TOBELO-pm.com, Presiden Direktur (Presdir) PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) Hi Robert Nitiyuwdo nekat menghabiskan uang US 19 juta dolar atau Rp250 miliar membangun pabrik pengolahan limba tercanggih di dunia yakni Pabrik Dry Stack Tail (DST) Plant PT NHM.
Pabrik DST yang dibangun Perusahaan PT Petrosa itu bakal memberikan manfaat besar bagi masyarakat lingkar tambang PT NHM.
Manfaat itu, karena limba yang bakal dikelola melalui pabrik tercanggih pertama didunia yang baru dimiliki PT NHM itu, mengolah limbah menjadi batu bata dan atap genteng, serta keramik lainnya. Hi Robert tulus bakal memberikan hasil limba berupa batu bata dan genteng itu ke masyarakat lingkar tambang lima Kecamatan Kao Malifut.
Di mana DST sendiri ditindaklanjuti berdasarkan aturan PP nomor 22 tahun 2021 bahwa penempatan lomba B3 sumber spesifik khusus dapat ditempatkan penyimpanan sementara 365 hari, pembuangan DSTP, dan penimbunan permanen.
Haji Robert pada kesempatan peresmian tersebut mengatakan bahwa DST yang diresmikan berfungsi untuk membersihkan buangan dari pabrik sehingga tidak lagi menggunakan railing dump.
“Pabrik DST yang diresmikan merupakan paling pertama di dunia dan khususnya di Indonesia serta hanya dimiliki PT NHM,” jelas Haji Robert,” Kamis (02/02/2023).
Diketahui, DST akan beroperasi dengan tahapan, yakni pengumpanan di mana Slurry dimasukkan ke dalam filter press sampai tekanan mencapai 10 menit, kemudian peremasan dimana padatan yang sudah masuk filter press akan diproses dengan tekanan, sehingga filtrate berpisah dengan tailing padat selama enam menit.
Selanjutnya masuk pencucian, kemudian tailing padat dipisahkan dari filtrate yang mengandung sianida maka tailing padat bakal dicuci terlebih dahulu untuk memastikan kandungan sianida di dalamnya kurang dari 10 menit.
Tahapan selanjutnya, hembusan udara, dimana setelah dicuci tailing padatan akan dikurangi kadar airnya, ditiupkan udara ke dalam filter press sebelum dilepaskan ke conveyor. Setelah itu, tahapan pelepasan tailing atau limbah B3, dimana tailing yang sudah kering dengan kadar air kurang 20 persen akan dilepaskan ke konveyor yang bergerak di bawah filter press.
Sementara conveyor itu akan membawa menuju stockpile tailing kering selama 8 menit.
“Proses tahapan teknologi pabrik DST ini, memiliki keunggulan tersendiri. Selanjutnya, hasil toksin sudah sangat aman. Dari filter ini kita balikan lagi untuk diolah,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan