebohongan Kota

Saat pernah meliput banjir, saya selalu melihat pejabat yang datang menemui warga, di tangan selalu membawa kemasan botol air. Tapi sebelum lebih jauh, masalah ini hanya sebatas saluran air yang tersendat, akibatnya merendam sejumlah rumah warga. Walaupun telah tertangani selokan nya, pejabat tersebut malah justru meninggalkan bekas botol air minumnya ketika pulang.

Dan disitulah lingkaran itu terasa utuh. Air yang seharusnya mengalir, tertahan oleh sesuatu yang kita buang tanpa pikir panjang. Kita kembali bertanya-tanya tentang sebab banjir, padahal jawabannya, mungkin, pernah kita genggam sendiri.