Di persimpangan hati yang penuh dilema,
Aku bersandar pada pagar yang hampir roboh,
Ku kira tiangnya tertancap kokoh sebab berdiri tegak,
Nyatanya tidak.
Dari luasnya halaman, mata ku tertuju pada selembar pintu tua yang warna nya sudah begitu kusam dan tak lagi layak,
Ku pandangi sebaik – baiknya,
Dan ya rasa kecewa pun terasa jelas, dalam hati pun berkata ini bukan milik ku, ini titipan bahkan ku kira ini selamanya nyatanya berakhir sia-sia,
Mengapa..?
Kau robohkan rumah kita.?
Tempat aku dan kamu menitip lelah dengan banyak keluh kesah,
Mengapa, kau biarkan aku terombang-ambing di jalan kembimbangan tanpa memberi kejelasan,
Mengapa dia datang menyita semuanya bahkan lukisan kenangan kita.?
Hampir tak percaya,
Rumah yang terbangun hangat penuh pengharapan SAKINAH, MAWADDAH, WARAHMAT terlepas begitu saja tanpa berpamitan,
Bahkan pengharapan indah yang tertata rapih pada tempat yang ku anggap rumah dalam sekejab kau robohkan tak tersisa,
Baiklah, silahkan berjalan,
Kemarin tempat ini boleh milik kita, tapi tidak dengan sertivikatnya,
Pergilah, akan ku benahi semuanya
Tak usah kau menoleh kebelakang
Sebab kau tak lagi butuh kita
Lanjutkan berpindah, sebab kau bukan lagi Rumah yang harus ku singgah.


Tinggalkan Balasan