“Para politisi acap kali mengatasnamakan rakyat, untuk memenuhi kehendak politiknya. Sementara para aktifis dan parlemen jalanan acap kali bertindak demi rakyat, untuk memenuhi hasrat perlawanan pribadi mereka sendiri. Maka kehendak rakyat itu, menjadi simpang siur ditengah gelombang demokrasi” Jun
Semua bermula dari dunia digital yang terlalu luas dan sulit dikendalikan dalam masa-masa berkembangnya Demokrasi di Indonesia. Sehingga membuat semua orang bisa secara terang-terangan atau bahkan secara sembunyi-sembunyi dengan mudah mempolarisasi informasi teknologi. Baik itu yang berdasarkan fakta empirik, persepektif subjektif bahkan narasi palsu untuk mempengaruhi discursus publik. Tak terkecuali, mereka yang berlebel politisi maupun aktifis.
Tulisan ini, dibuat disela-sela kesibukan penulis dalam mengikuti perkembangan politik di Kota Tidore Kepulauan, sembari berupaya untuk menghatamkan “The Prince”nya Micheaveli untuk yang kesekian kalinya. Sehingga mungkin saja dalam penulisannya nanti ada sejumlah interaktif gagasan antara “The Prince” dengan fakta empirik saat ini. Termasuk gagasan yang penulis tuliskan di awal tulisan ini.
Selain itu, dalam beberapa bulan terakhir kami selalu mengikuti perkembangan wacana terkait post truth, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi kalobaratif antara konsep-konsep itu. Bahkan kesengajaan memilih judul pada tulisan ini juga menjadi bagian daripada kaloborasi itu, yakni kalaborasi antara fakta politik kota Tikep saat ini, hegemoni perebutan kekuasaan demokrasi dan hegemoni discursus politok yang masih simpang siur anatara fakta dan fiktif.
Sehingga untuk memulai tulisan ini, kami akan membeberkan sejumlah fakta kepemimpinan Petahana, Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen pada periode tahun politik sebelumnya.
Dimana, berdasarkan data survei tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen menunjukan angka kepuasan masyarakat Tidore diantara 70-80 persen. Hal ini tidak mustahil sebab didukung dengan fakta Indikator Kinerja Utama (IKU) RPJMD yang terlaksana hingga 96,34% dari target yang ditentukan 70% realisasi.
Disisi lain, fakta bahwa peningkatan produksi pertanian yang meningkat tajam dari target RPJM 26 Ton lebih dengan capaian akhir RPJMD 38 ton lebih. Begitupun dengan produksi di bidang perikinan dan kelauatan yang juga melebihi angka yang ditargetkan dalam RPJMD. Dan Human developmen Indeks (HDI) atau biasa disebut dengan IPM oleh kalangan elite Tidore, menunjukkan adanya angka kenaikan.
Artinya bahwa fakta menunjukkan kepemimpinan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen pada jilid I dalam visi Agromarine terbilang sukses. Sementara jika kita mengikuti perkembangan politik saat ini, isu kepemimpinan AMAN gagal begitu kuat dihembuskan oleh pasangan nomor urut 1 dan nomor urut 3.
Bahkan setelah kami mendalami sejumlah orang yang turut menyebar isu kegagalan petahana itu, ternyata mereka hampir tidak memiki referensi terkait sukses tidaknya sebuah kepemimpinan, baik secara regulatif maupun secara teoritik. Bahkan sebagian dari mereka mengaku hanya ikut-ikutan menyebarkan isu itu karena ingin kandidat yang didukungnya menang.
Sampai disini kami berkesimpulan bahwa discursus politik yang bisa dibilang hoaks ini, sengaja digulirkan oleh aktor-aktor tertentu untuk membangun ketidakpercayaan publik terhadap pasangan petahana. Hal ini tentu juga membuat kami sadar terhadap posisi Micheaveli di situasi saat ini dengan perspektif hegomoninya yang tertuang dalam “the prince”.
Tak tanggung-tanggung dengan didorong oleh keinginan untuk membuktikan fenomena post truth. Kesimpulan sementara itu kemudian dipertajam lagi sehingga kami sampai pada kesimpulan bahwa untuk mengelabui rakyat para politisi tidak jarang berbicara “atas nama” rakyat dan untuk menarik simpati rakyat para aktifis yang terbakar doktrin perlawanan terhadap kekuasan sering kali berteriak “demi rakyat”. Padahal kehendak rakyat sangat jauh dari apa yang mereka pikirkan itu.
Artinya bahwa dalam kontestasi politik tahun 2020 ini adalah kontestasi masyarakat Tidore melawan hoaks dan Fitnah. Sehingga, kemenangan AMAN bersama rakyat Tidore adalah kemenangan dalam peperangan di medan post truth.
Untuk melengkapi tulisan ini, kami sekali lagi ingin mempertegas bahwa fenomena masa kampanye AMAN Jilid II di Sofifi (malam ini), Tului, Kusu Sinopa, Gurapin dan sejumlah titik di daratan Oba adalah fakta bahwa rakyat sangat berkehendak agar pasangan Petahan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen masih tetap memimpin Kota Tidore Kepulauan.
Fenomena ini sekaligus menunjukan militansi masyarakat Oba dalam berperang melawan hoaks dan fitnah. (**)



Tinggalkan Balasan