poskomalut.com
baner header

Eksperimentas Politik Anak Muda NU

Jasri Usman

“Upaya Memotong Matarantai Politik Dinasti”

Oleh : Burhanudin Pitajaly

Sebagai kader PMII dan anak muda Nahdlatul Ulama, sudah menjadi pengilan moral bagi saya secara pribadi. Kenapa penting melihat Jasri Usman sebagai Politisi dan figur tepat, untuk dipertimbangkan/dukungan dalam agenda politik electoral Kota Ternate di 2020 mendatang.

Bahwa ada banyak kekurangan dari sisi Sahabat Jasri Usman bagi saya itu manusiawi, sebab itu tidak ada Politisi yang benar-benar sempurna apalagi dalam konteks Politik. Oleh sebab itu tidak ada salahnya, kita bersepakat untuk mendorong Sahabat Jasri Usman.

Karena dalam Politik selalu ada ruang untuk kita kelola berbagai kemungkinan. Posisi Sahabat Jasri sebagai Politisi senior sekaligus simbol Politik anak Muda NU Maluku Utara, Selain itu ada dimana mekanisme electoral memberi standar yang sama tanpa ada diskriminasi. Artinya bahwa setiap warga Negara memiliki kesempatan yang sama dalam partisipasi Politik (dipilih atau memilih).

Bagi saya ini menjadi peluang terbaik di internal anak Muda NU, untuk mengambil bagian serta menyatukan persepsikolektif, dengan tekat yang bulat mendorong Sahabat Jasri Usman sebagai kompetitor dalam Pilkada mendatang di kota Ternate. Dan ini akan menjadi ukuran kolektif kita kedepan seberapa solid dan kuat anak muda NU jika mengikuti kontestasi politik electoral.

Agar supaya kelak, kita memiliki subuah gambaran yang utuh serta objektif seberapa gregetkah kekuatan anak Muda NU dalam mengekspolrasi ruang politik elektoral. Eksperimentasi seperti ini bisa saja tidak begitu dihitung orang, atau bisa pula dilihat sebelah mata. Namun ini penting harus kita coba,karena ada kesempatan yang sangat terbuka.

Dan saya pribadi sadar bahwa dalam kontestasi politik elektoral tidak sesederhana yang kita lihat, bayangkan, atau kita asumsikan. Tetap saja ada kerumitan, apakah itu tarik menarik kepentingan, saling menelikung, dan sebagainya.

Namun ini ruang yang juga tidak mungkin kita tingalkan, yang pasti sebagai anak Muda NU. Kita memiliki Fatsun Politik yang telah terbagun “bahawa politik harus menjadi keniscayaan” Atau politik harus menjadi jalan menuju kemaslahatan.

Itu sebab kenapa Sahabat Jasri Usman layak kita dorong, dengan segala kelemahan dan pontensi internal yang hari ini kita miliki. Pertimbangan lain mendorong Sahabat Jasri Usman adalah kita membari alternatif pilihan pada publik Kota Ternate, karena sejatinya penguatan Demokrasi itu menjadi baik apa bila terputuslah mata rantai Politik Dinasti yang makin mengalami penguatan di aras lokal.

Mengajukan nama Sabahat Jasri Usman dalam kontestasi electoral 2020, kita tidak memberi cek kosong pada public Kota Ternate. Karena Sahabat Jasri Memiliki kompetensi, serta jejaring yang luas, itu sudah cukup menjadi alasan bagi saya pribadi, untuk memberi konteks pada Sahabat Jasri Usman untuk didorong dari Internal anak muda NU.

Argumentasi di atas menjadi penegasan cara berpolitik kita anak muda NU, yang tidak milihat politik electoral hanya pada sisi kekukasan semata, akan tetapi ruang tersebut harus diisi dengan gagasan yang futuristic dan Value edukasi kepada publik. Agar kedepan Politik electoral, menjadi jalan bagi kemaslahatan bersama.

Memotong Mata Rantai Politik Dinasti

Pasca reformasi, dan runtuhnya otoritarianisme. Politik electoral kita mengalami koreksi yang cukup serius, dimana dalam politik electoral Pemilihan secara langsung menjadi buah dari reformasi. Banyak elit nasional sebenarnya kalau ditelisik merupakan hasil dari produk Pemilihan langsung ditingkat Pilkada.

Alasan pemilihan secara langsung secara konseptual, mencoba memberi kerangka teortik pada penguatan Demokrasi, termasuk di aras lokal. Akan tetapi sampai hari ini Politik Dinasti, masih sangat kuat dalam politik electoral khususnya di lokal.

Menjadi tidak sehat, serta pertumbuhan Demokrasi akan makin buruk apabila Politik Dinasti masih saja mengakar dalam kontestasi electoral mendatang. Ini sebentulnya problem serius, karena itu harus ada komitmen serta kesepahaman dalam menolak Politik Dinasti.

Dalam studi Politik, berkaitan dengan Politik Dinasti atau bisa juga diartikan sebagai kekuasaan yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih memiliki pertalian keluaraga, atau identik dengan kerajaan. Kekuasan bersifat turun temurun diwariskan, apa jadinya situasi semacam ini terus dibiarkan.

Menurut Dosen ilmu politik Fisipol UGM, A.G.N. Ari Dwipayana, Tren politik kekerabatan itu sebagai gejala neopatrimonialistik. Benihnya sudah lama berakar secara tradisional. Yakni berupa sistem patrimonial, yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis, ketimbang merit system, dalam menimbang prestasi.

Kini disebut neopatrimonial, karena ada unsur patrimonial lama, tapi dengan strategi baru. “Dulu pewarisan ditunjuk langsung, sekarang lewat jalur politik prosedural.” Anak atau keluarga para elite masuk institusi yang disiapkan, yaitu partai politik.Oleh karena itu, patrimonialistik ini terselubung oleh jalur prosedural itu, patrimonialistik ini terselubung oleh jalur prosedural 

Dinasti politik harus dilarang dengan tegas, bahkan dalam konteks regulasi harus dibuat jelas. Agar tidak menjadi konflik kepentingan dalam mengelola kekuasan untuk kemaslahatan. Karena jika makin maraknya praktek ini di berbagai pilkada, dan pemilu legislative. Maka proses rekrutmen dan kaderisasi di partai politik tidak berjalan sehat.

Jika kuasa para dinasti di sejumlah daerah bertambah besar, maka akan kian marak korupsi sumber daya alam dan lingkungan, kebocoran sumber-sumber pendapatan daerah, serta penyalahgunaan APBD dan APBN. 

Dalam konteks Maluku Utara Politik Dinasti sengaja dipelihara, dan bahkan sudah menjadi lumrah. Pada sisi ini Politik Dinasti memberi tanda pada publik kalau dalam istilah jawa“Honocoroko”atau saling menjaga kenikmatan sesame elit, keluarga, atau kelompok tertentu. yang ingin, mempertahan kekuasaan dilingkaran mereka.

Oleh karena dengan segala alasan yang dikemukakan diatas, sekali lagi mandorong Sahabat Jasri Usman adalah tepat dalam kontestasi elektoral. Sebagai upaya menolak Politik Dinasti, dan memberi rangsangan pada penguatan Demokrasi di aras lokal. Dengan menghadirkan alternatif pilihan pada publik Kota Ternate dalam memberikan mandat politik untuk Lima Tahun kedepan.***

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: