Oleh Marwan Polisiri (Ketua Persakmi Maluku Utara)
Saat saya menyebut Krimea, yang terlintas di pikiran kita adalah Rusia dan Ukraina, karena saat ini Krimea di aneksasi oleh Rusia, padahal secara sah merupakan bagian dari Ukraina. Semenanjung Krimea, dikenal pula sebagai Krimea, adalah suatu daratan besar yang terletak di ujung timur Eropa dan terdiri dari Ukraina dan Rusia. Krimea terletak di wilayah paling timur, berbatasan di selatan dengan Laut Hitam membentuk ujung selatan semenanjung, menghubungkannya dengan keseluruhan Eropa. Tulisan ini tentunya tidak untuk membicarakan soal perang, tapi saya ingin mengingatkan kita semua bahwa sejarah Perawat dimulai dari tanah Krimea. Pada tahun 1854, terjadi Perang Krimea (perang antara Inggris, Prancis, Turki, dan Rusia). Menteri Perang Inggris, menugaskan Florence untuk datang ke Krimea dan mengobati tentara yang terluka. Ketika sampai, Florence melihat para tentara yang terluka ditempatkan di rumah sakit yang kotor, kurang air bersih, kurang obat, dan kurang makanan. Akhirnya, banyak tentara yang meninggal karena infeksi.
Siapa Florence Nightingale
Pada awal abad ke-19, pekerjaan perawat kurang dihargai. Para perawat tidak diberi pelatihan dan tidak dibayar, meski telah melakukan tugas yang berat. Namun, semua itu berubah berkat Ibu Florence Nightingale, ibu para perawat. Florence terlahir di dalam keluarga kaya. Ayahnya adalah seorang Bankir yang cukup sukses. Di zaman itu, anak perempuan tidak mendapat pendidikan. Namun, Ayah Florence ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan. Jadi, Florence dan saudaranya belajar sejarah, matematika, dan ilmu pengetahuan lainnya. Saat berusia 16 tahun, Florence memberitahu Ayahnya bahwa dia ingin menjadi perawat. Ayah Florence tidak senang dengan keinginan Florence. Di masa itu, perawat adalah pekerjaan yang kurang terhormat. Selain itu, tempat kerjanya (rumah sakit) merupakan tempat kotor dan dihuni banyak orang sakit yang meninggal. Florence terus membujuk ayahnya kalau ia ingin menjadi perawat. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Ayah Florence menyerah dan mengizinkan Florence menjadi seorang perawat. Pada tahun 1851, Florence mendapat pendidikan yang berhubungan dengan keperawatan di sebuah sekolah Kristen, di Jerman. Karena suka menjenguk pasiennya di malam hari sambil membawa lentera, Florence pun dijuluki Lady with the Lamp.
Menjadi seorang perawat memang sulit, karena itulah, perawat disebut sebagai salah satu pekerjaan yang mulia.
Ternyata malaikat kerap mendoakan dan beristigfar untuk manusia. Namun tidak sembarangan, mereka akan memilih manusia yang melakukan amal kebaikan saja. Tidak hanya satu malaikat, manusia pilihan itu bahkan bisa mendapatkan doa dari 70.000 malaikat sekaligus. Amalan untuk mendatangkan nikmat ini tergolong ringan. Namun keutamaannya tentu sangat besar dibandingkan dengan doa dan istigfar yang dilakukan manusia. Amalan terbaik itu adalah menjenguk Orang Sakit.
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Siapa yang mejenguk orang sakit, ia terus dalam naungan rahmat sehingga duduk. Maka apabila ia duduk, ia tenggelam ke dalamnya.” (HR. Ahmad. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah, no. 2504)
Jika menjenguk saja merupakan Amalan mulia bagimana dengan segala ketulusan dan dedikasi Perawat selama 24 Jam merawat Pasien, jadi tidak berlebihan jika saya mengatakan Perawat “Tidak Dihargai di Bumi,tapi Mulia di langit”
Tugas Perawat
Tugas utama seorang perawat adalah merawat pasien, mulai dari Pertama; mengurus keperluan pasien untuk buang air, mengganti infus, dan lain-lain. Belum lagi kalau pasien ada terluka sampai darah pasien membekas di baju perawat. Karena itulah, perawat bisa jadi sering bersentuhan dengan benda-benda kotor. Kedua; Tak hanya menjaga pasien, ternyata perawat juga menjaga keluarga pasien. Biasanya, pasien yang dirawat di rumah sakit ditemani oleh keluarga mereka. Nah, tak jarang, perawat juga membantu keluarga pasien dengan memberikan selimut tambahan atau bantuan lain yang dibutuhkan keluarga pasien. Ketiga; tugas lain dari perawat adalah mengetahui catatan medis pasien yang dirawatnya. Maka itu, bisa jadi seorang perawat harus membawa sebuah kardus berat berisi catatan medis para pasien. Atau bisa juga mengangkat benda-benda medis lainnya yang mungkin berat. Keempat: perawat juga sering harus bekerja di luar jam kerja atau lembur. Kalau pasien yang dirawatnya tidak bermasalah, mungkin perawat bisa pulang sesuai jadwal. Namun, kadang perawat juga harus bekerja melebihi waktunya saat dalam kondisi darurat. Misalnya, sepuluh menit sebelum waktu kerjanya selesai, tiba-tiba ada pasien yang mengalami kejang-kejang. Tentu saja perawat itu tidak bisa pulang dan harus merawat pasien sampai benar-benar pulih.
Duka Perawat saat Covid-19 (Mengutip Testimoni Perawat Covid-19)
Dukanya banyak tenaga medis yang selalu di cap negatif , banyak juga paramedis yang sudah gugur karna pandemi ini, banyak juga yang sedang di rawat. Kami juga sempat memakai pita hitam saat bekerja sebagai bentuk duka kita kepada teman sejawat yang sudah gugur dan yang sudah bekerja sangat keras di garda terdepan. Dan lebih parah ketika pasien sudah tidak jujur dengan kondisinya dan kita terekena imbasnya dan kita tidak bisa bertemu keluarga karena kita paramedis ini adalah ODP atau bisa menjadi PDP,” tuturnya.
Pengalaman sedih lainnya, Aneu menambahkan, dia dan rekan-rekannya, terkadang harus berhadapan dengan pasien yang tidak mengaku jika ia mengalami gejala virus Corona. Peristiwa yang membuat dag dig dig karena kelakuan pasien tersebut pun pernah dialaminya.
“Waktu kita menerima pasien operan dari ICU untuk operasi, pasien tersebut tiba-tiba arrest (henti jantung-red). Kita panik dan sudah dilakukan RJP atau emergency. Akhirnya nggak ketolong. Aku dan temen-temen akhirnya membungkus pasien pakai APD, saat keluarganya masuk, istrinya shock pingsan dan kita pun udah lelah banget, sampai rumah pun masih keinget,” cerita Aneu. Aneu mengisahkan cerita lain ketika berhadapan dengan paasien yang tidak jujur dengan penyakitnya. “Ada juga kita kecolongan kalo pasien itu ternyata PDP. Kita semua panik, nggak ada satu pun yang pakai APD lengkap kecuali masker dan sarung tangan, pasien sempet arrest di meja operasi,” ujarnya.
Bukan hanya soal pasien kendala yang dihadapi Aneu setiap harinya. Memakai baju APD berlapis-lapis juga membuat dirinya dan rekan-rekan kerjanya merasa sesak. Dengan berbagai duka yang dijalaninya setiap harinya itu, Aneu tetap semangat menjalani pekerjaannya. Baginya sebagai tenaga medis, dia harus menolong sesama manusia. Dan dia berharap apa yang dilakukannya ini bisa menjadi ladang pahala untuknya dan rekan-rekannya. (**)



Tinggalkan Balasan