poskomalut.com
baner header

Tahun 2019, Perkara Perceraian di Kota Ternate Capai 1000

TERNATE-PM.com, Jumlah perkara perceraian pada pengadilan Agama Ternate dari Januari sampai dengan Desember tahun 2019 sebanyak 883 perkara, ditambah dengan sisa perkara di tahun 2018 sebanyak 29 perkara, sehinga keseluruhan perkara yang diterima dari Jaunuari hingga desember 2019 total sebanyak 912 perkara.
Dari jumlah perkara tersebut, perkara perceraian yang diputus sebanyak 783 perkara sehinga sisa perkara yang belum diputus pada tahun 2019 sebanyak 92 perkara.


Dari perkara masuk 883 perkara, dimana perkara E-COURT sebanyak 43 perkara, perkara SIDANG KELILING sebanyak 49 perkara, perkara E-LETIGASI 0 dan perkara PRODEO sebanyak 15 perkara, sedangkan sisanya adalah perkara BIASA sebanyak 776 perkara.
Dari perkara masuk 883 perkara, Putus sebanyak 783 perkara terdiri atas perkara E-COURT sebanyak 39 perkara, perkara PRODEO sebanyak 15 perkara, sisa perkara yang putus adalah perkara biasa sebanyak 729 perkara, dan sisanya 4 perkara yang baru didaftar di bulan desembar.


Saat dikonfirmasi poskomalut.com, Selasa (17/12/19) Andi Wanci, S.Ag, MH, selaku Panitera pengadilan Agama Ternate Kelas I B mengatakan, ada beberapa faktor terjadinya penceraian di Kota Ternate. “Perselisihan pertengkaran, adanya pihak ketiga, masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan juga minuman keras itulah faktor-faktor yang menyebabkan sehinga terjadinya penceraian,” jelasnya.
Ia menjelaskan, dalam proses pengajuan penceraian kebanyakan Perempuan yang mengajukan penceraian dibandingkan dengan Laki-Laki akan tetapi tidak terlalu signifikan perbandinganya. “Rata-rata usia yang mengajukan penceraian itu di usia produktif mulai dari uisa 30 tahun sampai 40 tahun,”ungkapnya.


Ia mengharapkan, agar ditahun 2020 nanti tingkat penceraian di Kota Ternate, semakin menurun dengan cara, pasangan suami istri harus berfikir positif untuk menyelesaikan masalah rumah tangga, intropeksi, meluruskan kesalahpahaman, diskusi masalah dengan pasangan, dan jangan terburu-buru mengambil kesimpulan dengan melakukan gugatan penceraian. “Untuk itu kami dari pihak Kementrian agama selalu melakukan mediasi terhadap perkara penceraian yang diajukan, kita menghendaki agar perkara yang diproses itu harus senantisa melakukan mediasi atau perdamaian terhadap pengajuan perkara perceraian sehinga tidak terjadinya perceraian, dan itu kita lakukan untuk menekan tingkat penceraian saat ini, dan kedepanya kita lebuh bekerja keras lagi untuk menurunkan angka penceraia yang ada dikota ternate,” jelasnya. (Cr03/red)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: