Merasa Ditipu Soal Penjualan Lahan, Politisi PKS Terpaksa Pidanakan Satu Warga Juanga Morotai

Keluarga Suhari Lohor kembali mengukur lahan yang sudah digeser oleh Suhudu, salah satu pemilik lahan, Sabtu (25/6/2022).

MOROTAI-PM.com, Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Morotai, Suhari Lohor, terpaksa mempidanakan Suhudu, salah satu warga Juanga ,Kecamatan Morsel. Suhari yang juga berkapasitas sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Morotai itu terpaksa melaporkan Suhudu ke penyidik Reskrim Polres Morotai lantaran diduga kuat melakukan penipuan terhadap dirinya terkait penjualan tanah yang tidak sesuai dengan luasan, termasuk pergeseran patok tanah yang berbeda dari penjualan awal.

Suhari melalui kuasa hukum, Mukibar Barakati kepada media ini menegaskan, bahwa kliennya membeli lahan kepada Suhudu tahun 2016 seluas 45x25. Hanya saja saat dipersidangan, Suhudu memberikan keterangan yang diduga kuat adalah palsu.

"Pak Suhari beli ke Suhudu itu ukurannya 45x25, tapi saat dia buat surat jual beli itu bukan itu, dia isi 45x15. Karena salah pengetikan, maka dibuatlah surat keterangan kedua yang isinya salah pengetikan, karena yang benar adalah 45x25 surat kedua itu ditandatangani Suhudu di atasi materai. Hanya saja, saat dipersidangan, Sahudu hanya mengaku tanah milik Suhari hanya 45x15, maka itu Suhudu terpaksa dilaporkan ke pihak kepolisian,"katanya.

Selain salah penulisan, yang paling parah adalah Suhudu diduga kuat memberikan keterangan palsu atau pembohongan soal objek tanah yang berbeda tidak sesuai dengan surat jual beli semula.

"Sebab tindakan Suhudu itu telah melakukan ada dua hal yang patut diduga, yang pertama objek yang sebenarnya milik Suhari berdasarkan surat kepemilikan tanah atau surat jual beli pada tahun 2016 lalu. Kemudian diperkuat dengan surat pernyataan pada tahun 2019 itu. Secara tegas dan jelas menurut beberapa keterangan saksi atau asal muasal kepemilikan tanah dalam hal ini Pak Ante Idi dan anaknya Marsal (pemilik tanah) menegaskan bahwa objek tanah itu sebenarnya berbatasan dengan Suhudu dan Nursina,"jelasnya.

Tetapi berdasarkan fakta di lapangan, sebagaimana hasil TKP yang di lihat secara bersama, objek yang sebenarnya milik Suhari Lohor. Namun, tanah itu sudah ditempati oleh Sunardi Barakati dan Nursina.

"Maka hemat saya dari perbuatan Suhudu itu, patut diduga karena telah melakukan serangkaian tindakan kebohongan atau penipuan berdasarkan Pasal 378 KUHP," terang Mukibar.

"Maka saya meminta kepada Kapolres Pulau Morotai atau penegak hukum, agar lebih tegas untuk menindaklanjuti kasus ini. Sebab, klien saya dalam hal ini Pak Suhari Lohor, dari tindakan Suhudu menunjukkan objek yang salah dan telah membuat klien saya namanya sudah tercemar di mana-mana. Bahkan, membuat dirinya malu, keluarga dan anak-anaknya," sambungnya.

Sementara itu, Ante Idi yang juga pemilik tanah mengungkapkan, bahwa dirinya menjual lahan dua kapling kepada Suhudu dengan ukuran 60x25 dan 45x25. Jika dua kapling itu ditotalkan maka Suhudu memiliki lahan 105x25 meter.

"Tahun 2013, Suhudu beli tanah ke saya dua kapling 60x25 dan 45x25 total 105x25. Yang 45x25 itu harganya 20 juta, kalau 60x25 saya lupa harganya,"ungkapnya.

Ia mengaku, sewaktu Suhudu menjual lahan kembali dirinya tidak dilibatkan dalam pengukuran termasuk saat persidangan dalam kasus pun tidak dihadirkan.

"Waktu itu juga kalau dong (mereka) ukur kong saya ada di sini, maka saya akan cegah dan saya juga tidak tahu kalau dorang ukur itu. Sebab, Suhudu punya tidak ada di sini. Saya akan bilang, ini bukan Suhudu punya. Dia punya hanya batas di sini dan selama masalah ini mereka tidak libatkan saya di persidangan, nanti kemarin beberapa hari yang lalu baru saya dipanggil dari Polres untuk memberikan keterangan, bahwa Suhudu punya hanya dua kapling saja yang pernah saya jual ke dia," akunya.

Ia mengungkapkan, ketika dirinya dimintai keterangan pihak Polres beberapa waktu lalu, Suhudu meminta bantu dirinya untuk meringankan dalam hal masalah tanah.

"Tapi, saya bilang mohon maaf pak Suhudu, saya sudah tidak bisa bantu lagi karena tanah (lahan) itu sudah terjual semua. Hari ini kalau belum dijual (kosong) berarti saya bisa bantu. Itu yang saya bilang di Suhudu waktu dia minta bantu itu. Tapi, ini kan orang punya, kalau saya jual berarti saya pidana, dia maunya kasih pindah titik lokasi itu," pungkasnya.

Komentar

Loading...