Penting sekali bagi setiap politisi apalagi mereka yang turun bertarung di arena Pilkada, mengingat benar apa yang pernah mereka ucapkan di waktu yang lalu. Dari awal kami berpikir pasangan BAGUS sudah game over ketika Kaukus Parlemen tak sehati mengusung satu pasangan calon. Jika kita lacak kembali jejak digital Basri Salama dalam beberapa media online tentang sikapnya maju pada Pilkada Tidore Kepulauan (Tikep) 2020.
Di Nusantaratimur.com misalnya berita tertanggal 16 oktober 2019 yang diberi judul ‘Basri Salama Maju Calon Walikota Tidore’ beliau coba menguraikan alasan dan gagasannya mengapa memutuskan maju bertarung pada Pilkada kali ini. Sebagai jubir AMAN saya kira penting mengingatkan kembali penegasan yang pernah dia lakukan, kutipannya; Saya (Basri Salama) memberikan pernyataan bahwa kalau ada diantara kami ini lalu muncul tiga pasangan, tentunya saya orang pertama tidak akan maju. Parpol yang tergabung dalam Kaukus Parlemen waktu itu bersepakat menggunakan indikator survei dalam menetukan jagoan mereka untuk menantang Petahana, Basri Salama kemudian menutup dengan kalimat cukup intimidatif dalam berita tahun 2019 tersebut “Saya akan menjadi bagian untuk pemenang yang bersangkutan, jikalau lebih dari dua pasang calon, saya akan menarik diri dari pencalonan.” Tenang namun cadas kata-kata yang diucapkan.
Ingatan manusia memang pendek karena itu Bung Karno sering mengingatkan ‘JASMERAH’. Ucapan Basri Salama tahun lalu menurut saya bukan kata-kata tak bermakna, karena pasti apalagi sebagai politisi nasional sudah dipikirkan matang-matang sebelum mengeluarkan statement. Ada maksud yang mudah kita tangkap, bahwa jika Pilkada digelar dengan tiga pasang maka Basri Salama sudah pasti kalah, karena itu lebih baik menarik diri lebih awal, ia menginginkan pertarungan head to head karena kemungkinan menang bisa terjadi. Karena itu ketika Salamat yang lebih dulu mendapatkan tiket untuk lolos persyaratan calon di KPU desember nanti, hitungan calon penantang kedua petahana tak ada lagi, selesai! Basri mungkin sudah memilih jalan sunyi dan memilih menitip gagasan-gagasannya pada mereka calon kandidat Pilkada yang lolos .
Tapi begitulah politisi juga politik selalu ada kejutan diinjury time (waktu terluka) dan kejutan itu belum selesai rupanya ketika muncul dengan brand BAGUS, seperti ucapan dan pernyataannya disebuah media malam ini, judulnya cukup provokatif ‘Bagus nilai pasangan petahana Tidore bukan lawan berat. Alasan Bagus karena visi dan misi Petahana tidak pernah jalan, tidak sikron visi agromarine, bahkan kata Basri dalam berita tersebut menyebut ada lembaga survei kridibel merilis hasil bahwa yang tahu tentang visi agromarine itu hanya 2% dan 98% masyarakat tidak tahu. Basri tidak menyebut secara spesifik nama lembaga survei, tapi jika menyebut beberapa maka sudah pasti lembaga surveinya lebih dari satu. Sayangnya, dalam berita tersebut tak ada infografis yang disertakan, sehingga data lembaga survei mana yang dipakai tak bisa kita lihat.
Saya kemudian berpikir, mungkin karena pasangan Bagus jarang berada di Kota Tikep sehingga bisa jadi tak memiliki data lain sebagai pembanding atas beberapa problem yang diucapkan semisal pertanian dan perikanan, sehingga akhirnya memberi penilaian yang salah.
Ditahun 2019, produksi pertanian dan perkebunan Tikep mengalami peningkatan dari 26.974 ton diawal RPJMD menjadi 38.045 ton melewati target RPJMD 26.986. Sementara untuk produksi perikanan daerah diawal RPJMD 15.896 ton naik menjadi 16.890 ton. Sedangkan olahan hasil perikanan 4.848 ton diawal RPJMD naik menjadi 6.520 ton di tahun ini. Sementara itu capaian 6 Misi RPJMD 2016-2021 berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) RPJMD secara keseluruhan realisasi sudah diangka 96,34 persen. (Sumber Bappelitbang Tikep). Jadi jika dibilang Basri, Visi dan Misi Petahana tidak jalan sangat tidak mungkin ada kenaikan produksi baik sektor Agro maupun sektor Marine.
Soal kinerja pemerintah, pada survei 2 lembaga kridibel, temuan Charta Politika misalnya, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemkot Tidore tergolong cukup baik, berada diantara 60-70 persen. Pada lembaga survei lain, Indobarometer merilis tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Capt. Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen yakni 70-80 persen.
Karena itu jika BAGUS merasa melawan petahana adalah pekerjaan yang mudah dengan indikator visi misi dan kinerja pemerintahan AMAN, sesungguhnya itu
konklusi paling keliru.
Salam jubir AMAN
Ardiansyah Fauzi




Tinggalkan Balasan